Katamu Tuhan tinggal di dalam diri,
tapi kau berdoa menatap langit
tak menunduk menatap tubuh.
Seolah Tuhan begitu jauh.
Requiem, Adimas Immanuel.
.
.
Jam 8:07, matahari terbit terbahak bahak saat Amin meneduhkan harapannya di anak tangga suatu jembatan penyebrangan di kotamu.
Amin lemah, lemas tak berdaya. Manusia silih berganti turun dan menaiki anak tangga. Beberapa dari mereka, mengira amin tengah diserang sakit perut. “Orang ini memerlukan sesuap nasi ulam atau ambulan” Namun Tak seorangpun yang terpikir apa Amin mungkin memerlukan toilet.
Amin meratapi telapak tangannya, menghitung ulang jari jemarinya. Ingin rasanya Amin melihat bibirnya juga, namun apa daya Amin tak membawa cermin. Pun Amin menolak melihat bibirnya melalui ponsel, amin sedang kesal pada HPnya.
Aku berdoa menatap jari jemari ini, apa Tuhanku adalah jari jemariku? Yang mana Tuhanku, Tuhanku ada Sepuluh?. Amin menatap Ibu jarinya, lalu pandangannya beralih kepada kedua jari tengah. Amin segera beristighfar, memohon ampunan Tuhannya.
Aminah membatalkan order, Amin merugi. Tertimpa tangga setelah jatuh, jatuh cinta.
Kata tukang bubur Ayam yang sudah stand-by di lokasi penjemputan sedari subuh, Diketahui bahwa Aminah memilih naik Angkot. “Supir angkotnya masih muda dan agak tampan”, si tukang bubur belum pernah naik haji sepertinya.
Pada jembatan penyebrangan ini, Amin Berjanji akan menanti Aminah sampai nanti. Amin, adalah seorang pengagum Soe Hok Gie. “I AM NOT AN IDEALIST ANYMORE, IM BITTER A REALIST”, maka tak perlulah mengejar Aminah sampai mati.
Amin akan berdoa untuk Aminah, mendoakan keselamatan Aminah yang menyebrangi jalan, kebahagiaan Aminah yang diomeli nasabahnya, juga untuk kenantian agar jodohnya Aminah hanyalah amin seorang, “tetaplah, hanya doa yang mampu mengubah takdir” Amin memotivasi dirinya sendiri.
Pukul 9:07. Seorang pria yang hendak menaiki jembatan terhenti di sisi kanan wajah Amin. Pria muda yang sepertinya anak kampus itu mengeluarkan sebuah buku dari tas postman cokelatnya.
Amin menerima buku itu tanpa perlawanan dan membaca sampul mukanya, “Konspirasi Semesta”, seketika Amin dan pikirannya menghitung-hitung kembali jumlah planet yang ada di semesta ini.
#### Cerita ini sebenarnya menghasilkan 2600+ kata, jadinya banyak kalimat yang musti dipangkas agar 'muat' di Instagram. 😑