“Never trust your tongue when your heart is bitter.”
— Samuel J. Hurwitt
RMH
Misplaced Lens Cap

Monterey Bay Aquarium
tumblr dot com
Sweet Seals For You, Always
Noah Kahan
h

@theartofmadeline

★
The Stonewall Inn
will byers stan first human second
Sade Olutola

gracie abrams
🩵 avery cochrane 🩵
Not today Justin
sheepfilms

oozey mess
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Malaysia

seen from Italy
seen from Australia
seen from Tunisia
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Nigeria
seen from Nigeria
seen from Colombia
seen from United States
seen from Austria
seen from Germany
seen from Tunisia
seen from Tunisia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@vanessapraditasari
“Never trust your tongue when your heart is bitter.”
— Samuel J. Hurwitt

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ibu membawa seekor anjing, kuberi nama dia Violet, karena ketika di hari pertamanya tiba di rumah, kebun bunga Violet ibu hancur berantakan. Ibu marah, tapi goyangan ekornya yang berubah menjadi ekspresi penuh penyesalan membuatku tertawa terbahak-bahak. Hari itu adalah sehari setelah dokter meminta ibu untuk mengerti bahwa ada hal-hal yang tak sanggup mereka lakukan. Dan membuat ibu memahami bahwa ini saat yang tepat untuk memenuhi keinginanku satu persatu. Dimulai dari seekor anak anjing. Mereka memberiku waktu satu bulan, tapi mungkin bagi Violet keberadaanku adalah selamanya. Setelah satu bulan berlalu dan kutitipkan Violet pada ibu, kadang Violet tetap datang ketempatku beristirahat, mengajakku untuk bermain dengannya. Seperti yang dia ingat satu tahun kemudian, lima tahun kemudian lalu seumur hidupnya.
[FF] Kebahagiannya
“Pengantin perempuan atau laki-laki?”
Suara itu terdengar dekat dan seolah ditujukan padaku.
“Hei—“
Kutolehkan kepala, lalu mencari orang lain yang mungkin saja diajak perempuan itu berbicara. Tapi tak ada, matanya jelas-jelas mengarah kepadaku.
“Pengantin perempuan atau laki-laki?”
Dia bertanya sekali lagi, perempuan berambut sebahu berlipstik merah itu tampaknya benar-benar bertanya padaku.
“Apanya?” tanyaku bodoh, tapi sungguh— siapa yang mengerti arti pertanyaan.
“Mantan pacar?”
Dahiku berkerut,”aku kenalan pengantin perempuan, jika itu maksudmu.”
“Hanya kenalan, tidak lebih?” dia menelengkan kepala, ke kiri. Membuatku kesal, sungguh apa urusan perempuan ini. “Aku sahabat pengantin pria kalau kau ingin tahu—mantan sahabat lebih tepatnya,” lanjutnya kemudian.
Kuanggukan saja kepalaku, lalu memerhatikan kembali sepasang pengantin yang bergantian menyalami tamu. Laila—Sang pengantin perempuan— tampak cantik dengan gaun warna putih yang ia kenakan, senyumnya merekah indah, pipinya meronah merah. Dia benar-benar cantik hari ini dan hari-hari sebelumnya selama aku mengenalnya.
“Kau benar-benar jatuh cinta padanya.”
“Siapa?”
Kutolehkan kepala cepat-cepat saat kutangkap mata perempuan di hadapanku, menatap lekat-lekat. Kusadari perempuan itu mengenakan softlens warna cokelat tua ketika mata kami saling bertemu.
Bisa kutangkap seringainya sekilas, sebelum dia menundukkan kepala dan merogoh tas tangannya. Sekotak rokok keluar dari sana.
“Mungkin jika kita bertemu lebih cepat, kita bisa menemukan cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.”
Perempuan itu berbalik sambil menyelipkan sebatang rokok ke bibir dan berjalan keluar.
Dia tidak memintaku menyusul dan aku tahu menyusulnya adalah perbuatan yang tak perlu.
Yang kuperlukan saat ini adalah naik ke atas sana dan mengucapkan selamat, berkata bahwa aku turut bahagia atas pernikahannya.
Karena selalu, yang terpenting adalah kebahagiaannya.
[FF] Jimat
Aku keluar dari kamar mandi dengan mata sembab. Setan alas—bagaimana bisa hari jadi lebih sial dari kemarin. Kurasa aku sudah mengulang umpatan itu sejak beberapa hari lalu. Ketika handphoneku tertinggal entah di mana, seseorang mencopet tasku—yang berisi handphone baru dan dompet, seorang klien yang kukejar hingga ujung dunia membatalkan pesanannya dengan alasan yang tak masuk akal. Lalu hari ini—kuhela napas panjang, sungguh rasanya ingin kupancung seseorang.
Mataku masih terasa panas, hidungku rasanya gatal. Seseorang melirikku hingga lehernya nyaris patah, kuabaikan saja dia. Apa salahnya menangis di mall saat malam minggu ketika pacarmu tiba-tiba membatalkan janji, padahal semua kesialan menumpuk dan menuntut segera dimuntahkan.
“Apa tadi alasannya—“ kuusap hidung dengan tisu sembari menempati sebuah kursi kosong di sebuah tempat makan. Masa bodoh, perutku lapar, biarkan aku makan, sendirian sekalipun. “Bannya bocor,” kutertawakan pesan terakhir darinya lalu memanggil pelayan. Memesan sepuas hati. Biar saja, hari ini kubahagiakan diriku dengan makanan—yang tak pernah berkhianat.
Mataku kosong memerhatikan layar handphone yang gelap, satu minggu berlalu dan kesialan datang tanpa jeda, tanpa ampun. Kuingat-ingat kembali hari demi hari sebelum kesialan datang bertubi-tubi. Apakah diriku baru saja menyakiti seeorang, apa masih ada janji yang belum kupenuhi, sudahkah aku memberi kepada mereka yang berhak di hari gajian atau apa—demi Tuhan, sembari mencubit bibir kutanyakan perbuatan buruk apa yang sebenarnya harus kutebus.
Kuperhatikan satu set keluarga yang duduk beramai-ramai di meja. Diantara mereka tampak seorang perempuan paruh baya yang tampak bukan seperti ibu tapi bukan pula asisten rumah tangga, entah siapa dirinya dalam keluarga yang terdiri dari sepasang suami, isteri dan 1 orang anak lelaki.
Perempuan yang kuperhatikan ini mengenakan pakaian mencolok—kuning terang dengan ornamen bunga berwarna merah, kepalanya dihiasi bando kain yang melingkari kepala, senada dengan warna pakaiannya, sempat terdengar gemerincing gelang dan cincin yang ia kenakan sungguh mencolok mata.
Kuperhatikan jari jemariku. Tak ada cincin di sana, tak ada cincin di jari manis manapun—kusipitkan mata, memastikan kemana benda yang seharusnya ada di jari manis tangan kananku. Cincin berwarna hijau yang kukenakan nyaris setiap hari, sampai minggu lalu.
Astaga—aku benar-benar melepasnya tepat sebelum berenang saat pulang ke rumah. Bisa jadi itu—kemudian kutertawakan ideku.
Masak karena sebuah cincin, kesialan datang padaku, bertubi-tubi.
Masak karena—kuraih handphone cepat-cepat, kutekan nomor handphone adekku.
“Rat, cincin kakak yang warna hijau ketinggalan di rumah nggak sih? Halah cincin hadiah dari ibu itu, iya-iya. Coba dicek sekarang deh, di atas meja kamar kakak,” detik demi detik berlalu hanya terdengar suara langkah kaki yang kemudian berganti dengan suara gemerisik kertas, plastik, entah apa. “Rat, ketemu?”
Setelahnya suara Ratna terdengar, cincin itu ditemukan. Kuminta dia segera mengirimkannya. “Besok, jangan lusa, pakai yang sehari sampai,”pintaku dengan nada memohon.
Jika memang cincin itu yang mengembalikan kenormalan hidupku maka kujanjikan baginya tempat permanen di jari manis tanganku. Ya—pasti. Yakinku hari itu.
Hanya hari itu dan pasti apanya, mataku memandangi cincin di jari manis. Cincin itu tiba sesuai harapan, terpasang di jari manis dan tak ada yang berubah. Bahkan demi Tuhan—kurasa semuanya semakin memburuk.
Kuperhatikan sosok yang sangat kukenali, dia yang katanya membatalkan janji—lagi. Dengan alasan yang berbeda dari malam minggu kemarin. Lelaki itu sedang duduk berdua dengan seorang perempuan yang tak kukenali. Sembari tertawa kupandangi cincin di jari manis, tadi pagi pencapaian selama 1 bulan diumumkan dan timku menjadi yang terbawah sehingga—ah sudahlah, persetan dengan semua itu.
Kudekati meja mereka, perempuan dan lelaki yang tertawa-tawa duduk bersebelahan. Tampak begitu bahagia.
“Jadi, ini yang kamu bilang nganterin Arga ujian?”
Lelaki itu memandangi wajahku dengan bola mata yang nyaris terlepas dari soketnya dan perempuan disebelahnya memandangi dengan ekspresi penuh tanya.
Kuputar cincin bersemat permata berwarna hijau itu ke dalam tangan, kudekati lelaki yang membohongiku satu jam lalu dengan segala alasannya. Dalam gerakan cepat dan tepat kutempelkan tanganku di pipinya, kuseret sedikit hingga ia mengerang, karena mata cincinku menggores wajahnya.
Lalu dengan penuh kebanggaan kulangkahkan kaki meninggalkannya.
Cincin ini bukan jimat yang akan mengembalikan keberuntunngan kurasa. Kutertawakan ide bodoh yang sempat muncul di kepalaku.
Setidaknya cincin ini memiliki kemampuan untuk menyalurkan rasa sakit.
Kurasa memang itu fungsinya.
“The saddest truth is realizing you have fallen madly in love with what can never be.”
— Michael Faudet, The Saddest Truth

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[FF] Manekin
Perempuan itu tak pernah tahu sejak kapan dirinya hidup seperti manekin. Tampak elok, indah tanpa cela, menyenangkan mata yang memandang. Mengundang pujian, memancing kekaguman yang tak pernah menjadi kebahagiaan baginya.
Apakah sejak suaminya berkata kecantikannya lah yang mempertahankan pernikahan mereka, atau sejak operasi yang menyelamatkan hidup, merenggut kesempatannya untuk memiliki keturunan. Bahkan mungkin jauh sebelum itu, sejak ayahnya pergi dan meninggalkan dirinya bersama ibu yang mereka sebut sebagai pelacur.
Perempuan itu tak pernah mengerti, sejak kapan dirinya hanya menanggapi pujian dengan senyuman, perkataan kasar tanpa rasa sakit, tuntutan tanpa sangkalan. Sejak kapan genggaman tangan suaminya di muka umum tak terasa manis dan sejak kapan pemandangan suaminya bersama perempuan lain tak mengundang air mata.
Pertannyaan itu sebenarnya tak pernah muncul di pikirannya, hingga seorang bocah datang dan bertanya.
“Tante kok nangis?”
Sungguh siapa yang menangis?— perempuan itu tak memberi jawaban.
[FF] Siapa?
Entah apa yang mengerjainya ketika ia kembali berada di tempat yang sama untuk gagal mencegah kematian saudara kandungnya. Tertabrak pengendara mabuk di tengah hari, sungguh dirinya ingin menertawakan takdir. Ia sudah berusaha dengan berbagai cara setiap kali waktu memberinya ijin untuk kembali ke 20 menit sebelum kematian adiknya. Mengajaknya pergi dari lokasi kejadian, melindunginya dari tabrakan dan selalu ada saja yang membuat tubuh kecil adiknya tergeletak di panasnya aspal. Ini entah yg keberapa kali dirinya melihat darah dan tubuh terkulai lemas. Putus harapan, dijambak rambutnya sendiri. Jika memang bukan untuk menyelamatkan adiknya apa yang sedang dilakukan waktu saat ini. Mengerjainya? Sungguh? Mungkin nyawanya bisa ditukar dengan nyawa adiknya agar waktu berhenti mempermainkan dirinya. Nah, bukankah keseimbangan dunia pun akan terjaga, satu nyawa ditukar dengan nyawa lain. Ide itu muncul di menit terakhir sebelum kecelakaan terjadi. Seorang pengendara mabuk akan menerjang tubuh mungil seorang anak SD yang hendak menyebrangi jalanan ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Dasar sial. Kenapa ide itu tidak muncul sejak tadi- tawanya lepas, melangkah ketika lampu masih berwarna hijau terang. Ketika sebuah truk menyapa tubuhnya ramah, matanya mengawasi jalanan. Adik kecil yang menunggu di sebrang tersentak berteriak, langkah kecilnya terhempas pengendara mabuk yang seolah mengincarnya sejak awal. Tubuhnya tergeletak di atas aspal panas. Saat cuaca terik. Darahnya dan darah saudara kandungnya mengalir bertemu di satu titik yang sama. Senyumnya tak hilang ketika dirinya menutup mata. Takdir sungguh mengerjainya, waktu memperdayanya. Siapa dirinya mencoba menukar nyawa dengan nyawa? Sungguh yang benar saja.
[FF] Regret
She likes him, she said it and regret it.
Menyukai sahabatmu adalah kesalahan besar. Terlebih ketika sekonyong-konyong kau mengatakannya setelah muak karena rasa cemburu atau hanya karena suasana begitu menyenangkan. Jika kami hanya berdua mungkin hanya akan ada jeda dan tawa hambar yang dilanjutkan tanya, “Serius?”
Tapi waktu itu kami berempat, dia, aku, dan dua teman kami yang memancing pertanyaan mematikan. “Kamu suka kan?”
Dan kujawab, “Ya.”
Hanya satu kata itu yang membuat mereka berdua tertawa puas dan dia menatapku tak percaya, seolah bertanya—“Serius?”
Ya, aku serius. Bahkan terlalu serius ketika menanggapi kepergianmu dengan salah satu gebetanmu. Kujawab chatmu pendek-pendek dan kau tak menyadarinya.
Ketika kau bercerita tentang begitu cantiknya gebetanmu hanya kuperhatikan isi gelas minumanku. Saat kau bertanya apakah sebaiknya kau lanjutkan usahamu kujawab, “responnya bagus kayaknya, lanjutin aja.”
Padahal dalam hati aku berdoa agar perempuan itu kembali saja pada mantan yang baru ia putuskan. Meninggalkanmu agar kau kembali memberi perhatianmu padaku.
“Kamu cemburu?”
“Iya.”
Kau tampak terkejut lalu tertawa. Kau kira itu bercanda karena terlalu jujur. Padahal aku jujur karena aku serius.
Dan mungkin kau menyadarinya saat semua perlakuanku kepadamu berbeda. Dan kau pun mulai menanggapinya secara berbeda. Kedekatanmu dengan gebetanmu pun terasa sering lalu aku merasa kau mulai menjauh.
Padahal mungkin kau masih di sana.
Bahkan rasanya sulit bercerita padamu dan semua perlakuanmu membuatku patah hati.
Ketika kau mulai terasa jauh aku mulai bertanya, apakah salah jika aku jujur bahwa aku serius atau mungkin seharusnya aku berbohong agar tetap dapat berada didekatmu.
Tak ada tanya darimu 1 minggu ini dan aku pura-pura tak ingin menjawab apapun.
[FF] Her World
She live in her mind and she never said a word.
Dia yang pertama kali memperkenalkan dirinya, menjabat tanganku dan menyebutkan nama. Tersenyum lalu bertanya dari mana asalku. Senyumannya mengundang senyuman lain dan tawanya renyah terdengar menyenangkan. Bicaranya kadang tak bisa dihentikan ketika menceritakan sesuatu yang menyenangkan hatinya.
Balon warna-warni hari itu, buku bagus yang ia temukan dengan harga murah, drama korea yang menguras air matanya dan segala hal yang membuat hatinya riang. Kata yang terangkai akan menjadi panjang dan senyumnya tak kunjung menghilang.
Sekali waktu dia pernah diam ketika kami bertemu, dia yang mengajak. Hanya butuh teman bicara katanya—ketika kutanya ada apa. Dia tersenyum, dia bercerita, tapi ada jeda yang tidak bisa ia jelaskan muncul di antara percakapan kami. Matanya hanya memandang jendela dan tak ada kata yang terucap, jarinya hanya memutar mulut gelas tapi tak ada suara dari bibirnya.
Dia berpikir tapi dia tidak pernah menceritakannya.
Kejadian itu tak terjadi sekali dua kali, beberapa kali. Bahkan terhitung terlalu sering ketika semua cerita membahagiakan itu mengalir, kemudian terhenti jeda yang datang entah bagaimana dan dia yang begitu cerewet membiarkan jeda itu masuk ke pikirannya.
“Kamu kenapa?”
Ketika kutanya begitu dia hanya berpaling dari perhatiannya, menatapku dan tersenyum sambil berkata.
“Nggakpapa.”
Kemudian bibirnya kembali bergerak menceritakan semua yang tak ada dalam pikirannya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[FF] Mungkin Tidak
Hari itu dia memutuskan untuk membuka mata begitu alarm handphone berbunyi. Tidak ada keinginan untuk menunda ataupun menekan tombol snooze, tidak ada keinginan untuk menarik selimut dan menikmati lelap barang sepuluh menit lagi. Gerakannya teratur—meraih handuk, menyiapkan pakaian, membasuh diri membersihkan sisa-sisa tidur yang tertinggal di tubuh.
Mengenakan pakaian, mematut diri di depan cermin, memastikan semuanya tepat. Matanya tak membengkak seperti satu minggu lalu, hatinya tak terasa nyeri setiap kali bercermin. Tak ada yang ia tunggu pagi ini—ucapan selamat pagi ataupun pertanyaan apakah dirinya sudah berada di kantor.
Perjalanan menuju kantor pun tanpa hambatan, hanya kemacetan di sisi jalan yang sedang diperbaiki. Sisanya semua baik-baik saja hingga ia menginjakkan kaki di kantor, menyapa rekan kerja dengan senyuman, selamat pagi dan obrolan singkat. Hari berlalu dengan rutinitas yang sama, tak ada yang luar biasa, tak ada yang mengejutkan. Seperti hari sebelumnya, pekerjaan datang silih berganti, waktu istirahat digunakan untuk berbasa-basi hingga jam kerja kembali dan setiap berkas di atas meja seolah berteriak meminta diselesaikan.
Cahaya senja menembus jendela, menarik matanya untuk sekedar berbalik, memperhatikan warna oranye yang telah menguasai langit. Lantai tempat kerjanya telah sunyi, hanya tinggal dirinya dan seorang rekan kerja yang masih sibuk menyenandungkan lagu sembari mengetik. Mata nya melirik angka di layar handphone, semua barang dimasukkan, tas disampirkan, pamit ia berpulang meninggalkan kubikel. Melangkahkan kaki menuju tempat parkir, mengambil kendaraan, melaju menuju ke sebuah toko buku.
Jam masih menunjukkan pukul enam sore ketika ia membayar sebuah buku di kasir, melangkahkan kaki menuju sebuah kafe donat yang berada di sebelah toko buku. Tersenyum menatap seorang lelaki yang telah duduk di samping kaca tak terganggu oleh pantulan lampu jalanan yang menyilaukan mata.
Perempuan itu duduk.
Matanya sempat bengkak satu minggu lalu. Hatinya sempat teriris ketika bercermin beberapa hari lalu. Dan hari ini ia berada di hadapan lelaki yang membuat semua kekacauan dalam hatinya terjadi, porak-poranda yang pernah tercipta telah terhisap black hole yang entah muncul darimana.
Meninggalkan kekosongan yang membuatnya bertanya.
“Haruskah kita melanjutkan—sandiwara ini.”
“Sandiwara apa?”
“Ketika kau berpura-pura mencintaiku hari ini dan meninggalkanku di hari lain.”
Lelaki itu sempat terdiam dan meminta maaf. Kata maaf terhisap ke dalam black hole yang entah muncul darimana.
Perasaannya pun hilang entah kemana.
Maka ketika lelaki itu menggenggam tangannya yang ia rasakan hanya sentuhan tak berarti, tanpa desir, tanpa rasa hangat yang menjalar.
Tak ada penjelasan, yang terdengar hanya riuh ramai kafe dan tawa beberapa anak muda.
Tak ada yang pernah bisa menjelaskan kemana hilangnya perasaan cinta, ketika kekosongan yang tersisa. Perempuan itu pun tak mampu menjawab ketika Sang Lelaki bertanya apakah dirinya masih dicintai.
Mungkin
Tidak—
[FF] Tertular
You hate it, but you never know that you bring it with you.
Dia sangat membenci mantan pacarnya. Mantan pacar yang sudah ia pacari selama 10 tahun yang membuatnya merasa menyia-nyiakan 10 tahun dalam hidupnya bersama lelaki yang salah. Mereka tak putus baik-baik, cerita yang panjang dan berlarut-larut tapi jika mereka dipertemukan sekali lagi dirinya akan meludah di wajah laki-laki itu.
10 tahun adalah waktu yang cukup lama dan dirinya selalu bertanya-tanya bagaimana ia bisa bertahan; cintakah, kebutuhankah, mungkin hanya penghilang rasa sepi saja.
Jika diminta untuk mengingat 10 tahun yang berlalu kepalanya akan berdenyut kencang, perutnya seolah akan memuntahkan makanannya malam tadi tapi kadang semuanya terulang tak terkendali. Seperti saat lelaki itu mengomentari pakaian yang dikenakannya, mengatakannya jelek, menarik tangannya dan memintanya segera memilih pakaian baru di sebuah toko. Apakah lelaki itu membelikannya—jangan bercanda, dia membayar semuanya dengan uangnya sendiri.
Atau ketika lelaki itu mengumpat dengan bahasa nama-nama penghuni kebun binatang ketika sedang marah dan dirinya hanya bisa mendengarkan sambil menundukkan kepala, menahan air mata. Pernah juga lelaki itu menampar pipinya, membuatnya merasakan perih dan bekas merah hingga keesokan harinya. Bentakan dan teriakan menjadi makanan sehari-hari semenjak mereka tinggal bersama. Terkadang lelaki itu pulang dengan perempuan yang tak dikenal, ketika ia bertanya siapa, maka dirinya dibentak, ditepis hingga tersungkur ke lantai.
Keesokan harinya ketika lelaki itu sudah sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol dan perempuan asing yang menemani malamnya sudah pergi, dia akan kembali melontarkan kalimat manis, memberikan kecupan dan pelukan. Meminta pelayanan penuh di malam hari seolah tak ada yang terjadi di hari sebelumnya.
Semua itu terjadi selama 10 tahun, meninggalkan bekas luka fisik hingga ia memilih untuk pergi bersama bayi yang dikandungnya. Bayi yang kemudian kehilangan nyawa sebelum melihat dunia.
Kehidupannya memburuk setelah itu hingga ia bertemu dengan seorang lelaki yang bersedia menerima masa lalunya. Dirinya pun diterima bekerja di tempat yang tak menanyakan pengalaman buruknya.
Semua terasa baik-baik saja, membahagiakan sampai ketika seorang teman lama berpapasan dengannya di sebuah pusat perbelanjaan.
“Lho, kamu udah nggak sama dia?”
Dan memori itu kembali memutari kepala. Merusak hari-harinya.
Telepon yang datang dari lelaki yang mencintainya dibalas dengan umpatan binatang. Anak-anak kecil yang ia bina di sebuah taman kanak-kanak nyaris terkena tamparannya. Alkohol menjadi pelariannya hingga lelaki yang mencintainya bertanya, siapa perempuan yang di hadapannya.
Dia tersentak. Mantan pacarnya telah menjadi bagian dari dirinya, sekalipun telah ia kubur jasadnya di halaman belakang rumah mereka. Dan ia ludahi matanya yang terbelalak.
Dirinya sudah tak terselamatkan.
HOLY SHIT, IT WAS THE ORIGINAL ONE
MAKE A WISH
the first post ever on tumblr
I WAS EXPECTING IT TO BE A REMAKE OF SOME SORT HOLY FUCK
WHO THE FUCK KEEPS BRINGING THIS BACK
reblog this because it shows up every blue moon
I FOUND IT ✊
I WAS SO SCARED IT WOULDNT BE THE ORIGINAL
Who first posted this?
I THOUGHT THIS WAS GOING TO END WITH A MEME OR SOME SHIT NO IT’S THE REAL ONE OH MY GOD
Wishing I’ll do well on my finals ✨

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Learning to love yourself is hard, but here’s a self-love hedgehog to help you out! :D <3
Sometimes you just need someone to tell you you’re not as terrible as you think you are.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)