New Wildfrost oc! Wul! And another ref for Redloom!
(Commission info here | MapleStickerShop | Ko-fi)

#batman#dc#dc comics#bruce wayne#dick grayson#tim drake#dc fanart#batfamily#batfam

seen from Singapore
seen from Canada

seen from Japan
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from China

seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from Malaysia
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from France
seen from United States
New Wildfrost oc! Wul! And another ref for Redloom!
(Commission info here | MapleStickerShop | Ko-fi)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
I posted this to IG a couple days ago but i finally have names and designs for these four so :,)
Expression and outfit practice with my ocs
(Commission info here | MapleStickerShop | Ko-fi)
A new life, Arctic Fight, Brush Week sketches and werewolf nostalgia
(Commission info here | MapleStickerShop | Ko-fi)
Of August and December and Loretober
(Commission info here | MapleStickerShop | Ko-fi)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
2222
{death} bed
It’s absolutely not fair at all, not even in the slightest, how someone like him can even exist in this world. His presence alone is like curling up in fuzzy blankets and watching old movies, warm chocolate chip cookies with milk at night. Maybe all those things, especially in her new apartment, feel like him. He’s the only one there with her, and in truth, he feels more there than she does sometimes.
How hard would it be? How hard would it be, to press her lips to his cheek? They’re already past the point of leaning on his shoulder. It’s cold, she said. I’m cold. She stares up at him sometimes, and he has really nice skin, she’s observed. What’s even the difference? It won’t make anything different. Just an urge squashed. An urge, and then what? It doesn’t mean...
She won’t do it. She won’t. He’ll have to love her first.
[RotBak Time #2]
Hehe. Udah setahun coba, setahun! aku ga nulis di tumblr ini. aku hampir takut lupa password-- oke cukup.
Fast update for my life aja, aku sekarang udah umur 22 tahun-- iya udah tua, dan sekarang aku udah mau nyelesain skripsiku (Finally!) tinggal nunggu revisi, semoga lancar.
And now for this special comeback of RotBak Time, I want to talk about... Future.
As you all know, aku adalah mahasiswa Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada yang sudah menempuh beberapa tahunku merantau ke Yogyakarta-- dan all is good.
Yep. Selama kuliah, meskipun aku pernah menerima tantangan dan jatuh-bangun... apalagi nilai yang gak karuan, ya sudah biasa, aku menikmatinya. Selama kuliah, ketika aku mulai merasa ingin menyerah... Aku selalu mengingat kenapa aku memilih jurusan ini. Klise sih, ya tapi terkadang juga ga bisa dipungkiri kalau terdengar bullsh*t.
Tapi Jurusan Teknik Nuklir adalah keputusan berat pertama yang kuambil... di umurku yang baru beranjak 16 tahun saat itu. Kalau mengingat masa-masa SMA, aku teringat bahkan sejak kelas 2 SMA, aku sudah memilih teknik nuklir dan benar-benar yakin dengan pilihanku. Alasannya simpel, karena aku penasaran teknik nuklir itu belajar apa sih, kok sampe susah banget dicari di gugel. Iya, itu doang.
Selama kuliah, mengingat masa-masa itu aku selalu tersenyum. Menertawakan diriku sendiri yang dengan tekad kuat mau masuk Teknik Nuklir-- yang bahkan waktu itu saya gatau kalo di UGM satu departemen dengan Teknik Fisika. Menertawakan kelakuanku yang sangat ambisius dan memiliki target--
Tapi mendekati waktunya lulus, saya mulai berfikir. Lalu selanjutnya apa?
Kehidupan skripsiku sangatsangat menyenangkan. Aku ga akan pernah menyesal untuk memilih tema skripsiku, dan terutama... pembimbing skripsi dan partner skripsiku!
Tema skripsi yang kuambil memang benar-benar sesuai dengan ketertarikanku, pembimbing yang asik dan recehnya dapet buat aku, dan partner skripsi yang super duper baik dan pengertian... Aku ga akan mau meminta lebih.
Ketika COVID-19 marak-- dan aku harus pulang ke rumah, meninggalkan jogja sejenak.. Realita menyerangku. Pertanyaan-pertanyaan dari orang rumah, maupun orang luar rumah tapi masih keluarga menyerang diriku. Kapan lulus? Habis lulus mau kemana? Terus ini rencananya gimana? blablablabla
Lalu paksaan-paksaan itu. Disuruh S2 lah, bahkan ada yang menjodoh-jodohkanku dengan manusia (yang ga aku kenal) biar bisa pergi ke Jepang! Katanya keluarganya terpandang, blablabla. Ampun deh, emang masih di zaman Siti Nurbaya kita?
Ya, saat ditanya sih, di awal-awal masih bisa jawabnya. Entah jawabnya make nada bercanda, atau jawaban serius. Tapi ditanyain terus, ya atuh jadi jenuh. Akhirnya aku di batas ambangku. Mentalku tidak kuat. Aku merasa apakah aku tidak punya pilihan, dan harus mengikuti paksaan-paksaan mereka?
Akhirnya aku mulai menangis. Aku mulai merasa diriku sangat kecil sekali, dan tidak mempunyai pilihan apapun. Old me is back. ya, diriku yang di Jogja tidak takut apa-apa dan percaya diri dengan diriku... hanya karena pertanyaan-pertanyaan dan paksaan-paksaan itu jadi lemah lagi. Aku mulai takut untuk mengerjakan skripsi.
Untuk apa aku mengerjakan sesuatu hal.... untuk apa aku menyelesaikan satu hal.... tapi aku tidak tau kelanjutannya apa?
Memberanikan diri, ketika COVID-19 sudah mulai mereda (iya sekarang puncak-puncaknya lagi gaes, selalu turuti protokol kesehatan!) aku minta balik ke jogja. Dengan alasan tidak fokus untuk mengerjakan skripsi di rumah. Akhirnya dikabulkan dengan syarat Oktober sudah sidang.
Setelah balik ke Jogja, pikiranku jernih kembali. Bahkan aku ngebut-- bab 4, 5, 6 ku selesaikan dalam kurun waktu 2 minggu. Sekarang, aku tinggal mengejar dosen pembimbingku untuk memberikan revisi.
Pertanyaan itu kembali muncul lagi, tepatnya beberapa minggu yang lalu. Habis ini apa? kamu mau ngapain? tapi di jogja, aku memiliki tempat nyaman untuk diskusi, untuk didengar, dan untuk didukung. Beda dengan di rumah-- ah sudahlah.
Mulai dari situ, aku mulai bisa memetakan masa depanku. Intronya kepanjangan ya? well, makasih yang udah baca, tapi ini kok sekarang langsung intinya.
Saat di rumah, karena kondisi pandemi ini, tidak bisa dipungkiri kondisi keuangan keluargaku memburuk. Ya Alhamdulillah kita masih bersyukur dengan kondisi yang ada. Karena hal ini, dengan gegabah aku memutuskan untuk ‘Ah, udahlah gausah S2! Entar aja, aku nyari kerja dulu’
Mulai berani, aku membuka linkedin, aku membuka lowongan pekerjaan, untuk mencari kerja. Kondisi pandemi, lowongan pekerjaan sedang minim. Akhirnya aku putuskan untuk berkonsultasi ke orang tuaku.
Ya, seperti yang kalian duga, mereka masih bersikeras untuk membuatku bersekolah lagi.
Karena kesal, aku tidak pernah membahas masa depanku lagi. Ke orangtuaku, maupun ke diriku sendiri. yeah.
Di jogja, seseorang tempatku mengadu menginspirasiku. Meski kita jadi sering berantem karena sering ketemu, dan meski aku juga sering ngambek ketika dia sibuk dengan skripsinya, aku melihat tekad dan kerja keras disana. Aku melihat apa yang aku butuhkan untuk memetakan masa depanku.
Tekad yang kuat.
Aku mulai membuka diriku kepada pertanyaan ini. Aku masa bodo dengan kata orang mulai membuka diriku dengan berbagai pilihan masa depan.
Pada suatu siang, setelah diskusi panjang dengan diriku sendiri, aku memutuskan.
“Ah, kayaknya aku mau S2 aja”
Akhirnya setelah aku menyelesaikan bab 6-ku, dan mengirimnya ke dosbing, aku tibatiba memiliki tekad itu. Selanjutnya tinggal apa yang harus aku lakukan untuk mencapai tekad itu.
Aku berkonsultasi. Bukan ke orangtuaku, tapi ke temanku yang memang sedari dulu aku tau ingin melanjutkan S2. Temanku memberikan banyak Advice, bahkan setelah membaca post tumblr temanku ini, aku mulai tercerahkan. Hal pertama yang harus aku lakukan, Aku harus berfikir, aku mau S2 dengan ‘tema’ apa.
Lucu, ketika diingat saat SMA dengan kurangnya research aku memutuskan, sedangkan sekarang aku memutuskan dengan hati-hati. Aku melakukan research dan akhirnya aku tau... Kalau aku... memang Nuclear Engineer sejati xD
Dari situ, aku kerucutkan ke Nuclear System Safety dan mulai mencari-cari. Tentu aku juga butuh universitas yang mendukung Scholarship sehingga aku tidak perlu memikirkan biaya.
Dari situ pula, aku sadar. Aku butuh biaya persiapan. Test TOEFL, atau semacamnya. Akhirnya aku memutuskan aku akan mencoba menjadi Freelancer untuk menutupi biaya persiapan itu. Aku juga berinvestasi ke beberapa course programming. Dan saat mengambil course programming itu, aku sadar, aku memang suka belajar hal baru. Jadi S2 memang pilihan yang tepat untukku.
Tibatiba masa depanku terpetakan. Begitu saja. Ya memang, kadang momen kamu tahu masa depanmu itu sangat tibatiba.... Jadi, kalau ada yang belum bahkan minder untuk mengetahui masa depanmu, please jangan minder! Buka dirimu kepada semua peluang-peluang yang ada, dan mulai mensortirnya. Wish me luck, and Wish you luck too!
“Kita boleh merencanakan masa depan, tapi kita harus tetap fleksibel dengan semua kesempatan dan peluang yang ada. Biarkan mengalir, tapi ada tujuannya”
-Amila Amatullah, Yogyakarta