âKak, apa hal tersulit yang kakak alami ketika menjadi Psikolog?â
Saya akan menjawab, âKesepian.â
âPekerja lepas, menjadi seorang Psikolog, membuat saya sulit menemukan teman. Saya tidak akan punya kolega yang setiap hari bisa saya ajak makan bersama, tidak akan ada ajakan hangout setelah pulang kerja, tidak ada perbincangan santai di jalan pulang. Dan, saat di sela-sela sesi, saya mungkin akan menikmati kesendirian. Namun, saat langit beranjak menjadi malam, kesendirian bukan lagi menjadi teman, tapi hal yang menusuk tajam.
Di hari-hari yang biasa, saya akan rindu dipandang biasa. Tanpa perlu melekat citra âsaya yang harusnya pahamâ. Saya juga akan merindukan pertanyaan, âkamu butuh apa? Kamu dimana? Sedang apa?â. Lalu, ketika minggu ada di penghujung, saya akan sangat menantikan menghabiskan waktu bersama orang yang kamu sayang, menjadi prioritas dan menjadi yang utama.â
Bagi saya, bukan menangani pasien, tapi hal-hal diatas yang sangat sulit saya hadapi.
Saat energi saya sedang menurun, saya merindukan masa lalu saya. Bebas. Bisa berkarya. Berjam-jam bekerja. Tertawa di sela-sela makan siang dengan rekan kerja. Punya musuh bersama dan tujuan bersama dengan orang lain. Saya rindu terkoneksi. Saya tidak harus bergantung emosional pada satu orang. Saya bisa menjadi apapun yang saya mau, mengerjakan apapun yang saya mau. Saya bisa menjadi masa bodoh dengan orang dan sibuk dengan pencapaian saya saja. Saya rindu kesibukan yang membuat saya tidak kesepian.
Saya menyedihkan sekali ya. :(
Saya tidak suka sedih dan saya tidak suka menjadi orang yang menyedihkan.
Berkali-kali saya katakan ke diri saya, bahwa tidak apa-apa, hari yang membuatmu kesepian akan berlalu. Tapi, saya kok lelah mengatakannya saat ini. Bolehkah? :(














