SAHABAT
Ada seseorang di dunia ini yang kini sangat rindu dengan sahabatnya. Mungkin tidak hanya dia namun sangat banyak orang di dunia ini yang tengah merasakan hal yang sama dengannya. Sebenarnya jarak yang terbentang tak terlalu jauh, hanya sekitar 1 jam perjalanan udara. Sebenarnya jarak mereka juga sangat kurang dari 1 jam, hanya sepersekian menit bahkan detik lewat perjalanan sinyal gelombang elektromagnetik. Sekali klik pesan sampai. Sekali klik pula pesan terbalas.. Tapi ada apa dengannya? Ia tidak pernah lagi menghubunginya. Tidak lagi pernah bertanya kabar tentangnya. Tidak pernah. Kenapa? Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Ia merasa bahwa diantara mereka ada sekat yang tiba-tiba saja tumbuh tinggi menjulang. Ia bahkan tak paham mengapa sekat itu harus tumbuh di antara ia dan sahabatnya. Dari balik sekat ia menunggu bahwa sahabatnyalah yang akan bertanya kabar terlebih dahulu. Ia menunggu.. berhari-hari hingga berbulan-bulan. Tak ada layangan pesan dari sahabatnya. Juga tak ada pesan yang muncul di akun sosmednya. Ia bertanya sendiri tentang perasaannya, apakah ia yang tertinggal atau ia di tinggalkan? Apakah ia yang menghilang atau sahabatnya yang menghilang? Entahlah.. kedekatan mereka sudah tak sehangat dulu. Seseorang tersebut hanya mengamati dari akun sosial media miliknya. Memastikan jika sahabatnya baik-baik saja. Memperhatikan perkembangan sahabatnya, apa yang ia lakukan dan lain sebagainya. Ia hanya pada sebatas mengamati dan berharap besar jika sahabatnya baik-baik saja. Tidak terluka fisik terlebih-lebih hatinya. Sahabatnya memang tidak mengetahui, tapi biarlah. Cukup ia harap dalam senyap semoga Allah menaungi mereka dengan hidayahnya. Mungkin mimpinya beberapa waktu lalu cukup menjadi pengobat untuk bertemu dengan sahabatnya. Mungkin itu cukup baginya. "Masih ingat saat kita menjebak diri untuk menunggu hujan? Saya harap kau tidak melupakannya.." Begitu lirihnya. Mataram, 14 Oktober 2014_8:47 PM















