MENJAGA KEROMANTISAN . Dulu, godaan sebelum nikah adalah menahan lidah supaya kata-kata gombal ga keluar dengan sendirinya. Atau menjaga gestur supaya ga kental bernuansa tepe-tepe sehingga terlihat cool dan high class. Walau seringnya kepeleset sih . Apalagi pas menjelang nikah. Seolah vocab romantis termutakhirkan tanpa diminta. Energi aktivasi yg biasanya nilainya besar, jadi limit mendekati nol kalo urusannya menyangkut si teteh. Sepertinya, 'membangun keromantisan' itu adalah frase yg ga pernah ada waktu itu. Soalnya udah kayak sungai yg otomatis mengalir dari hulu ke hilir . Tapi semua berubah ketika akad diucapkan. Walau di masa-masa awal nikah dunia masih serasa milik berdua dan romantisme masih meluap-luap ga terbendung, tapi lama-lama ide-ide romantis yg dulu deras kayak hujan jadi ga semengalir dulu. Inisiatif berkorban jadi bersyarat, jiwa gombalis meredup, kurva energi aktivasi jadi meninggi lagi . Godaan setelah nikah jadi 180 derajat berbeda dari waktu sebelum nikah. Syaitan ni emang. Bisaan. Dulu, ngegodanya supaya bisa asik-asikan sebelum halal, eh pas udah halal, digoda supaya pernikahannya hambar kayak air beras . Jangan dikira jones doank yg godaannya banyak. Abis nikah, godaannya lebih dahsyat lagi (tapi kenikmatannya lebih dahsyat jg si. Cobain geura), salah satunya menjaga keromantisan ini. Keromantisan menjadi sesuatu yg harus selalu diikhtiarkan. Agar konflik yg sebenernya ga perlu ada, tidak terjadi. Agar keseharian jadi ga hambar, selalu indah berwarna-warni . Menjaga keromantisan itu ga segampang yg dibayangkan. Serius. Di titik yg sekarang, menjaga keromantisan be like mempelajari hal baru yg butuh alokasi khusus buat bisa jadi master. Harus diniatin, harus dilakuin, harus mau berkorban, harus selalu diusahakan supaya ga jadi wacini . But, that's the challenge. Kabar baiknya, hal sia2 yg disukai Allah, salah satunya ya itu, romatis2an ama istri. Peace . #seritulisansingkat #ntms #zakyamirullah






