Berdamai dengan Diri Sendiri
Semakin bertambahnya usia, rasanya semakin sederhana doanya, semakin bisa mengelola rasa, bisa meminimalisir drama, dan lebih bisa menerima. Nggak lagi terlalu pusing dengan omongan atau penilaian orang, nggak lagi terlalu menggebu-gebu memaksakan diri untuk menggapai sesuatu yang dimau, nggak lagi terlalu khawatir atau kecewa dengan hasil yang nggak sesuai harapan. Hidup seolah mengalir aja. Pasrah aja. Terserah Allah maunya gimana. Meskipun dalam hidup pasti akan bertemu rasa takut dan sulit, hidup nggak perlu dibuat rumit. Hidup nggak sekedar untuk membuat orang lain terkesan, kan? Lagian bukan tugas kita juga membuat orang lain mengapresiasi atau sekedar mau menerima keberadaan kita. Kita nggak bisa mengontrol orang lain untuk menyukai kita. Yang penting terus jadi pribadi yang baik aja. Kita juga punya banyak urusan yang yang harus diselesaikan, kan?
Lakukan yang memang perlu kita lakukan, untuk kebaikan kita. Nggak perlu buang-buang waktu untuk sekedar pembuktian, demi diterima orang lain, atau menjadi sesuatu yang orang lain mau. Nggak perlu membuat pilihan hanya untuk menghindari ketakutan kita pada penilaian orang.
Bukankah yang paling bahagia adalah yang paling bisa ikhlas menerima? Karena menerima adalah harga untuk bahagia, karena meneriama adalah salah satu upaya mendamaikan hati dan mendatangkan kebaikan-kebaikan. Apa-apa yang telah Allah beri, yang telah terjadi, dan yang sedang kita jalani hari ini, bukankah lebih baik diterima dan disyukuri? Memang penerimaan mungkin nggak selalu berbuah manis, tapi sangat berharga untuk menjalani sisa hidup yang berarti.

















