Jika shalat di atas sajadah saja bisa membuatku hanyut, bagaimana di sana? Pusat kiblat umat muslim. Jika berbuka puasa dengan air putih saja sudah menyegarkan, bagaimana di sana dengan air zam zam? Mata air yang menjadi saksi perjuangan seorang Ibu. Jika membaca kisah Rasulullah saja bisa menghabiskan air mata, bagaimana di sana dengan ziarah makamnya? Jika wangi parfum oleh-oleh haji saja sudah semerbak itu, bagaimana di sana dengan hajar aswad? Saksi bisu perjalanan umat islam. Devinisi rindu tanpa perlu bertemu dulu, namun mengundang tanya yang hanya akan terjawab oleh jumpa.
Aku ingin mengenang tempat indah itu. Tempat tidak kau temukan polusi, tempat segala makanan terasa enak, tempat tenang saat mengantri, tempat dengan atmosfir semangat belajar yang tinggi dan tempat dimana kebaikan mudah dijalani. Benar saja, ternyata Gontor adalah negeri sendiri. Negeri aman nan damai. Rasanya aku ingin kembali lagi. Kembali ke pangkuan Ibu, mengabdi pada Allah Ta’ala, didalam kalbu kita. Kembali mendengar petuah para Kiayi. Kembali merasakan tulusnya para guru mengabdi. Dewasanya, tulus itu sulit saat ini. Semua sudah dihargai. Ingin ikhlas, ternyata tetap diberi. Seketika ikhlas itu ternodai. Aku berani lancang berucap, “Kiayi tidak perlu do’a, justru alumni yang perlu didoakan”. Karena dunia ini terlampau kejam Kiayi. Tiada lagi jarros yang menjadi pengingat, tiada lagi qismul amni yang berteriak, tiada lagi kawan yang bisa diajak. Tinggalah kami dan hati yang sering berantakan.