wandering at ethnical stores #samarinda #souvenirshop #kaltim #indonesia #ethnical #indonesiakaya #eastborneo
Mike Driver
occasionally subtle
Xuebing Du

Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
will byers stan first human second
Stranger Things
h
taylor price

Product Placement
Peter Solarz
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
dirt enthusiast

Origami Around

Kiana Khansmith

PR's Tumblrdome

tannertan36
seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Italy
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Honduras

seen from Türkiye
seen from Belgium

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Poland

seen from Hungary

seen from United States
@unpluggedjackie
wandering at ethnical stores #samarinda #souvenirshop #kaltim #indonesia #ethnical #indonesiakaya #eastborneo

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
wake up, i got your back, i can hold you up when you're feeling down, and you can do the same. -Look Outside by Nat & Alex Wolff #sakura #video612 #nat&alexwolff #quotes #lyricsquote #videoart
happy birthday to our guitarist, Chandra Putra Evendhy, born in Aceh, 24 years ago. keep cool and cooler. #guitarist #indie #band #music #unpluggedjackie #indonesia #indonesian #fender
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H. -aik,Chandra,Nana-
I really love this band. I can feel their energy. It keeps me in spirit. Haim! #haim #ilustration #digitalTracing #indonesianFans

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Songlist : direction, do i wanna know (arctic monkeys), miss you, strangers. #unpluggedjackie #songlist #gigs #PestaBAR Thanks for coming.
Trio Live at the factory, Bintaro, Jakarta.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Practice gears #amplifiers #orangeAmp #AmpegAmp #LaneyAmp #music #practicegears
Laneway Singapore Trip’s Journal Part 4 : The Real Party It Is
Jam 7 pun sudah tiba dan genre berbeda sangat terasa di musik berikutnya di Derrick Stage. Band itu adalah Savages. Band keren satu ini bergenre Punk Alternative, digawangi oleh All girl’s members asal Inggris. Damn, they are so cool! Sang vokalis Jehnny Beth yang bernyanyi dengan tegas, tampak seperti berpuisi dengan gaya orasi. Sang gitaris Gemma Thompson, tanpa ragu menderu derukan gitarnya dengan full distorsi dan juga delay di beberapa part lagu, Ayse Hassan, pemain bass, tampak cool memainkan bass namun dia selalu bisa mengisi beberapa part tanpa gitar dengan sound distorsi bassnya, dan terakhir drummer Fay Milton, sangat eksplosif sehingga kadang-kadang dia terlihat seperti bermain drum sambil berdiri dengan badannya yang cukup kecil.
Well, Savages cukup membuat gw merinding, gw blum pernah ngelihat band all girls sekencang ini, full distorsi! Dan yang cukup lucu, setiap gw ngeliat wajah sang vokalis, membuat gw teringat akan wajah vokalis The Killers, Brandon Flowers, dengan gayanya yang serius, mirip dah menurut gw.
"Foto : Savages : Fay Milton, Jehnny Beth, Gemma Thompson. Ayse Hassan (Kiri-Kanan)"
"Foto : Savages tampil dengan sangar, keren!"
"Foto : Gambar Jehnny Beth dari Savages di layar LED, entah kenapa mengingatkan gw pada mukanya Brandon Flowers nya The Killers haha"
Di beberapa lagu terakhir, tampak di Roscoe Stage, personil band Daughter tengah bersiap-siap, hal ini memancing sedikit kegaduhan dan membuat Jehny Beth berkomentar sinis namun bercanda terhadap fans Daughter, “We likes you, but we are here better!” (sambil menunjuk penonton yang berada di depan Roscoe Stage dan akhirnya kearah penonton Derrick Stage/Savages stage) Penonton pun tertawa dan menjadi lebih semangat mengikuti lagu berikutnya. Setelah satu jam Savages, gantian Daughter yang sekarang menyambut penonton di Roscoe Stage. Elena sang vokalis tampak begitu malu malu ketika dipanggil fansnya, cute sekali.. By the way, Band ini berasal dari Inggris dan digawangi oleh Elena(Vokal, gitar), Igor(gitar), dan Remi(Drum). Penampilan mereka dibantu oleh seorang additional player yang kadang memainkan keyboard ataupun bass. Terkadang Elena juga bergantian dengan Igor memainkan bass. Band Pop ini memang bisa dibilang salah satu kekuatan utama festival ini sebagai penarik massa, bisa dilihat dengan banyaknya fans yang berjubel untuk menonton Elena, dkk. Prestasi mereka di musik Inggris juga terbuktikan dengan masuknya album debut mereka di Best Top 20 di UK. Gw juga menggemari salah satu single hits mereka berjudul Youth, sangat emosional dan sukses membawa penonton ke suasana malam yang syahdu.
"Foto : Daughter : Igor, Elena, Remi (Kiri-kanan)" Gw yang setelah savages berusaha bergerak ke wilayah tengah antara Derrick dan Roscoe Stage, supaya nantinya gw bisa nonton antara Haim dan Chvrches tanpa harus banyak bergerak ke kanan ataupun ke kiri. Tapi gw hanya berhasil bergerak ke arah kanan / arah Roscoe Stage. Dan dengan bersabar gw menonton Daughter, walaupun kadang terganggu oleh persiapan crew Haim yang tampak begitu sibuk menata alat-alat musik Haim. Sesekali sang drummer dari Haim muncul untuk mengeset drumnya, tampak juga Haim bersaudara berjalan ke belakang panggung, dan menarik sedikit kegaduhan oleh fans tanpa merusak suasana konser Daughter yang sedang berlangsung di sebelah. Memang, Haim merupakan kekuatan utama festival ini bersama Chvrches, para penonton langsung menetapkan dirinya sedekat mungkin dengan panggung agar bisa memandang sang idola dari dekat. Daughter menutup penampilannya dengan lagu terakhir yaitu Human.
"Foto : Daughter on stage, perang hati antara terbuai oleh nada halus musik Elena dkk dengan ga sabarnya nunggu Haim di panggung sebelah." Sekitar jeda 5 menit usai Daughter, terdengar sound pengantar lagu Falling yang terdengar seperti suara jantung berdetak di Derrick Stage. Drummer Dash Hutton pun muncul dan menghampiri drumsetnya bersamaan dengan pemain keyboard additional. Selang beberapa detik Haim bersaudari muncul disambut oleh teriakan para penonton. Lagu pertama adalah Falling.
"Foto : Cool Danielle"
"Foto : Baby Haim Alana"
"Foto : Bassface Este"
"Foto : Aksi Este yang selalu membakar semangat penonton" Gw bener-bener ga percaya bisa melihat mereka sedekat ini, memandang bassfacenya Este, coolnessnya Danielle, dan cheerfulnya Alana, yang biasa gw antengin di layar Youtube. damn, it felt like a dream! Di lagu ke 3 mereka membawakan lagu dari Fleetwood Mac, “Oh, Well”. dengan mengcover lagu ini semakin mengukuhkan klo mereka adalah band rock, berbeda dengan album mereka yang kental RnBnya. Di tengah-tengah penampilan mereka, klo tidak salah setelah lagu My Song 5 atau Running if You call my Name, Este tengah berusaha menaikan mood penonton dengan bercanda “Are you want to get low? i want to get low!” Dan dia pun melakukan gesture slow motion dengan menjatuhkan badannya secara perlahan, lalu tegak lagi dengan melakukan dancing yang gak jelas haha.. Penonton pun tertawa melihat gelagak Este tersebut. Penampilan dilanjutkan dengan hits Forever dan the Wire.
"Foto : Aksi Este "wanna get low"
Setelah hits hits tersebut, lagu terakhir dimulai dengan Alana yang memainkan maracasnya, lagu ini berjudul “Let Me Go”.. Disambut dengan vokal Danielle yang khas, begitu part musik keseluruhan dimulai, Alana turun dari panggung dan mendekati para penonton barisan depan, dan kendali vokal dipegang oleh Este sambil memainkan bassnya. Lagu ini diakhiri dengan 3 bersaudari Haim memainkan drum nya dibantu oleh sang drummer dibelakang.
"Foto : Aksi closing drums parade Haim Sisters"
Penampilan Haim pun selesai, dan penonton bergegas bergerak ke arah kanan panggung utama yaitu ke arah Roscoe Stage. Namun apa daya ternyata penonton sudah berjubel, dan gw beserta penonton dari depan Derrick stage juga hanya bisa bergerak sedikit ke arah Roscoe Stage. Sama dengan Haim, Chvrches juga menggunakan backsound pengantar yang mudah sekali ditebak bakal lagu apa yang pertama dimainkan Lauren Mayberry dkk. Yap itu lagu “We Sink”. Entah kenapa gw belum merasakan sound yang pas waktu denger lagu ini, nama lainnya “belum keluar” haha, Sepertinya band dengan format seperti Chvrches memang sangat repot dan sensitif sekali. Sedikit ada error saja pasti bakal gawat, karena itu urusan software dan hardware yang kendalinya dipegang oleh Iain Cook sangat ribet dalam masalah wiring systemnya. Suara drum nya juga kurang mengena, dan microphone Lauren sesekali terdengar gangguan yang perkiraan gw berasal dari wiring mic tersebut. Suara sampling dari Martin Doherty terkadang kurang terdengar tertimpa oleh volume suara instrumen lainnya.
"Foto : Cute Lauren Mayberry"
Namun dibalik itu semua, lagu mereka yang sangat bagus mengalahkan kekurangan penampilan mereka. Fans-fans Chvrches tampak begitu bahagia melihat Lauren, Iain, dan Martin tampil. Lagu favorit gw di album mereka adalah “Gun”, ini lagu menurut gw nendang banget, dari drum hingga suara synthnya bener2 menyatu, dan begitu vokal Lauren berpadu, tidak ada lagi alasan untuk gak ikut bergoyang dan sing along.
Sekitar pertengahan konser, tiba-tiba dari arah penonton ada yang melempar bola pantai yang berukuran cukup besar, dan itu membuat Lauren sedikit merasa terkejut. “I thought it was gonna hit me right in the face!” dan dilanjutkan Lauren yang meminta panitia untuk memberi bola itu padanya. Penonton pun tertawa melihat aksi Lauren yang menendang bola tersebut ke arah mereka.
"Foto : Aksi Lauren pada jeda lagu"
Performance Chvrches berlanjut hingga lagu “Under the Tide”, yang pada lagu ini Martin Doherty memegang kendali vokal bergantian dengan Lauren yang memainkan sampling Pad kepunyaan Martin. Kali ini sound mereka menjadi lebih baik (sebenarnya sound mereka menjadi lebih baik setelah lagu “Recover”, 2 lagu sebelum “Under the Tide”). Sehabis lagu ini Lauren kembali mengajak penonton ngobrol dan tertawa menyimak curhatan dia yang sering kali kehilangan fokus sewaktu memainkan Sampling Pad kepunyaan Martin di berbagai penampilan Chvrches. Penampilan mereka terus berlangsung hingga lagu terakhir yang menjadi pamungkas band ini dibawakan, yaitu “The Mother We Share”, penonton pun dengan semangat sing along. Great Job Chvrches!
"Foto : Martin Doherty bernyanyi di lagu Under the Tide, Lauren memainkan sampling pad"
Full setlist Haim dan Chvrches :
"Foto diambil dari instagram official Laneway festival" Penampilan terakhir di festival ini adalah James Blake, musisi asal Inggris ini mengusung Electronic RnB Pop, dan gw juga baru tahu bahwa James Blake masuk nominasi Best New Artist di Grammy Awards 2014.
"Foto : James Blake"
Tapi, gw yang tidak terlalu menggemari James Blake pun merelakan untuk tidak menonton, selain karena badan yang terlampau letih, gw juga harus mengejar kereta MRT yang memliki jadwal terakhir pada pukul 11.30pm. Dan saat itu jam sudah menunjukan pukul 11pm, gw pun bergegas meninggalkan venue menuju MRT Bayfront station. Back to Chinatown, where i belong, haha.. Gw pun berhasil balik ke hostel gw di Chinatown dengan rasa bahagia yang sangatlah besar dan masih ada rasa tidak percaya gw bisa senekat ini pergi sendiri dengan tujuan musik. MUSIK! 26 Januari Pagi telah tiba sekitar jam 7 hostel gw tiba2 terasa sedikit panas, seakan-akan pemilik hostel ingin berbicara, “waktu menginap sudah usai, pergilah kauuu!” gw pun bergegas merapikan barang gw dan meninggalkan hotel tersebut. Salah satu kesialan gw terjadi, kunci loker yang gw tinggalkan sebentar di loker hilang sesaat setelah gw mandi. Gw pikir mungkin orang hostel yang mengambilnya. Ternyata memang tidak ada karena mereka mempertanyakan kunci tersebut ketika gw ingin mengembalikan kunci sensor. Argh gw pun kena denda 5s$. Satu pelajaran buat gw dan mungkin buat lo juga, jangan pernah ninggalin kunci sembarangan, baik itu kunci hostel maupun kunci sensor, karena kita gak kan tau apa yang bakal terjadi di negeri orang. Dan ini baru kunci loker, untungnya barang2 pribadi gw sudah gw keluarkan semua dari loker. Dengan perasaan yang kurang enak gw pergi ke bandara Changi melalui MRT lagi, dengan rute yang sama namun sebaliknya dari saat gw datang disini. Pesawat berjadwal jam 2pm, dan jam 10 gw udah ada di airport. Kesialan menimpa gw lagi, kartu imigrasi yang di beri saat datang di Singapur gw hilang jatuh entah dimana. Gw pun disuruh melapor ke suatu counter imigrasi Singapur untuk mengisi kartu imigrasi yang baru. Beruntungnya.. seorang petugas menemukan kartu imigrasi gw dan gw ga jadi melapor untuk membuat kartu baru.. hufff Dengan mengulur-ulur waktu hingga jam 2.30pm (pesawat delay) gw pun terbang dan selamat tiba di jakarta pada pukul 4pm. Yeah back to Indonesia, as you know how it is. Terima kasih atas perhatian saudara saudari sekalian, semoga jurnal ini jadi hiburan tersendiri ya.
Dan barangkali ada yang mau ke Laneway Festival 2015, ajak-ajak gw ya!
It's totally a great festival you really don't wanna miss.!
Aik - Unplugged Jackie. 27 Januari 2014
Note :
- Gambar Profile Band diambil dari Google, sedangkan foto dokumentasi asli jepretan gw sendiri menggunakan kamera poket Nikon, Kamera Blackberry, Kamera Samsung Galaxy Tab 2. Harap maklum jika beberapa gambar sedikit shaking dan kurang jelas.
- Tidak semua detail kejadian gw abadikan karena sebelumnya ga terpikirkan untuk membuat jurnal ini. Sorry..
- Kalo kalian belum puas dengan foto foto ajaib gw, nih bisa liat di link berikut, hasil karya panitia ataupun pengunjung yang kameranya jauh lebih bagus dan menjangkau ekspresi muka dari musisi ataupun pengunjung festival. sahhhh..
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.792733150743406.1073741836.362748343741891&type=1
https://www.facebook.com/lei.beer/media_set?set=a.258074867691015.1073741846.100004655114507&type=3
http://www.flickr.com/photos/sghound/
- Gw sangat berterima kasih jika ada saran ataupun koreksi dari anda untuk penulisan ataupun isi dari jurnal. Cheers.
Laneway Singapore Trip’s Journal Part 3 : Day's Line Ups
Laneway’s Gate has Opened! Tanpa babibu gw langsung masuk. Dengan melalui pemeriksaan, gw pun lewat.. karena gw selama di Jakarta gw selalu memeriksa info update dari website festival ini. Segala macam yang perlu dibawa gw bawa dan yang ga perlu gw tinggal di hotel. Gw juga berasa beruntung ga membawa kamera SLR gw, karena nyatanya ada orang yang ketahuan membawa SLR di stop petugas dan sepertinya harus dititipkan di tempat yang sudah disediakan di pintu masuk. Jadi gw cuma bawa kamera poket kepunyaan nyokap, haha.. kamera 14 megapixel ini mewah sekali sehingga kalo dipake memotret tempat gelap, IMPOSSIBLE buat ga shaking! well, untuk memotret siang-siang masih oke sih. Yang jadi masalah gimana ntar pas Haim dan Chvrches, gw pokoknya hrus memotret mereka. Dan untungnya lagi, hp Blackberry gw punya kamera yang better daripada kamera poket nyokap gw haha.. tp gw simpen BB gw buat nanti malem, biar ga habis batre hehe.. Begitu masuk gw langsung menghampiri booth merchandise dan membeli kaos Haim beserta tote bag Laneway. Berdasarkan petunjuk Eric Deathrockstar dari pengalamannya tahun lalu, gw harus cepat-cepat beli merchandise karena akan habis jika beli di waktu sore hingga malam. (Dan benar di malam usai penampilan Chvrches, gw ngeliat kaos Haim dan Tote Bag sudah ludes terjual, i’m so lucky!)
"Foto : T-Shirt Haim"
"Foto : Tote Bag official Laneway"
Setelah dari booth merchandise gw ngelihat hamparan rumput hijau terhampar di depan sebuah panggung besar yang dibagi menjadi 2 panggung. Diberi nama Roscoe dan Derrick Stage. Jauh menghadap panggung dan sedikit berbukit, terdapat booth-booth sponsor beserta booth makan minum, di pojok kanannya terdapat toilet umum portable yang sangat banyak. Dari peta yang gw dapat, ada satu lagi panggung yang berjarak sekitar 300m dari panggung utama, panggung ini bernama Cloud Stage.
"Foto : Panggung Utama view dari arah jam 5"
"Foto : Booth sponsor dan booth F&B, saling berhadapan dengan panggung utama"
"Map Laneway Festival"
Berikut Line Up dari masing-masing Stage:
Gw duduk sebentar di depan Roscoe Stage yang berada di sebelah kanan, menunggu penampilan pertama dari Vance Joy yang mulai pada pukul 12.50. Di sekitar gw para pengunjung ternyata sudah mempersiapkan tikar untuk duduk beramai-ramai. Dan gw pun ikut-ikutan dengan memakai syal hitam gw sebagai alas. Suasana yang seperti piknik ini bener2 bikin gw takjub dan gw membayangkan bagaimana klo gw ada disini dengan teman2 gw, pasti seru gila, SERU GILA! yang bisa gw lakukan cuma motret dan ngpost di Path (yang ternyata malah bikin ngiri teman-teman gw, haha sorry). Well, dalam benak gw bercampur bahagia dan sedikit sedih karena gw cuma sendiri, hikss hihi.
"Foto : Gw ikutan duduk di depan panggung utama menunggu line up pertama, Vance Joy, lumayan ya pemandangannya"
Tepat 12.50pm Vance Joy naik k panggung dan memulai lagu pertamanya. Dari info yang gw dapat dari buku manual Laneway, Vance Joy berasal dari Australia, mengusung genre folk pop. Lagu yang dibawakan cukup merdu, dan sayang sekali pengunjung yang datang masih sedikit sehingga ga banyak yang memerhatikan penyanyi yang telah memiliki satu album ini.
"Foto : Vance Joy"
"Foto : Vance Joy on stage"
Setelah beberapa lagu, gw pun menyempatkan menghampiri counter Sepatu Docmart Singapore, untuk mengambil free gift berupa festival pack, yang isinya ada kipas angin portable, raincoat, kotak rokok, dan sticker Docmart. So happy to have these stuffs yang bakal mengingatkan gw akan festival keren ini hingga beberapa tahun kedepan.
"Foto : Booth Dr.Martens Shoes : Antrian para pengguna sepatu docmart demi free festival kits, pada keren-keren ye"
"Foto: Isi Festival Kits, cute!
Setelah itu gw juga ingin mencoba membeli makan dan minuman, damn mahal juga makanan ya, untuk yang paling murah aja sandwich seharga 8s$, yang lainnya seharga 10s$ keatas. Dengan keterbatasan uang gw pun menghemat dengan hanya membeli french fries dengan taburan mayonnaise seharga 4s$, namanya keren, “Torpedo Fries”, tapi tetep, itu cuma snack haha.. gw juga salah membeli minuman. tadinya gw ingin membeli beer, namun ternyata seharga 12 s$, yap akhirnya gw cuma membeli soft drink yang dituang di gelas dan dipenuhi oleh es batu. Dan harganya.. 4s$, apa apaan ini harganya sama kaya torpedo fries yang gw beli. Dan gw bru sadar waktu balik ke depan panggung ada booth ga jauh dari panggung yang menjual satu kaleng soft drink dengan harga yang sama 4 s$. yahh nasi udah jadi bubur.. bubur ayam biar enak sih, tapi ga ada yang jual. Lets Go.. Tepat pukul 1.40pm konser langsung dilanjutkan oleh Youth Lagoon di stage sebelahnya, Derrick Stage. Band asal Amerika Serikat ini mengusung genre Psychedelic Rock, yang terinspirasi oleh Pink Floyd dan Flaming Lips. Band yang dengan leadernya Trevor Powers ini membawakan beberapa lagunya yang cukup mengawang-awang namun masih memiliki power tersendiri dari setiap nada dan musik yang mengalun. Penonton Youth Lagoon meskipun banyaknya tidak jauh berbeda dari penonton Vance Joy, tapi sedikit lebih tertarik mendengarkan musik mereka yang eksperimental.
"Foto : Trevor Powers of Youth Lagoon"
"Foto : Youth Lagoon on stage"
Setelah Youth Lagoon, Roscoe Stage tampak bersiap-siap menampilkan penampilan band Indie Rock The Jezabels, asal Australia. Dari info yang gw dapet, mereka sempat menjadi band pembuka Tegan and Sara, dan beberapa lagu mereka menjadi hits di Australia. Album mereka pun dinobatkan menjadi album of the year oleh Rolling Stone (sepertinya Rolling Stone Australia). Sewaktu di Indonesia gw juga penasaran dengan band ini dan melihat-lihat video mereka di Youtube, musik mereka sangat potensial untuk berdansa ria dan karakter vokal dari Hayley Mary yang cukup powerful.
"Foto : The Jezabels : Nik Kaloper(Drums), Hayley Mary(Singer), Heather Shannon(Keyboards), Samuel Lockwood(Guitars) (Kiri-kanan)"
Yang jadi perhatian gw adalah mereka tampil tanpa personil bass player, tapi suara low tersebut masih bisa kita rasakan dan tampaknya itu berasal dari permainan sang keyboardis Heather Shannon. Lagu mereka yang gw suka adalah Easy To Love, dan single terbaru mereka yaitu "Look of Love". Simply amazing.
"Foto : The Jezabels on Stage"
Selama sekitar 1 jam, pertunjukan langsung dilanjutkan oleh Unknown Mortal Orchestra (UMO) di Derrick Stage. Memang jadwal festival ini begitu ketat, dan tanpa banyak jeda waktu konser langsung dilanjutkan antara line up Roscoe dan Derrick Stage. Band UMO ternyata berasal dari New Zealand. Dari musik yang mereka tampilkan sepertinya bergenre funk eksperimental. Cukup asik, dan ada satu lagu yang nyangkut di gw, yaitu "From the Sun".
"Foto : Unknown Mortal Orchestra : Jake Portrait(bass), Ruban Nielson(Vocals,Guitar), Riley Giare(Drums)
Tapi gw juga penasaran untuk melihat band di Cloud Stage yang menurut jadwal akan menampilkan musisi asal Singapore, Vendetta. Waktu yang dijadwalkan di Cloud Stage sering kali bertabrakan dengan panggung utama ini, kasihan juga karena ketatnya jadwal gw yakin pengunjung lebih banyak yang memilih menetap di depan panggung utama dengan artis-artis yang lebih tenar daripada Cloud Stage, termasuk gw yang kurang mengenal musisi-musisi seperti Gema, Jamie XX, Mount Kimbie. Gw pun menghampiri Cloud Stage, dan yang gw lihat ada sepasang DJ cowo dan cewe sedang memainkan musik electronic. Menurut info yang gw dapat, gw asumsikan sang cowo adalah Jono Ma, salah satu personil dari band duo personil asal Australia, Jagwar Ma.
"Foto : Jagwar Ma : Gabriel Winterfield dan Jono Ma"
Menurut sosial media Laneway, sang vokalis Gabriel Winterfield mengalami suatu kecelakaan yang membuatnya batal tampil di Laneway Singapore. Gw juga liat sang cowo itu tampak kebingungan menggunakan DJ Equipmentnya, menurut sosmed Laneway, Jono Ma bakal tetap tampil dengan DJ set dan itu belum pernah dia lakukan, jadi semacam surprise deh buat para fans sekaligus mengobati kekecewaan atas batal performnya. Nah dari info itu, gw yakin nihh, pasti dia si Jono.. Ma. Pengunjung yang datang menonton pun ga keberatan dengan Jono yang tampak kebingungan menggunakan DJset nya, pergantian antara lagu juga kedengaran kasar, mungkin sang cewe di sebelahnya berguna sebagai tutor Jono haha biar ga kacau kacau banget performnya. Melihat situasi ini gw akhirnya balik lagi ke panggung utama, dan UMO masih tampil.
"Foto : Unknown Mortal Orchestra on stage"
Kurt Vile langsung menyambut penonton usai UMO menyelesaikan lagu terakhirnya. Kurt Vile berasal dari Amerika Serikat. Di Indonesia, gw browsing lagu-lagu Kurt Vile dan terasa sekali aksen Amerika Selatan di vokal Kurt. Melihat background panggung dan penampilan mereka, bayangkan kita seperti berasa di Woodstock dan menonton Lynyrd Skynyrd. Ya kurang lebih seperti itulah, meskipun Kurt Vile ga koboy-koboy amat, tapi permainan gitarnya boleh diacungin jempol.
"Foto : Kurt Vile"
Ga sampai beberapa lagu, gw pun dilanda kelelahan. Dengan 1 token seharga 2s$ gw bs beli air mineral dingin, dan gw pun berbaring di sebelah kiri panggung dekat tenda media. Gw jg sesekali masih bisa melihat penampilan Kurt Vile dari layar LED di samping panggung. Gak lama kemudian perhatian gw terusik oleh banyaknya orang-orang berkumpul di depan tenda media. Ternyata mereka menghampiri 2 personil dari Youth Lagoon, gitaris Logan Hyde dan pemain bass yang entah siapa namanya untuk berfoto bersama. Gw pun memberanikan diri ikut berfoto dengan mereka, lumayan lah. haha
"Foto : Kurt Vile on Stage di layar LED sisi kiri panggung"
"Foto : Gw (tengah) bersama Gitarist dan Bassist dari Youth Lagoon, tampaknya mereka baru saja menyelesaikan press conference di tenda media"
Gw ga terlalu memperhatikan penampilan Kurt Vile hingga selesai, karena tak sadar gw tertidur di hamparan rumput dengan hanya beralaskan syal hitam gw, di lokasi tempat gw rebahan sebelumnya. Pokoknya terasa peaceful deh tidur disana haha. Begitu gw terbangun, waww dari hamparan padang rumput berganti menjadi hamparan manusia, haha rame!
"Foto : Pengunjung yang makin ramai ketika jadwal Kurt Vile manggung"
"Foto : View dari tempat gw berbaring"
Gw kembali melihat jadwal, dan ternyata XXYYXX tampil di Cloud Stage, gw bergegas kesana, tapi entah kenapa orang-orang berjibun malah bergegas ke arah panggung utama. dan jrenggg terdengar suara musik yang baru aja gw suka berasal dari band Skotlandia, Frightened Rabbit, dengan lagunya Holy sebagai pembuka. Dalam hati gw, so sorry XXYYXX gw pgn nonton Frightened Rabbit aja biar ga ngantuk lagi haha (padahal insting gw jg bilang kayanya XXYYXX udah selesai manggungnya). Lagu Holy dari Frightened Rabbit bener-bener bikin gw semangat lagi, dan gw balik lagi ke panggung utama. Tapi sayangnya, knapa lagu yang satu-satunya gw tau jadi lagu pertama.. ?? Bisa ditebak setelah lagu itu mood gw jadi turun lagi meskipun lagu-lagu lain yang dibawakan cukup bagus dan potensial untuk bisa bikin semangat lagi.
"Foto : Frightened Rabbit"
"Foto : Frightened Rabbit on Stage"
Tapi gw berpikir untuk istirahat lagi, ibarat gw harus mencharge badan gw lagi, sebagai persiapan menonton sang Headline, Haim dan Chvrches. Sayang sekali line up di Cloud Stage belum bisa menyaingi line up di panggung utama yang bertubi-tubi, apalagi Jagwar Ma sang Headliner di Cloud Stage batal tampil. Gw pun kembali berbaring di tempat tadi, dan orang-orang juga makin banyak yang mengisi tempat kosong, beruntung masih ada space buat gw berbaring hehe.
Tak lama setelah Frightened Rabbit, ada musik eksperimental rock lainnya yang merupakan band tuan rumah, bernama The Observatory. Tetap gw masih betah berbaring, untuk menghemat tenaga. Musik The Observatory mungkin cukup berat untuk didengar orang awam, karena musik yang mereka usung tidak biasa, mengawang-awang dengan distorsi gitar seperti membawa kita antara surga dan neraka, vokal yang terdengar seperti medendangkan nada-nada tegas dan tetap pada alur musiknya. Dari Info yang gw dapat dari media dari Indonesia, band ini cukup idealis dengan hanya mengeluarkan album mereka dalam format vinyl, tidak digital, tidak EP, apalagi album. WOW sekali. The Observatory sukses membawa gw terbang dengan berat di langit langit Singapore.
"Foto : The Observatory"
Gw merasakan sedikit lapar dan berencana membeli makan. Tebak apa yang gw lihat, adalah antrian sepanjang 100m di semua booth makanan. Gw pun ga jadi makan dan hanya membeli sebotol minuman air mineral tanpa mengantri.
"Foto : Ramainya pengunjung dan antrian booth makanan setidaknya mencapai 100 meter lebih"
bersambung...
Laneway Singapore Trip's Journal Part 2 : Moments Before Festival
"Foto: Jembatan di daerah Clark Quay dekat Home Club"
"Foto:Lingkungan Sekitar Home Club"
Setelah 8.30pm gw brangkat menuju Home Club, deket Clark Quay dengan berjalan kaki, club ini ternyata menjadi salah satu tempat nongkrong anak gaul Singapur, anak-anak cowonya rata-rata memakai baju kemeja bermotif dan tote bag, di Jakarta ini juga mulai ngetren, cewe-cewenya juga istimewa modis modis dan mukanya juga bagus bagus. Ada bule bule pirang dan ada juga yang Chinese manis. Gw dong berasa freak dateng-dateng sendiri masuk with a glass beer free dari entry nya sebesar 12 s$. Di dalam Home Club, ternyata event sudah dimulai dengan penampilan dari seorang DJ dengan musik trippynya, ruangan itu penuh warna biru dan sesekali seorang panitia menyalakan smoke generator, jadi suasananya lumayan lebih trippy and spacey. Di belakang DJ itu juga tampak sorotan proyektor dengan gambar aliran air, pol ngawang-ngawang ini vibenya. Setelah itu dilanjutkan lagi oleh DJ lainnya yang didampingi motion graphic engineer disampingnya, ya kurang lebih sama dengan DJ sebelumnya diawali dengan musik trippy tapi makin lama vibenya makin kencang dengan ada dentuman drum, gw sedikit kurang ngerti dengan pembagian subgenre musik ini, jadi ya nikmati saja, cheers..
"Foto: DJ pertama yang perform di Blue Hour Session"
"Foto : Penonton saat DJ ke 2, anak2 gaul Singapur mulai berdatangan"
Satu jam terlewatkan, DJ tsb juga selesai tampil, terdapat panggung disebelah DJ tersebut masih kosong, dimana Marcel? entahlah daripada bengong ga jelas, gw pun keluar dan melihat-lihat lingkungan sekitar, Club tersebut terletak di depan sungai, banyak yang lalu lalang dan banyak restoran disana.
"Foto : Suasana di luar Home Club setelah DJ ke 2 perform"
Sekitar 15 menit gw balik lg ke Home Club dan ada 2 orang di panggung tersebut yang ga lain adalah Marcel Thee dan Gitarisnya dari Sajama Cut, Dion. Mereka hanya membawakan 3 lagu ciptaan mereka. Gw juga bingung begitu singkatnya penampilan mereka.
"Foto : Marcel dan Dion performing"
Setelah mereka turun panggung barulah gw menghampiri dan berkenalan. Sebelumnya gw tahu Marcel Thee karena reviewnya tentang band gw Unplugged Jackie di media Jakarta Globe. Gw juga berkenalan dengan Eric Wirjanata yang ternyata adalah sang empunya media musik online Deathrockstar, mereka tampil disana dalam rangka kerja sama Eric dan EO setempat. Dan sebagai hadiah ulang tahun berupa gigs untuk Marcel yang juga akan tampil besoknya di atamerica, Jakarta. Malam itu pun dilanjutkan dengan ngobrol dan jalan-jalan bareng mereka mencari makan di sekitar. Setelah ngobrol barulah gw tahu kalo terjadi kesalahpahaman antara pihak Marcel dan pihak Event Organizer. Tapi itu tidak menjadi masalah karena antara Eric dan EO tersebut adalah teman lama. Gw juga sempat mampir di hostel mereka yang hanya berjarak 200m dari hostel gw, dan hostel mereka way better dari hostel gw. Next time that hostel definitely will be the hostel for me to stay in Chinatown! haha
"Foto : Club Street, ibaratnya Kemang kalo di Jakarta tapi lebih exclusive keliatannya"
Jam menunjukan pukul 12 malam, kami dilanda kelaparan dan ingin mencari makanan. Gw yang ga tau jalan di sana cuma mengikuti saja dibelakang. Kami menyusuri jalan-jalan dimana di sekelilingnya terdapat banyak sekali bar dan orang-orang asing banyak yang hangout hingga menutupi jalan tersebut. Kalo tidak salah namanya adalah Club Street. Memang sesuai namanya, jalan ini seperti club outdoor. Sekitar 15 menit, kami belum juga mendapatkan restoran yang layak, apalagi itu adalah jam tengah malam dan restoran dipastikan sudah banyak yang tutup. Tapi untungnya kami menemukan restoran yang ternyata ada di sebelah hostel Marcel dkk. haha.
"Foto: Gw ngikutin Marcel, Eric, & Dion, jalan di sekitar Chinatown, nyari ganjelan perut"
Setelah makan, kami mampir sebentar di pagoda street, dan disana yang buka tinggal sedikit, dan ada lapak pernak pernik Afrika, so unique dan gw naksir dengan baju motif afrikanya, yang seharga 30S$ atau hampir seharga 300ribu, mahal sekali ya. Gw tawar pun hanya bisa turun mnjadi 25s$. Gw pikir-pikir kayanya harus simpen uang dulu, mungkin besok gw lebih perlu lagi untuk digunakan di venue festival. Eric yang akhirnya membeli pernak pernik entah untuk oleh-oleh atau untuk dia sendiri. Dan jalan-jalan pun selesai, gw hrus berpisah dengan mereka. Mereka juga harus pulang ke Jakarta, karena Sabtu malam adalah jadwal Sajama Cut perform di Atamerica. See y'all next time! Di hostel, gw pun istirahat sambil mencharger hp, persiapan untuk besok. 25 Januari Gw terbangun pd jam 7am, dengan beberapa orang yang lalu lalang, membuat tidur gw menjadi kurang nyaman. Gw berusaha mengulur waktu untuk bangun hingga jam 8.30am, karena ga ada yg bisa gw lakukan, toko2 masih tutup, dan gw juga ga bisa jalan terlalu jauh menghindari ketersesatan dan jam 10 gw hrus berada di pintu masuk venue untuk menukar voucher gw dengan tiket masuk. Sekitar jam 08.30 lebih gw kluar dari hostel dengan barang-barang yang sekiranya hanya diperlukan untuk di festival. Kacamata, checked! topi, checked! Sun Cream, check! Raincoat, check! Tissue, check! and Money, check! dan yg selalu gw bawa di kantong celana gw adalah paspor! Setelah itu gw mampir sebentar di McDonald untuk sarapan. Setelah dari McDonald lanjut ke MRT.
"Foto : Pagoda Street, Chinatown, toko-toko masih tutup"
Ga terasa ternyata naik MRT begitu cepat, hanya 20 menit, melalui rute downtown line, gw sampai di Bayfront Station. Keluar dari Bayfront station gw langsung ngelihat kemegahan gedung Marina Bay Sands dari dekat, gedung dengan bentuk seperti 3 jari ke atas dan diatasnya ada bangunan seperti noah’s ark, ini benar-benar bikin gw kagum. Kalo ada air bah, yang selamat mungkin ya cuma orang-orang yang diatas sana kali ya.
"Foto: Gedung Marina Bay Sands, view setelah keluar dari Bayfront Station"
Venue Laneway terletak di The Meadow, Garden by The Bay, tepat dibelakang Marina Bay Sands. Menurut sekuriti disana untuk menuju ke Garden by The Bay gw harus ngelewatin jembatan yang menghubungkan Marina Bay Sands dengan Garden by the Bay. Jembatan itu sendiri ada di lantai 6 dengan nama Dragonfly Bridge. Dengan perasaan merinding gw pun naik ke lantai 6 dan menyeberangi Dragonfly Bridge mulai dari dalam gedung hingga liar gedung Marina Bay Sands. Langsung tampak 3 tower Super Tree Grove tepat berhadapan dengan Marina Bay Sands.
"Foto : Dragonfly Bridge, Marina Bay Sands lantai 6, akses ke Garden By the Bay"
"Foto: Super Tree Grove, view dari Dragonfly Bridge"
Gw pun menuju ke pintu masuk venue laneway untuk menukarkan voucher dan token food&beverage. Gw merasa kesulitan berkomunikasi di pintu masuk karena gw pas berhadapan dengan panitia keturunan Chinese Singapore, Singlish dengan aksen Chinese benar-benar bikin gw bingung dan ga mengerti kata-kata apa yang dia keluarkan, beruntung temannya yang keturunan Melayu datang membantunya untuk berkomunikasi dengan gw. Dari penukaran voucher tersebut gw mendapatkan tiket masuk berupa gelang dan token F&B bernilai 20s$ (untuk membeli makan dan minum di dalam venue gw harus mnggunakan token ini).
"Foto: Token F&B"
"Foto : Gelang sebagai tiket masuk venue"
Dari panitia, gw dikasih tau kalo pintu venue baru dibuka pada jam 12pm sedangkan sekarang bru jam 10.30am, dan gw disuruh mengantri di tempat yang disediakan pas di sebelah pintu masuk. Pengunjung yang datang baru sekitar 50 orang dan gw ga kan mau mengantri karena cuacanya yang sangat cerah bikin gw malas mengantri di bawah sinar matahari yang terik haha.. lagipula dengan antrian 50 orang juga ga akan merugikan gw kalau memang harus antri untuk masuk. Gw pun berkata pada panitia klo gw ingin berjalan jalan dulu melihat sekitar Garden by the Bay.
Dari pintu masuk Laneway gw menuju Super Tree Grove tadi, gw yang ga mau rugi menyempatkan diri naik ke atas tower tersebut dengan membayar 5s$. Dari atas Super Tree Grove yang setara dengan kurang lebih bangunan 5 lantai, gw bs ngeliat sekitar Garden By The Bay, termasuk venue Laneway. Lumayan untuk menghirup udara segar dan merasakan angin sepoi, gw disana sampai hampir 30 menit. Di Garden by the Bay gw berjalan dengan sangat santai supaya gw bisa mengulur waktu hingga jam 12pm.
"Foto : Super Tree Grove, "it took a minute to get up there, but it will be in years to grow the tree""
"Foto: Venue Laneway Festival, view from Super Tree Grove."
bersambung...
Laneway Singapore Trip's Journal
24 Januari Jumat pagi gw sudah persiapkan semua perlengkapan yang harus gw bawa ke Singapur. Seperti biasa lah beberapa set baju, perlengkapan mandi, charger HP, Paspor!, tiket pesawat pulang pergi, tanda bukti penginapan. Yang paling paling penting lagi, tanda bukti pembelian tiket laneway, kalau yang satu ini ga gw bawa ya intinya sia-sia aja perjalanan gw, haha. Karena Laneway adalah tujuan utama gw datang k singapur, ga ada yang laen. Memang rasanya masih mimpi bagi gw bisa pergi ke Laneway untuk nonton band yang sebenarnya baru aja gw suka, tapi bener-bener bikin gw jatuh cinta. Band itu ada dua dan semuanya bervokalis cewe, HAIM dan CHVRCHES. Sebelum gw ngelanjutin cerita perjalanan gw, gw bakal ngasih kalian info tentang dua band ini yang gw tau.
"Foto: Haim: Alana, Danielle, Este (kiri-kanan)"
HAIM adalah band asal Los Angeles, Amerika Serikat, yg terdiri dari 3 cewe kakak beradik, Este, Danielle, Alana. Band ini menurut gw punya banyak banget kelebihan mereka buat disukai, selain musikalitas mereka yang ga perlu diraguin lagi, ada lagi dari sisi image mereka yang sangat kekeluargaan saat manggung ataupun saat interview (2 bulan ini gw rajin browsing Youtube mereka). Dan yang ga kalah menarik yaitu karakter dari masing-masing personil. Este sang kakak tertua punya kebiasaan lucu saat manggung yaitu peringai wajahnya yang nggak biasa waktu ngebass. Orang-orang nyebutinnya Bassface. Selain itu juga, dia yang paling bikin suasana manggung jadi meriah, dengan obrolan-obrolan lucunya (paling sering dia ngajak penonton buat ngerasain seandainya kita semua lagi di ruang keluarganya keluarga Haim yang seru). Danielle, anak tengah, adalah personil yang paling cool dan ga banyak bicara, tapi dia adalah vokal utama di band ini, karakter vokalnya juga jadi salah satu kekuatan di band ini. Aksinya bermain gitar juga ga kalah ciamik, meskipun simple tapi klo ngeliat dia lagi perform adalah sesuatu yang sangat istimewa. Danielle pernah menjadi pemain perkusi Julian Casablancas di tour album solonya. Yang terakhir adalah Alana, si bungsu ini juga selalu semangat ketika perform dan interview, kebiasaan yang sering dia lakukan adalah menyemangati penonton dan dia selalu menghampiri penonton ketika mereka membawakan lagu “Let Me Go”, Di performance band ini Alana memegang kendali di banyak instrumen, gitar, keyboard, dan perkusi, dan bisa dibilang dia dan Este adalah duo yang paling klop, ada di suatu interview dari BBC Inggris mereka ditanya jika mereka harus menggabungkan band mereka dengan salah satu line up Reading Festival, Inggris dan harus menggabungkan nama mereka juga, dan mereka menjawab dengan bersamaan dan tidak sengaja, “Haiminem!!” (Haim +Eminem). Dari jawaban itu juga bisa kita lihat, mereka sangat menyukai musik RnB dan HipHop, dan hal ini juga mempengaruhi musik mereka menjadi lebih unik dan seru buat sing along. Dari kebiasaan dan karakter itulah yang bikin gw kangen dari setiap performa mereka setiap manggung, interview, ataupun videoklip mereka yang keren-keren. Bicara tentang musik mereka, dari info yang gw dapet, sejak kecil mereka memang sudah dilatih untuk bisa bermain instrumen, dan yang awal adalah bermain drum. Sejak kecil mereka telah mendengarkan musik bersama orang tua mereka. Danielle dan Este pernah tergabung dalam band pop The Valli. Mereka juga bersama orang tua mereka membentuk band Rockinhaim. Hingga akhirnya Haim pun dibentuk dengan hanya 3 personil tanpa orang tua mereka. Dan yang bisa kita liat di salah satu setlist wajib mereka di kala manggung adalah lagu “Oh, Well” dari Fleetwood Mac, yang menggambarkan bahwa mereka adalah manusia Rock! Meskipun mereka juga menggemari musik masa kini yaitu RnB, HipHop, seperti Kanye West, Eminem, dll, musik mereka menjadi kaya dan unik dengan perpaduan vokalnya. Album Days Are Gone adalah album pertama mereka, padahal mereka sudah malang melintang di industri musik Amerika dengan single-single seperti Forever, The Wire, Don’t Save Me, yang cukup mengantar mereka ke dunia ketenaran dan mengantar mereka juga menjadi band pembuka Mumford & Sons, Ellie Goulding. But look at them now, they are the headliner!
"Foto: Chvrches: Iain Cook, Lauren Mayberry, Martin Doherty (Kiri-kanan)"
Band yang berikutnya adalah CHVRCHES. Band asal Skotlandia ini mengusung genre Electronic Synth Pop, dengan kekuatan vokal dan lirik dari sang Vokalis Lauren Mayberry, dan dipompa lagi oleh musik dari Iain Cook dan Martin Doherty, sehingga musik mereka… MASSIVE! Meskipun vokal dari Lauren terdengar sangat imut dan sangat teenager, tapi perpaduan dengan musik dari kedua personil lain membuat keseluruhan musik mereka sangat lah powerful. Lagu lagu mereka seperti The Mother We Share, Gun, Lies, We Sink sudah menjadi hits di berbagai penjuru dunia, tapi karya mereka lainnya di Album “The Bones of What You Believe” perlu untuk diperhatikan dan bisa menjadi playlist kamu untuk sebulan penuh atau lebih, ya karena musik mereka adalah adiksi! Selain musik mereka yang luar biasa, gw juga mengagumi penampakan Lauren yang imut dan adorable, dan ternyata juga dia adalah seorang feminis (mengenai ini silahkan browsing sendiri ya). Lauren sebelumnya tergabung dalam band Indie Pop bernama Blue Sky Archives, tetapi belum mengeluarkan satu pun album. Banyak yang menggemari Blu Sky Archives dan menyayangkan bubarnya band tersebut, tapi ada juga yang berkata “Thanks God Lauren is in CHVRCHES, she’s so fit in the band”. Di penampakannya yang imut banyak yang mengira “wah masih muda banget, masih anak sma nih, haha ternyata doi udah selesai kuliah hukum, take back your thoughts, guys! Di penampilan saat mereka manggung, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa, tapi kita akan terbius dengan vibe musik mereka yang ga akan membiarkan badan kita ngga goyang. Lanjutt, Jumat siang gw harus ada di Soekarno Hatta Airport karena jam 2pm adalah jadwal gw terbang ke singapur. Ga lupa gw pake sepatu docmart gw, well cuma karena kata di facebook pagenya, docmart singapur bakal nyediain festival kits for free! buat pengunjung yg make tuh sepatu.
haha i know its a cheesy reason, but YOLO haha.. FYI, gw ngerasa sedikit gugup di perjalanan ini karena gw belum pernah keluar negeri sendiri sebelumnya. Gw juga rada ribet buat persiapin perjalanan ini. Gw browsing segala hal tentang Singapur, dari penginapan, transportasi, peraturan-peraturannya (Singapur adalah negara dengan peraturan yang ketat, kalo kita melanggar, hukuman dendanya berat!). Sampai-sampai gw beli 2 buku tentang travel ke Singapur. Ga lupa sebelumnya gw juga perbarui Paspor gw yang ternyata habis di bulan Juni 2014 (Peraturan mengatakan minimal 6 bulan buat bisa k Singapur/ negara lain, jadi supaya aman gw perbaruin aja, dan ngurusinnya memang gampang). Dengan tas ransel dan sepatu docmart gw, gw lanjut ke bandara dengan segala macam prosesnya, terbang, dan sampai di Singapur jam 5 sore waktu Singapur (1 jam lebih cepat dari Jakarta).
Sesampai di Singapur, gw langsung naik kereta MRT menuju Chinatown tempat gw menginap, memang transportasi ini luar biasa, benar2 memudahkan kita untuk berjalan-jalan di Singapur dan tarifnya juga murah. dengan 2 kali berpindah kereta yaitu di TanahMerah dan Outram Park. Akhirnya gw sampai di Chinatown. Gw sedikit kaget ketika keluar dari stasiun, pemandangan ramai langsung gw lihat yang ternyata adalah Pagoda Street pusatnya perbelanjaan di Chinatown, dan saat itu adalah momen dimana orang-orang Chinese sedang menyongsong perayaan Tahun Baru Imlek yang akan diadakan minggu depannya. Ingin rasanya melihat-lihat. Tapi, bawaan yang berat mendorong gw untuk cepat-cepat melakukan check in hotel supaya gw bisa menaruh barang di hotel. Hotel tempat gw menginap adalah hostel, yaitu hotel bagi traveler dengan ruangan seperti barak tentara, dimana kita bergabung dengan traveler lain di satu ruangan. Sebenarnya gw salah memesan tipe tempat tidur (well, i’m a first-timer traveler, and the victim of low price ad haha). Gw dapet tempat tidur terbuka dekat pintu, padahal yang lain ada tirainya. Yah nasib memesan yang termurah ya gini, well its okay karena gw adalah orang yang cuek, dan juga ga terlalu banyak yang lalu lalang setiap gw ada di hostel. Tempat tidur gw adalah tempat tidur tingkat, gw kebetulan dapet yang diatas, sedangkan dibawah ada bapak bapak Chinese yang kreatif menggunakan selimutnya sebagai tirai, jikalau dia tidak memakai tirai, maka bisa dipastikan dia terganggu dengan orang-orang yang lalu lalang. At least gw dapat selimut untuk menghindari kedinginan.
"Foto ranjang tingkat tempat gw tidur di hostel"
Setelah Check In, gw dikasih kunci loker buat menaruh barang-barang. Dan gua pun memisah misahkan barang yang perlu dibawa di ransel dan mana yang tidak untuk ditaruh di loker. Saat itu jam menunjukan pukul 6.30pm, dan gw ingin berbaring sebentar. Pada jam 8pm gw berencana menonton salah satu event bernama Blue Hour Sessions yang kebetulan menggaet tamu dari Indonesia, yaitu Marcel Thee, terkenal sebagai vokalis band Sajama Cut, dan juga jurnalis musik dari Jakarta Globe. Gw mendapatkan informasi ini dari twitter Webzine musik bernama Deathrockstar.
"foto ketika gw menuju ke Home Club di Clark Quay (ini bukan gedung home club berada, hanya gedung yang gw foto secara random)"
bersambung...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Merchandise UJ (PRE-ORDER)
Buat kalian yang ingin dapet Tshirt Unplugged Jackie, silakan kontak kami di…
View Post
"Stranger" is one of 2013 must have Indonesian Indie band's Album by kvltmagz.com
10-album-musisi-indie-indonesia-rilisan-2013-yang-harus-dimiliki/
View Post