Sudah setahun lewat satu hari.
Setahun lalu, hari ini, rasanya luar biasa.
Setahun lalu, rasanya banyak pertama-kali-dalam-hidup dimulai. Pertama kalinya, mencoba kuat dihadapan mama dengan berkata, "Ma, sekarang ganti doanya, minta yang terbaik ya, bukan minta papa sembuh," ketika papa sudah kewalahan bernapas dalam tidurnya. Padahal saat itu, saya gemetar, pun tidak yakin dengan ucapan sendiri.
Pertama kalinya, menuntun papa dengan dzikir, sebisanya. Ga pernah terpikirkan akan ada di posisi seperti ini, secepat itu. Walaupun awalnya saya bisikan, "Pa, papa dengar Anti? Papa mau sembuh? Nanti kalau papa sembuh, Anti ga akan nolak disuruh papa ngeprint kerjaan papa. Anti mau didampingi papa sampai Anti menikah dan punya anak. Ikuti suara Anti ya, Pa. Laa...illaa..haa..illallah." Kosong sekali hati saya saat itu.
Pertama kalinya, mengangkat barang yang banyak, bolak-balik sampai empat kali naik-turun tangga, untuk dipindahkan ke ICU. Sempat, satpam yang biasanya rese, menawarkan saya untuk naik lift khusus pasien, namun saya tolak saat itu. Saya pikir, mungkin dengan sibuk memindahkan barang ini, akan lebih mudah untuk tidak sedih. Heran juga, padahal tidak ada yang melarang untuk menangis. Saat itu, kami bertiga memilih tanggung jawab masing-masing. Saya mengangkat barang sendirian, sementara mama dan kakak masuk ke ICU, mengurus semuanya.
Pertama kalinya, masuk ruang ICU, melihat perawat naik ranjang, sekuat tenaga mengusahakan napas papa, seperti adegan di film-film yang biasa saya tonton. Saat itu, hanya papa yang ada di ICU. Jadi, kami sekeluarga diperbolehkan masuk karena saturasinya makin rendah. Saat itu, saya ga berani natap papa lama, hanya sesekali, selebihnya menatap jam, sambil mengeratkan pelukan ke badan Mas Pras yang sedang menuntun papa. Sesekali juga mengintip mama yang sudah pasrah dan ditenangkan sama tetangga sebelah rumah, yang begitu papa masuk ICU, mereka orang yang pertama kali saya telepon.
Pertama kalinya mendengar suara monitor dari jarak yang begitu dekat. Pertama kalinya juga melihat dokter dan suster lebih sibuk dari biasanya, berkali-kali menyuntikkan sesuatu dan menggunakan alat kejut dari jarak dekat. Lalu, ketika usaha itu tidak mendapatkan berita baik, dengan sekuat hati mendengar...
"Maaf ya, Bu, Dek. Maaf ya. Bapak sudah tenang."
"Ya Allah, Dek, Mas, Papa sudah ninggalin kita," berganti suara lirih mama.
Hanya suara itu yang saya dengar, jelas sekali. Saya refleks melihat jam tangan, menyamakan waktu dengan jam dinding, ternyata sama.
Pukul 17.25, di hari Minggu, pertama kalinya menikmati senja yang rasanya lebih gelap dari biasanya.
Saya mundur, bersandar ke dinding. Mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Mencoba menerima bahwa mulai detik itu, kami tinggal bertiga.
Pertama kalinya juga, menahan tangisan padahal dalam hati hancur sekali. Rasanya cepat sekali. Harus menguatkan mama, menelpon semua keluarga, mengurus administrasi, dan ambulance. Rasanya aneh. Padahal baru 1 jam yang lalu, kami menelpon semua keluarga, meminta doa agar papa disembuhkan. Padahal, baru 1 jam yang lalu merangkai kata untuk minta doa ke teman-teman (karena saya masih berharap papa sembuh, jadi ga mau bilang apa-apa ke teman-teman). Rasanya aneh menelepon keluarga, lalu ditelepon yang lain bergantian, menahan air mata hanya untuk membuat mereka berkurang khawatirnya. Tapi, untungnya hari itu segalanya dimudahkan.
Grief itu melelahkan, ya. Tapi, entah mengapa, saat hari terakhir papa, saya ingin melakukan yang terbaik, karena sepertinya saya belum pernah melakukan hal terbaik untuk papa, tapi papa selalu memberikan yang terbaik secara ugal-ugalan.
Saat itu, pertama kalinya juga, melihat rumah didatangi banyak orang. Saya datang dengan laptop dan buku-buku di tangan (iya, saya bawa laptop dan buku untuk buat materi hehe karena mikirnya akan sampai malam di sana). Saya ingat, seorang teman langsung memeluk saya dan membawakan barang-barang saya. Saat itu saya tidak menangis. Saya ingat, yang saya tanya pertama kali adalah keadaan mama yang sudah sampai lebih dulu, karena mama berada di ambulance yang sama dengan papa. Apakah mama pingsan? Apakah mama menangis histeris seperti saat di koridor rumah sakit? Ternyata tidak. Mama saya itu jauh lebih kuat dari perkiraan saya!
Walaupun, keluarga besar tidak ada yang bisa datang langsung ke Palembang, karena protokol penerbangan yang masih ketat, kami beruntung berada di lingkungan yang baik, kenal dan dekat dengan orang-orang baik, tetangga di komplek.
Pertama kalinya juga, ditabahkan banyak orang. Walaupun, ketika dipeluk, rasanya bukan makin kuat, malah makin hancur, sekaligus takut, yang meluk kecium bau keringat saya (yang waw tau sendiri lah ya ngangkatin barang bolak-balik). Hehe bercanda. Masih tetap wangi kok saya tuh berkat TBS Vanilla kesayangan.
Dan ga terasa, setahun ini, banyak momen pertama kalinya tanpa papa. Apa kabar, Pa? Pa, sebenarnya mama masih nangis, sesekali aja sih, Pa. Kuat juga ternyata mama kita, tuh. Pernah Anti guyon, "Nanti papa beneran dateng lho ma. Mama nawarin papa makan." Lalu, dijawab mama, "Ga apa-apa, mau mama peluk." Hehehe. Padahal, Anti juga gitu kalau malam-malam bikin materi ajar, suka nengok ke kursi favorit papa, kali aja ada papa lagi main hp, nungguin sampai Anti tidur. Hal yang sering papa lakukan dulu.
Anti masih ingat rasanya di tanggal 14 September, waktu Subuh. Rasanya aneh dibanguni mama. Biasanya ada papa yang banguni sambil colek-colek ga berhenti atau usil peluk-peluk sampai anaknya bangun. Rasanya aneh, bangun tidur dengan suasana ada banyak orang di rumah. Rasanya aneh begitu keluar kamar melihat ruang tamu, ada papa yang dibaringkan menghadap kiblat.
Makin aneh ketika banyak teman-teman papa yang datang. Pakai seragam korpri. Rasanya, seminggu yang lalu, Anti masih lihat papa pakai seragam itu sepulang kerja.
Baru Anti tau juga, bahwa papa sebaik dan sepeduli itu sama orang lain. Pa, selain menjadi orang tua yang baik untuk Anti dan Mas Pras, mungkin papa juga sudah menjadi orang tua yang baik untuk murid-murid, dan teman yang humble juga, ya!
Saya sempat liat galeri di HP papa, lalu melihat foto-foto papa dengan muridnya, bahkan saat muridnya selesai bertugas upacara, masih sempat juga pembina upacaranya (baca: papa saya) mengajak selfie. Hihihi.
Oh ya, papa sering sekali memberikan tugas untuk ngeprint berkas-berkas pribadi dan sekolah papa. Sering juga saya mengeluh, "Kenapa ga di sekolah aja?" "Kenapa ga bilang aja ke TU papa sekarang minta tolong di-print-kan?" "Kenapa papa yang ngetik?"Â
Lalu dijawab, "Sudah malem dek, banyak juga tugas TU papa di sekolah itu." Papa yang paling ga mau ganggu temannya saat malam, tapi selalu gangguin anaknya xixixiâ¤
Pa, di hari sebelum tanggal 13, padahal Anti sudah mikir akan siap sekali kalau disuruh papa ngeprint tugas-tugas papa, jam berapapun, bonusnya tanpa mengeluh. Hehehe.
Setahun ini, rasanya cukup berat. Ya, tapi mau gimana lagi. Karena, masih akan melalui tahun-tahun berikutnya dengan lebih baik dan bahagia. Ibarat lampu yang kecipratan air, kami masih terang kok, walaupun sesekali kelap-kelip. Hehe.
Pa, ternyata pulang itu dekat. Beruntungnya papa sudah melalui itu semua. Di bumi, kami sedang mempersiapkan diri, sedang berusaha menjadi manusia baik, dicintai banyak orang, selayaknya papa dan orang-orang baik lainnya.
Pa, tenang. Di sini, Anti sama Mas Pras jagain dan sayang sama mama selalu. Walaupun, menjaga, menyayangi, dan buat mama bahagia, tetap papa juaranya. Anti juara 2, Mas Pras biar juara 3 saja.
Sudah setahun, Pa. Satu hal yang ditakutkan, seiring berjalannya waktu, Anti takut lupa suara papa. Tapi, Anti selalu buka lagi video-video kita nyanyi lagu andalan ketika kangen suara papa. Hehehe.
Janji, ini satu lagi, Pa. Mau lapor, berat Anti naik 5 kg, Pahhhh. Hahahaha! Pasti Papa kalau minta injek badannya, sudah ga kuat lagi deh ya. Ini mau turun kok, soalnya dibilang gendutan sama orang-orang xixixi mereka ngga tau aja, tiap mau buat tugas, saya selalu minum kopi.
Pa, sudah dulu, ya. Jagain Anti dari sana ya, Pa. Sayang papa banget! Terima kasih sudah menjadi Papa yang -segalanya- selama 22 tahun. Kami pasti akan sangat rindu, tapi yang Mahakuasa lebih mencintaimu.
Alfatihah, Sudiarto bin Wahid Soebagyo.