Review Jan-Des 2017: Tentang Kematian, Kelahiran, dan Segala di Antaranya
Kabar yang begitu mencekat bagi kami semua. Kami yang sejak tahun baru 2009 biasa menghabiskan tahun baru bersama, yang kami biasa lanjutkan bahkan setelah kami berpencar berbeda kampus dan kota. Malam itu terasa begitu hampa, alam kami seolah tiada. Sejak beberapa hari sebelumnya, kami mendapat kabar sahabat terbaik kami hilang dalam perjalanan tugasnya membangun PLTA di daerah terpencil di wilayah Aceh. Sebelumnya kami telah mengadakan doa bersama, tapi Allah tetap lah yang Maha Kuasa, dan kita hanyalah seorang hamba.
Sekitar subuh pertama di tahun ini, kami mendapat kabar bahwa jenazahnya sudah ditemukan. Perasaan yang sungguh asing bagi saya, yang baru pertama kali kelihangan teman dekat selama 23 tahun umur saya waktu itu. Baru terlelap 2-3 jam, kami langsung bersegera menuju rumah almarhum, rumah tempat kami pertama kali mengadakan rutinitas tahun baru bersama itu. Terasa berbeda memang, walau sekedar candaan lama tetap kami keluarkan tanpa sadar, sebagai usaha terbaik kami untuk saling menguatkan. Tapi suasana begitu syahdu, rekan sejawat seperjuangan begitu memenuhi jalanan yang tak biasanya begitu ramai di hari pertama tahun berjalan. Setelah menyiapkan berbagai keperluan untuk keberlangsungan shalat jenazah dan tamu yang tak hentinya datang, kami pun melihat mobil jenazah yang akhirnya muncul dengan seolah menghisap semua perasaan kami, sembari memunculkan segala memori bersamanya, dengan segala kenang tentang kebaikannya. Sadar tak ingin merepotkan keluarga, kami pun membubarkan diri ketika jenazah akan dibawa ke kampung halamannya. Bukan awal tahun yang diharapkan, tapi sungguh rasanya tidak ternilai. Saya pun merasa beruntung menyempatkan pulang ke Indonesia saat itu untuk kembali lagi di akhir bulannya.
Awal mula rangkaian rutinitas melewatkan pernikahan-pernikahan teman di tahun ini, dimulai dari salah satu yang terdekat, yang paling terikuti dalam prosesnya, yang sesungguhnya paling berat welewatkannya. Tapi apa daya, kuliah saat itu terlampau wajib dengan segala persiapannya. Meninggalkan Canberra dalam keadaan sejuk, kami datang disambut dengan suhu diatas 40 C di hari setalahnya. Wisata singkat di NASA Deep Space Communication Complex jadi salah satu yang berkenang. Perjalanan kami pun dimulai kembali, kami tidak pulang lagi sampai akhir tahun itu.
Bulan festival di Canberra. Australian day dengan fireworks terbesarnya (padahal cuma gitu-gitu aja, emang kota yang tak ramah dengan keramaian sih ya), hot air balloon festival (yang bagus banget sebetulnya, tapi sayang cuma berhasil terbang dua kali dalam seminggu itu), dan Canberra light festival (yang paling bagus secara eksekusi, surprisingly, tapi sayangnya hujan). Festival-festival yang kelak diperbincangkan ketika lonely planet secara mengejutkan mencantumkan kota ini di top 3 city to visit in 2018 nya. Bulan ini kami pun merayakan ulang tahun kami masing-masing lagi di bulan ini, secara makin sederhana setiap tahunnya.
Bulan ketika Indonesia sedang gaduh-gaduhnya tahun ini. Kubu satu mencalonkan gubernur favorit media (yang kelak jadi narapidana) yang kebetulan naik gara-gara gubernur sebelumnya gagal menuntaskan periodenya secara full disandingkan dengan plt gurbernur yang menerbitkan begitu banyak aturan dan rotasi kepemimpinan di masa jabatan super singkatnya itu. Kubu dua menjagokan last minute deal mantan favorit presiden yang gagal mempertahankan posisi mentri pendidikannya dengan pengusaha ganteng yang saya jarang dengar sebelumnya. Yang buat saya mikir lagi tentang makna demokrasi saat ini. Tapi, saya memilih disibukan dengan salah satu kuliah favorit saya disini: integration of renewable energy into power system and microgrids. Kuliah yang jadi fondasi thesis saya dan insyaAllah, karir saya kedepannya.
Dimulai ketika istri merasa melihat tikus di unit kami, yang saat itu saya tenangkan dengan mengaggap itu halusinasi semata. Sampai akhirnya si tikus melewati kaki saya sendiri. Ditambah kecoa-kecoa yang sudah menjadi rekan baik kami selama disana dan lingkungan yang makin kurang kondusif, kami pun membulatkan tekad untuk pindah akomodasi saat itu juga. Kebut apply di berbagai situs akomodasi, sampai akhirnya dapat lungsuran dari orang Indonesia juga. Tua dan berjamur memang, tapi rumah dua tingkat ini terasa nyaman dan luas, dengan halamannya yang bisa dipakai futsal dan observasi bintang. Kami pun secara kilat memproses perpindahan kami walau menghanguskan beberapa week unit lama yang terlanjur dibayar.
Awal ramadhan pun kami lewatkan di tempat baru hingga kami sadar bahwa istri tercinta terus ikut shaum bersama padahal sudah bukan saatnya. Untuk mencegah kemurungan yang biasa muncul sebelumnya, saya pun menyarankannya untuk jangan test pack dulu. Tapi kemampuan lobbying nya yang begitu meningkat membuat somehow saya pun menyerah, mengizinkannya untuk tes. Dan ternyata, betul positive. Tak ada keriuhan sama sekali, karena semua terasa begitu asing. Kami yang sudah melewati 30 periode siklus sebelumnya, yang sudah mencoba berbagai saran tips dan trick dari berbagai sumber, hingga titik saya seolah menyerah untuk berbuat lebih dan merasa ini semua bukan lagi tentang usaha. Malam harinya pun kami membeli another test pack yang ternyata menunjukan hasil yang serupa. Menjaga segala informasi ini cukup bagi kami dulu, hingga akhirnya kami mengunjungi dokter, melakukan test darah, dan secara medis betul-betul sudah dinyatakan hamil. Yang kerap membuat saya tergeleng mengingatnya hingga saat ini, seolah ditampakan berkali-kali tentang konsep sabar, syukur, dan tawakal dalam kehidupan. Yang saya coba dengan segala kerendahan hati untuk terapkan dalam harap saya tentang proses kelahiran dan mebesarkannya kelak. Laa haula wa laa kuwwata illa billah.
Rencana ramadhan kami pun berubah total. Biidzinillah, rumah ini berlokasi lebih dekat ke masjid. Masih diatas 9 km memang, tapi sudah cukup untuk masuk jarak jaminan 15 menit waktu tempuh di Canberra. Rindu masjid habiburrahman di Bandung pun terobati. Walau tidak sepenuh itu, tapi suasana multicultural dengan bacaan imam yang didatangkan langsung dari Madinah cukup membangkitkan lagi semangat Ramadhan kami. Hikmah lain rumah baru kami adalah mempermudahya kunjungan keluarga yang datang beberapa hari setelah lebaran. Satu kamar yang belum berpenghuni cukup sebagai tambahan ruang buat keluarga yang berkunjung. Selanjutnya adalah perjalanan luar biasa, salah satu yang paling berkenang. Menginap di resort salju dengan segala aktivitasnya, mengitari Canberra yang walaupun sepi tetap mebuat kita merasa waktu tak jua cukup, dan lima hari di Sydney yang menjadi hiburan luar biasa tapi juga sambil memantapkan perasaan kami bahwa ketenangan Canberra begitu mewah buat kami. Metropolitan bukanlah habitat alami kami.
Di awal juli, mereka pun pulang. Perpisahan sederhana di bandara, sebetulnya. Tapi mengingat entah kapan kami akan bertemu lagi cukup mebuat rasa haru kami membuncah kembali. Kami pun pulang melewati perjalanan ratusan kilometer bus dengan persaan bercampur aduk. Senang, tenang, rindu, haru, berdendang begitu syahdu. Ah ya, dede bayi sayang begitu supportive sekali di perjalanan ini. Masih trimester awal yang rawan, tapi ibunya tidak mabok berarti, dan kondisi cukup bugar untuk bermain salju, perjalanan total diatas 500 km, dan jalan kaki jauh tempo cepat ala metropolitan Sydney. Selalu merasa diingatkan, Laa haula wa laa kuwwata illa billah.
Semester terakhir menyicip perkuliahan disini, sebelum full thesis di semester berikutnya. Ambil 4 kuliah yang super berbeda semester ini: programming, climate science, science communication, dan energy policy. Dengan ekspektasi awal programming sekedar tau, climate science akan berdarah-darah untuk sekedar credit demi keilmuan yang diincar, science communication sekedar selingan kuliah gampang, dan energy policy selayaknya kuliah policy lain yang saya tidak begitu aktif. Kadarullah, semua begitu terbolak-balik. Saya mencoba mendalami lebih kuliah Python dengan tugas besar saya putuskan kerjakan sendiri instead of berkelompok sesuai anjuran. Climate science justru jadi kuliah favorit dan yang berhasil dapet grade terbaik dan malah saya kelabakan di science communication yang super menitikberatkan pada kemampuan writing bersanding dengan native yang memenuhi kelas. Dan kuliah energy policy pun lebih mampu saya nikmati daripada perkiraan sebelumnya.
Mendengar kata pembenan dakwah, mustahil buat saya untuk mencegah nostalgia tahun-tahun saya di Gamais. Diangkut dari serak-serak kampus yang tak bernilai, tiba-tiba beban syiar islam di kampus sudah ada di pundak. Sedikit nostalgia itu yang terbersit ketika diminta untuk mengisi amanah dakwah lain disini: coordinator pengajian remaja atau kepala sekolah TPA. Dengan berbagai pertimbangan, pengajian remaja yang saya pilih sambil tetap aktif memenuhi kebutuhan rohani di TPA. Tak semewah perjuangan dulu memang, tapi lebih dari cukup untuk mengembalikan lagi kenangan itu.
Kandungan istri udh lebih dari setengah jalan, dan segala persiapan penyambutannya mulai dilakukan. Selain barang-barang yang didominasi lungsuran komunitas indonesia disini, kami pun semakin rajin mengisi memori-memori indah disini. Bersyukur, tempat hiburan di Canberra begitu melimpah, murah, dan mudah bagi kami. Canberra yang tahun lalu kami kenal, betul-betul sudah ada di hati kami.
Perkuliahan semester ini resmi berakhir. Dan tepat dihari terakhir ujian, malamnya saya langsung tancap gas nyetir ratusan km menuju Sydney. Yup, pertandingan kedua terakhir sebelum rangkaian piala dunia dimulai dilangsungkan di Sydney antara tim dari dua benua yang super barjauhan: Australia dan Honduras. 77 ribu penonton hadir di stadion, sekitar dua kali lipat kapasitas stadion si jalak harupat. Istri yang masuk trimester akhir begitu enjoy menyaksikan pertandingan dan ketiga gol Australia yang secara live kita liat di depan mata (gol Honduras jauh, liat via layar, wkwkwk). Pulang stadion pun harus jalan kaki berkilometer ke akomodasi melewati jalanan dan kolam. entah apa itu. Ya Allah, malam itu lagi-lagi aku jatuh cinta sama wanita ini, dan tentu juga dengan yang dikandungnya.
Daaan, tiba lah di penghujung tahun. Diingatkan oleh Allah melalui ujian terkait persoalan thesis, pergantian supervisor, dan data-data penelitian yang tak kunjung jelas. Juga merasakan ikatan aneh antara saya dan keilmuan ini: begitu merasa bodoh, tapi begitu merasa ingin tahu dan ingin menerapkannya sesegera mungkin. Rumah di renovasi di minggu terakhir tahun ini untuk kemudian diakhiri dengan kembang api jam 9 malam yang kami saksikan di pinggir danau kampus tercinta di akhir tahun. Untuk kemudian pulang dengan berbagai kecambuk perasaan, dan pemutaran memori yang lalu saya tumpahkan dalam tulisan ini.
Sekali lagi mengulang perkataan di tahun lalu bahwa sejarah hanya akan jadi kesia-siaan tanpa kemauan dan keinginan untuk mengambil pelajaran didalamnya. Maka izinkan saya berbagi tulisan ini dengan harapan sebagai penguat dan sumber pelajaran bagi saya pribadi di perjalanan tahun berikutnya seperti yang tulisan tahun lalu telah lakukan. Ssykur-syukur kalau juga mampu berguna bagi yang juga ingin sekedar mengambil hikmah dari perjalanan singkat kami dari belahan selata dunia.
Diawali dengan kematian, lalu kemudian kabar tentang potensi kelahiran, membuat tahun ini tak kalah berkenang. Tahun yang datang pun tak akan jauh dari kedua itu, karena sekarang kita betul-betul berada diantara keduanya.