Bersyukur
Hal paling aku syukuri di usia yang gak muda lagi adalah, caraku memandang kehidupan.
Aku tak lagi menggebu-gebu dalam menghadapi hidup. Tidak lagi impulsif dan sembrono. Sekalipun urusan pelik, aku tetap bisa beefikir dengan tenang. Hal-hal yang menyangkut perasaan pun begitu.
Aku tak lagi mengandalkan perasaan. Aku bisa melihat diriku dengan jelas, mengamati dan dapat memilah pasangan yang seperti apa yang cocok denganku. Tentu saja hal-hal yang menyangkut perasaan dan perempuan adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Namun entah mengapa, semakin berumur aku semakin bisa menganalisa dengan baik, bagaimana saat perasaanku berkecambuk pikiranku tetap tenang dan realistis.
Tak lagi hanya soal cinta, hubungan yang menyangkut perasaan kini harus dipikirkan masak-masak. Mau dibawa kemana dan bagaimana caranya.
Bualan laki-laki tentang pernikahan terasa tidak lagi make sense bagiku ketika dia sendiri tak mampu memperjuangkanku dan hal-hal yang menyokongnya. Aku bersyukur sudah ada ditahap ini.
Tahap aku tahu seberapa besar nilai diriku. Sehingga aku bisa mengukur pantas tidaknya seseorang untuk bersama denganku. Ini realistis. Tak perlu sama dengan yang bernilai juga. Jika pun dia mampu menghargaiku dengan nilai sebesar nilaiku, tentu aku akan sangat menghargainya.
Karena aku sudah berjuang sejauh ini untuk bisa bertahan hidup, mana mungkin aku memberikan hidupku pada prang yang tak mampu menghargaiku sesuai nilaiku?













