Day 20 - Post about three celebrity crushes
Tulisan seperti ini sudah pernah saya buat sebelumnya. Jadi yang ini saya kembangkan dari sana saja ya? tidak ditulis dari awal. Sebagai bonus saya tambahin satu deh, jadi empat?
4. Jung So Min Nuna ini bisa adalah pintu masuk saya ke dunia per-fan-boy-an. Saya menonton Because This Is My First Life saat saya belum menikmati musik kpop seperti sekarang. Jadi bisa dibilang ini mbak ini semacam crush pertama saya di Industri ini. Mulanya yang bikin saya kepincut gara-gara karakter yang ia mainkan. Persisten, gigih, tidak kalah, tidak lemah. Sifat itu dimiliki oleh Jiho, karakter yang ia mainkan. Selain hardworking soal karirnya, Jiho juga melawan stereotip bahwa perempuan harus sekedar menunggu saja. Jiho melakukan sesuatu untuk memperjuangkan apa yang ia inginkan dan ia yakini. Bahkan dalam konteks film itu jadi tukang setting, haha. Di luar karakter Jiho, Somin ternyata punya pesona yang berbeda. Tetap membuat saya kepincut meski karakternya tidak sekuat Jiho. Tidak banyak reality show yang mendatangkan Somin, sehingga satu-satunya media adalah akun instagramnya. Belakangan saya lihat Somin juga mulai membuat vlog. Tapi saya belum mengikuti karena tidak ada subtitle berbahasa Inggris.
3. Bae Suzy Oke. Siapa sih yang ndak kepincut Suzy? Kalau mau jujur-jujuran, Suzy harusnya memuncaki list para idol Koriya. Bukan saja punya popularitasnya yang mentereng, Suzy juga meng-carry grupnya seorang diri. Apalah arti Miss-A tanpa Suzy? Mau bilang Suzy tidak bisa menyanyi dan menari? Ya bisa dibuktikan dan didengarkan saja sendiri. Tapi aspek paling kuat dari Suzy ya auranya. Seakan ia born to be a star. Skornya nyaris sempurna. Mangap aja cakep kak. Apalagi kalau flexin. Dari beberapa interview juga orangnya tidak neko-neko. Ya kalau kemudian ada sisi akwardnya, siapa sih kak yang gak capek jadi pusat perhatian selama sepuluh tahun ini? Nation first love gitu. Menyaksikan eksistensi Suzy kemudian membuat saya menyadari, kadang Tuhan menghadirkan hal-hal yang imbalance, yang diluar akal sehat bukan untuk menunjukan dunia tidak adil. Tuhan menghadirkan hal-hal yang standout itu untuk menunjukan kebesarannya. Susah lah pokoknya kalau dijelaskan kata-kata tentang sulitnya saya berkata-kata setiap kali Suzy ngepost sesuatu di akun Instagramnya. Fyi, saya sudah selesai scroll akun Instagramnya sampai bawah sekali. Saya berharap karir Suzy panjang supaya saya bisa terus mengapresiasi dan menikmati seni yang ia hadirkan, juga sembari mengagumi ciptaan Tuhan :))
2. Jeung Eun Ji Eunji baru masuk list saya akhir-akhir ini. Setelah selesai Reply 1997, menyaksikan cover-covernya, kemudian menonton WGM Taemin dan Naeun, menelusuri perjalanan Apink dari tahun 2011, mendengarkan seluruh title track dan b-side mereka, menonton video mabuk mereka, dan tentu saja mendengarkan radionya Eunji. Lagi-lagi, yang membuat saya penasaran adalah karakter yang ia mainkan di Reply 1997. Karena film itu tayang tahun 2012, berarti yang saya saksikan adalah Eunji bertahun-tahun yang lalu. Saya sekedar penasaran saja seperti apa Eunji sekarang dan seperti personanya di luar drama. Berbeda dengan Somin, Eunji di dalam Reply sedikit banyak merupakan Eunji yang sebenarnya. Sama-sama orang Busan dan punya pribadi yang outgoing. Selain karena kemampuan vokalnya yang bikin pusing, personanya punya softspot sendiri buat saya. Jadi tanpa ragu-ragu ia masuk list saya. Saya literally sudah menonton semua hal yang bisa ditonton soal Eunji yang bisa saya tonton. Berbeda dengan celebrity crush lain yang hanya saya nikmati dalam konteks halu, menonton Eunji seperti menonton teman yang hardworking, gifted, dan masih belum berpuas diri. Saya yang eksistensinya tidak diketahui olehnya merasa punya teman untuk terus punya semangat positif, terutama soal berkarir. Saya kira bentuk ngefans terbaik pada para idol itu adalah dengan menjadikan mereka motivasi untuk terus jadi versi yang terbaik.
1. Myoui Mina of Twice Kalau ini udah ndak ada lawan. Bahkan Suzy pun ndak bisa menggeser Mina dari list pertama saya. Foto promosi varsity Twice yang baru dirilis kemarin, kemudian klip Twice Seize the Light yang akhir-akhir ini beredar semakin mengukuhkan bahwa Mina punya tempat khusus dalam perhatian saya. Mina adalah alasan mengapa akhirnya saya berani untuk menjalani kehidupan fanboy secara khusyuk dan terbuka. Semacam ingin bilang secara terbuka bahwa ada lho manusia seperti Mina. Penampilan jelas jadi salah satu kekuatan Mina. Beda, kak. Beda. Tapi alasan saya kepincut dengan Mina bukan penampilan fisiknya. Kalau kata orang-orang, personalitynya yang jadi faktor utama. Syukur industri koriya memberikan banyak sekali ruang bagi para fans untuk mengenal idolanya lebih lanjut. Mina adalah idol yang kontennya paling banyak saya konsumsi. Bahkan sampai berulang-ulang. Soal personality tadi, saya kepincut karena Mina tidak berusaha hadir ke tengah menjadi pusat perhatian. Ia punya tempatnya sendiri, yang jadi spesial karena kehadirannya. Ia tidak butuh sorotan lampu, lampu sorot yang akan mencarinya. Menyanyi? Siapa yang tidak suka part Mina? Menari? Mina cuma kalah dari Momo yang memang dancing machine yang membuatnya punya privilege bergabung dengan Twice meski sudah tereliminasi di babak awal Sixteen. Mina adalah yang terhebat di antara manusia normal di Twice. Selain itu identitasnya sebagai trained dancer yang berlatih sampai sebelas tahun memancarkan aura serius dan elite yang tidak akan mungkin bisa disejajarkan dengan orang yang baru latihan setahun dua tahun. Saya yang terkagum-kagum dengan ide soal latihan dan konsistensi ini jadi punya alasan lebih jauh lagi untuk lebih kagum.
—
Topik ini saya kira perlu juga menjadi sebuah kesempatan bagi saya untuk berargumen soal kehidupan fans dan idol ini. Ya saya ndak akan komentar soal bagaimana kehidupan fans dan ngestan lain yang sudah terjadi lebih dahulu dibanding saya. Kan kehidupan fanboying saya masih seumur jagung. Tapi saya kira, saya perlu menuliskan soal hal ini. Bukan dalam rangka membuat-buat excuse atau pembenaran, melainkan sebagai sebuah.. apa ya? sebuah perspektif lain kali ya?
Pernah ada teman saya yang bilang saya tiba-tiba suka perKoreaan karena ingin menikmati perempuan muda bernyanyi dan berjoged dengan pakaian minim. Ditambah dengan argumen bahwa konsep idol ini adalah bentuk soft-prostitution. Ya silahkan saja jika berpikir seperti itu. Tapi saya punya cara saya sendiri untuk menikmati hal ini.
Alasan pertama tentu saja memang soal kualitas. Musik yang mereka hasilkan memang penuh kebaruan. Coba pikir saja, saya yang sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ungkapkan bisa tetap merasakan lagu mana yang sedih dan mana yang punya vibe bergembira. Bahkan market terbesar pun sekarang mulai “berguru” dan mengamati. Kalau sejarahnya dibaca, maka akan mudah ditemukan penjelasan kenapa cross-over berbagai genre dan kebudayaan ini jadi sangat relatable dengan berbagi masyarakat dunia? P
Hallyu hanyalah istilah lama, kata Jang Soo Hyun, profesor Industri Kebudayaan Asia Timur Laut dari Universitas Kwangwoong, Seoul. Saat ini banyak fenomena sudah tidak lagi sesuai dengan definisi lama tentang Hallyu dan lebih dijelaskan oleh pencampuran budayanya. Profesor Lee Sang hoon yang memimpin penerbitan After Hallyu: Challenge and Opportunity berpendapat bahwa alasan utama dari mengglobalnya perkoriyaan adalah keberhasilannya dalam mengidentikkan diri dengan para penikmatnya. Andai saja Hallyu hanya tentang Korea semata, tidak akan sepopuler ini. Jadi keberhasilan ini adalah keberhasilan memahami barrier yang menyekat masyarakat global, kemudian melewati batasan tersebut. Orang-orang di seluruh dunia dapat menghubungkan apa yang dulunya kita pikir sebagai “perasaan korea”. Padahal mungkin itu adalah sebuah bahasa universal yang tidak sempat kita ulik seperti industri Korea Selatan menguliknya, karena mereka memiliki kebebasan dan stabilitas yang mumpuni untuk mengulik hal tersebut.
Mungkin alasan ini terlalu sophisticated untuk menjadi sebuah pembenaran kehidupan menjadi fanboy. Tapi ini bukan penjelasan main-main saya. Semakin intense saya mengkonsumsi produk mereka, semakin kaya dan vibrant pemikiran saya tentang banyak hal. Kemampua kepenulisan mereka untuk menghasilkan drama-drama yang konteksnya bisa dipahami secara universal, kemudian kematangan industri mereka tentu saja pelajar penting yang harus dipahami dalam konteks bernegara dan mengambil kebijakan. Ya lagi-lagi, ini ada penjelasan logisnya. Kehidupan perkoriyaan saya ini kaffah, tidak ecek-ecek sekedar menonton orang menyanyi dan berjoged saja.
Tapi kalau ditanya apa nilai plus yang saya kagumi betul dari industri ini adalah kesetiaan mereka terhadap proses dan latihan. Tidak seperti kontes di sini yang tiba-tiba terkenal, untuk bisa jadi figur dalam industri itu butuh latihan yang panjang dan intense. Kita bisa berdebat soal betapa tidak sehatnya dan betapa eksploitatifnya industri semacam itu. Tapi kalau dilihat dari perspektif individu yang menjalani kehidupan itu, yang merangkak dari bawah, mengorbankan masa muda mereka demi mengejar hal yang disebut cita-cita, bukan kah itu sebuah proses yang tidak layak diremehkan. Siapa anda berani bilang “jadi idol bukan cita-cita?”.
Lagi-lagi, industri ini jauh dari sempurna. Selain patriakisme dan sifat misoginis yang masih mengakar, bentuk-bentuk eksploitasi jelas-jelas masih terjadi. Yang paling buruk tuntu saja perilaku para ssasaeng yang membuat beberapa figur bunuh diri. Tapi buat saya, hal tersebut menjadi alasan paling kuat bagi saya untuk reinventing cara saya mengapresiasi karya mereka, sekaligus menjadikan itu semacam dorongan untuk punya attitude petarung yang sama. Mungkin saya tidak akan pernah bisa menyanyi dan berjoged disaksikan puluhan ribu orang. Tapi dengan melihat mereka, para chingu itu belum berhenti mengejar cita-citanya, dan belum berhenti membentangkan karirnya jauh kedepan, membuat saya berpikir, kenapa saya tidak bisa punya mentalitas seperti mereka pula?
Beautifully written.














