Those two come from an unknown and unfinished AU. It wasn't abandoned, but the creator stopped working on it. Very few characters were already there.
The only completed part was The Ruins. All the rest was in black and white, with basic shapes instead of actual objects. This means that any building past the Ruins was either impossible to get in or mostly empty. That Underground was very lonely.
That's why Echo's clothes are like that, the way they looked wasn't defined yet. All monsters outside of the Ruins look like that. Grey. Half-made. Some of them don't even have full bodies. But that doesn't bother them, it's always been like that.
That world's fate was to crumble. And it did, mostly. It wasn't fully made, the code was confusing, it couldn't keep itself together. It started off with the unfinished parts. First New Home, then the CORE, Hotland, the True Lab, Waterfall, and eventually Snowdin.
Most monsters were able to escape to the Ruins. Echo doesn't remember which didn't. He thinks there was a tall one that kind of looked like him, but they don't really know. Not that it matters now, right? He's safe.
The younger monsters — like Echo — stay at Miss' house, while the older ones try to guard the place. Why would they do that if there isn't any threat? They don't know, but they don't need to. They're safe.
Miss dresses more colorfully to catch the children's attention and get them more used to actual colors besides tones between black and white.
Echo got that name after the they got into the Ruins because he tends to repeat a lot of what other people say. It's a habit that all unfinished monsters have to fill in missing parts of their coding, but it shows more in kids.
Miss got also that name after the other monsters seeked protection in the Ruins. They all only called her Miss, so why not accept that? Does she still even remember her name?
No one has a defined age, but Miss is middle-aged for boss monsters' standarts and Echo seems to be under 14.
Echo unironically uses "Knock knock" as a greeting.
The images don't show it, but Echo barely reaches Miss' shoulders.
Echo (like most other monsters) need sunglasses while they get used to colors. Miss is squinting a lot because he lost her own glasses.
No one seems to know why Miss has the scar on her face. She doesn't remember.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Артец по unfineshedtale. Срисовывал с последнего наброска автора. Ииии вопрос автору. Почему ты именно в таком положении изобразил ножи у Чары. Тебе просто спонтанно пришла мысль так расположить или есть какое значение. Наверное вопрос глупый или я его поздно задаю, или уже на него отвечали, но мне просто интересно. У меня какой-то ореол вокруг Чары образуется. В любом случае рисунок бредовый и нарисован просто так.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yuk, kita intip salah satu dari ceritaku.. "Unfinished Tale.. (Cerita yang tak terselesaikan..) Chapter 9 Baris ke-2 Lajur ke-2
salah satu dari kisah semi fksi, yang tak pernah terselesaikan,mengalami kemacetan inspirasi di chapter 12 barang kali dengan berbagi ini nanti dapat hidayah, hehehe selamat membaca
Gambar orang nomor wahid di negeri ini Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Jendral Soeharto dan B. J Habiebie terpanjang di dinding atas ruangan itu, dinding yang berwarna hijau itu adalah ruangan yang memiliki lebar 6 kali 7 meter. di antara dua gambar itu terdapat sebuah maskot yang berdiri gagah mengepak kan kedua sayapnya yang berbulu masing masing 17 bulu di setiap sayapnya, kepalanya menoleh ke arah kanan yang dalam falsafah bangsa negeri ini kata kanan merujuk pada hal hal yang baik yang berbudi luhur dan ungkapan sebuah sifat keturunan para dewa dan lawan nya adalah buruk atau jahat sifat sifat sifat yang di sukai iblis, di dadanya terdapat sebuah perisai dengan 5 asas negara, sebuah Bintang yang berwarna kuning lambang dari sebuah negara yang beragama. Kemudian ada seuntai Rantai yang berbentuk persegi dan lingkaran yang saling terkait sebagi sebuah lambang dari kemanusiaan yang saling berkaiatan antara yang satu dengan yang lain, yang entah kenapa kini seperti banyak di lupakan orang adakah karena lambang ini kini di artikan sebagai sebuah rantai yang menjerat, jeratan kapitalis yang membelenggu rakyat, entahlah. Dan kita akan sedikit terasa sejuk bila kita bernaung di bwah Pohon Beringin yang sangat besar, yang konon artinya adalah sebagai sebuah lambang persatuan, kita bersatu di bawah naungan pohon, kemudian ada Kepala Sapi, sudah enggak usah protes "ini kepala banteng" seumur hidup aku belum pernah melihat banteng kecuali di tv aja, entah aku sebenarnya tak menegrti itu kepala sapi atau kepala banteng, ia melambangkan kerakyatan, karena sapi suka berkumpul dengan sapi sapi lain, ia tak pandang bulu, sapi merah, sapi putih, sapi belang belang, sapi kuntet, sapi gemuk ataupun sapi buduk; Tapi entah kenapa mataku sekarang kini di perlihatkan pada sisi kalau sapi adalah hewan yang bodoh yang manut saja karena di cocok hidungnya, sampai kapan kita akan melihat hal ini. Dan yang terakhir ada setangkai Padi dan setangkai Kapas, maksudnya itu padi adalah sebuah lambang kesejahteraan, tapi tak tahu kenapa pemerintah seakan akan lupa dengan para petani padi lokal, bukannya berusaha memberdayakan padi dalam negeri tetapi malah mengimpor, aku sendiri sedikit berontak, kenapa pemerintah tak melihat alternatif jagung, aku suka dengan nasi jagung juga lho, dan kapas sebagai sebuah lambang sandang, kemajuan teknologi juga tak mengharuskan kapas sebagai bahan baku sandang sekarang sudah ngetren plastik. Sosok yang gagah itu berekor dengan jumlah bulu sebanyak 8 bulu, yang di pangkal nya terdapat bulu-bulu halus yang berjumlah 45, dia mencengkram kuat sebuah pita yang bertuliskan 'Bhineka Tunggal Ika', namun maskot yang gagah perkasa itu yang lebih gagah dari Ikarus itu kini terlihat lesu dan sudah terlalu lama tertidur. Kemanakah jiwamu kini wahai Pancasila, kemana bhaktimu kini wahai pemuda pancasila.
Hari itu, 16 tahun yang lalu, aku hadir kesekolah di temani Ayahku, di suatu pagi yang sangat ramai, penuh dengan anak anak kecil yang seumuran denganku, yang juga datang bersama orang tuanya. Hari itu adalah penerimaan murid baru Sekolah Dasar Negri 2 Ngadisepi, keramaian itu tak hanya suasana gembira kami tetapi juga suasana gembira anak anak tingkat yang umurnya di atasku yang hingar bingar mereka anak anak SD kelas 2 dan kelas 3 juga yang juga ikut meramaikan dan memenuhi tempat dan latar itu, ikut mengisi suasana yang paling bahagia. mereka adalah calon kakak kelas kami, mereka berlomba-lomba untuk saling mengenali kami, kami calon anak baru.
Ya di sekolah kami sudah tak asing lagi dengan budaya gerombolan, mereka menyusun kekuatan baru dengan hadir di tempat itu untuk menjaring perkumpulan terkuat, zaman itu sedang ngetren ngetrennya film Mighty Power Rangers, sehingga tak heran hal itu juga mempengaruhi anak anak. Mereka anak kelas 2 dan 3 juga telah mempunyai senior senior dari kelas 4 sampai kelas 6 rata rata gerombolan itu terkumpul karena subjektifitas. Disana ada salah satu teman bermainku yang juga sepupuku, berdirilah seorang anak kecil, yang tubuhnya kurus, tingginya lebih pendek dariku Eko, anak kelas 2, dia sudah berteman dengan kelompoknya Puji kelas 3, hari itu dia datang padaku untuk mengajakku bergabung dengan anggota kelompok mereka, meski aku memiliki hubungan yang baik dengannya tapi aku menolak. aku ingin membuat kelompok sendiri yang hebat tanpa ada senior, sehingga tak akan terjadi yang namanya senior-junior, Karena ake menolak, sejak saat itu pula permusuhan ku dengan Eko menjadi lebih menjadi jadi setelah hampir 6 tahun kami selalu bermain bersama menjadi 2 tokoh yang berlawanan. Kalau aku penjahat dia pasti polisinya, kalau aku kesatria Baja Hitam dia pasti monsternya, kalau aku Panglima Angkatan Darat dia panglima Angkatan Udara, Kalau dia Wiro Sableng aku Setan Tenggarong. Dan hari itu juga kisah Batman dan Robin berakhir.
Dia berlalu pergi meninggalkanku yang yang sendirian karena ayahku sedang berada di dalam kelassedang duduk berhadapan dengan dua guru itu, di sana aku melihat Nur Rochim yang datang bersama ayahnnya, sosok yang kuat dan tampan juga memiliki postur yang hampir sama denganku. Dia datang dengan mengenakkan baju merah kotak kotak yang di belet ke dalam celana pendeknya yang berwarna putih, lengkap dengan sepatu dan kaos kaki, juga tas ransel bergambar Kura-Kura Ninja, sesaat kami saling bertatap muka dari kejauhan, seakan akan kami berbicara dengan hati, lalu dia datang menghampiriku..
"Pedro nanti kita duduk bersama. Bagaimana?". Ya Pedro adalah nama panggilanku saat kecil. tanpa basa basi dia menanyakan hal itu padaku
" Ya…" jawabku menyepakatinya.
"Bagaimana kalau di barisan ke dua". Kataku lagi,
sementara dia mengatakan hampir bersamaan denganku
"bagaimana kalau di lajur ke dua dari kanan"..
Kami tersenyum, memiliki perasaan yang sama, keinginan yang sama, Dia adalah rivalku yang sesungguhnya, dalam segala hal aku selalu bersaing dengan dirinya,dalam pelajaran ia adalah sainganku, kami itu 11-12, dalam sepak bola juga memperebutkan posisi yang sama "kiper", tetapi kami juga bermain di posisi yang lain, aku bek kiri, sementara dia bek kanan, aku gelandang bertahan, dia gelandang serang, dia penyerang tengah, aku gelandang serang. Dan bahkan kami mencintai seseorang yang sama, kami memendam cinta pada orang yang sama, yang bertahan cukup lama dan baru terungkap ketika kami kelas 5. kami tertawa ketika kami mengetahui hal itu. Kami merahasiakan hal ini.
Aku pergi meninggalkannya hari itu ketika ayah menghampiriku mengajak pulang, sementara Nur masih harus menunggu ayahnya yang belum selesai mengurus berkas pendaftarannya. Dengan senyum dan tawa yang bahagia aku berpamitan pulang lebih dulu.
"Sampai jumpa di hari pertama jam setengah 6 pagi". Kataku
"Baiklah.. Aku akan disana.. Kita harus berangkat pagi di hari pertama" Jawab Nur dengan berapi api. Sinar matanya menyala bagaikan cahaya lilin.
Ya kami harus berangkat pagi untuk merebutkan posisi tempat duduk, karena kami telah yakin dengan posisi duduk di baris ke dua lajur ke dua. Kami memiliki kepercayaan yang kuat dengan posisi tempat itu. Dan hati kami telah berlabuh pada persahabatan abadi disana.
Aku pulang bersama Ayah dan sepupu perempuanku. Muslichah perempuan cantik, tipikal sang primadona bertubuh tinggi untuk perempuan seumurannya, rambutnya panjang tergerai, bulu matanya lentik dan sinar matanya menyorotkan masa depan yang indah. Lichah yang belakangan saat kelas 2 namanya berubah menjadi Rina. Antara aku, Muslicah dan Eko sudah seperti rumpun bambu. Terlahir dari rumpun yang sama, membawa nama belakang yang sama,yang selalu bermain bersama, dimana aku berada, Lichah dan Eko ada disana. tetapi sejak Eko masuk sekolah ke SD sementara aku dan Rina belum di terima karena aku lebih muda dari mereka berdua, sedangkan Rina belum punya keinginan untuk bersekolah, kami terpisah, perkumpulan kami merenggang, perbedaan jalan dan aktivitas, membuat kami bubar jalan, hal itu sejalan denganku yang sudah bermain ke luar. Tetapi hari itu aku bertemu Nur, semangat kami meledak. Begitu juga Rina yang bertemu kawan barunya Alif dan Tonah sepupu dari garis ayahnya.
1 bulan berikutnya..
Pagi yang dingin karena angin malam turun dan berhembus melewati jendela yang terbuka, ketika adzan subuh berkumandang,mengalun melewati corong TOA terdengar sampai kamarku. Ibuku mengusap wajahku,membangunkanku tangannya yang dingin karena basah oleh air, yang baru saja selesai mencuci pakaian.
"Nak.. Bangun nak, bukannya ini hari pertama masuk sekolah". Ibuku membangunkanku dengan sabar
Aku membuka mataku, melihat wajah ibuku yang sudah lengkap memakai Rukuh hendak menunaikan sholat subuh. Setalah beberapa saat setelah nyawaku terkumpul aku melompat kemudian aku berlalri meuju sendang pancuran untuk mandi, saat itu keadaan sangat berbeda dengan sekarang, kalau sekarang air sudah mengalir di kamar mandi di dalam rumah, tetapi dulu kami harus menempuh jalan kaki paling dekat adalah 20 meter dari rumahku. Jaringan listrik pun belum terinstalasi di desa kami, jaringan listrik baru ada ketika aku menempuh tahun pertama catur wulan ke dua, tepatnya 5 bulan setelah hari itu.
Di kegelapan subuh, aku berlari ke arah untara menuruni jalan batu dengan hanya di temani sinar fajar dan kelip bintang sisa malam yang kini sinarnya berangsur angsur pudar, hawa pagi yang sangat dingin menusuk tubuhku yang hanya berbalut kaos oblong dan celana pendek, dengan handuk melingkar di leherku sambil menenteng peralatan mandi dari yang di kemas dalam gayung aku menyusuri pagi yang langitnya masih tampak gelap, rimbunan dedaunan bergoyang di tiup angin, dan dahan dahan pohon juga bergoyang hebat sehingga bertitik titik embun jatuh menetes ke tubuhku seakan akan memperingatkan bahwa aku tak perlu mandi pagi itu, tapi dengan tekad yang kuat aku menghiraukan semua hawa dingin itu, baru sekitar 5 menit kemudian aku telah sampai di sendang pancuran, yang mengalir di antara bebatuan yang berlumut tebal, yang nampak sangat gelap karena mentari belum menembus reimbunan pohon. gemericik air sangat jelas terdengar membuat suasana sisa malam masih mencekam, bunyi jangkrik dan kodok masih terdengar di antara rerumputan dan sawah yang terbentang di samping, tetapi percikan percikan air yang sangat jernih melompat lompat bagaikan percikan mutiara yang indah membuatku senang. ini suasana sedang tempat mandi laki laki, jadi sepagi itu belum ada orang yang ke situ, berbeda dengan tempat mandi untuk wanita, yang letaknya 10 meter dari tempatku berdiri sekarang. Sepagi itu ibu ibu sudah sibuk mencuci, dan memenuhi gentong gentong serta drum air dan berbagai macam kegiatan ibu ibu. Dengan sedikit merinding dan bergemetar serta gemeletuk gigiku aku menceburkan kaki ku ke dalam air yang mengalir di bawah pancuran. Handuk ku lempar di atas batu gelap yang lembab, baju ku tanggalkan dan aku membasahi tubuhku di pancuran itu. Dinginnya air dan kuatnya arus itu aku tantang setiap pagi sampai aku kelas 4 SD.
Setelah selesai mandi dan solat subuh aku ganti dengan seragam putih merah yang di belikan ayahku tempo hari, dasi merah melekat di leherku topi putih merah nongkrong di atas kepalaku, aku menenteng tas ransel tanpa gambar, mengenakkan kos kaki putih dan sepatu hitam ATT, aku memang sudah biasa berdandan sendiri sejak kecil untuk apa saja, wedang kopi yang sudah di siapin ibu aku serutup dengan "lepek", tanpa sarapan aku berangkat kesekolah, demi hari pertama yang menentukan untuk bangku baris ke dua lajur ke dua selama setahun penuh. aku berangkat hanya dengan bermodal pamitan kepada ibu dan ayahku, uang saku ku saat itu hanya Rp. 100,00 kalau sekarang uang segitu mungkin sudah di lempar ke jalan, Tapi saat itu uang seratus rupiah masih dapat 4 permen atau 2 gorengan.
Jam 05.15 aku keluar meninggalkan rumah berlari ke arah timur menjemput matahari terbit, aku tidak menanti siapa siapa, aku tidak pula menanti Nur, karena kami sudah bertekad untuk duduk bersama jadi lebih baik aku pergi kesokolah duluan dan mengambil tempat itu untuk aku dan dia. Udara masih terasa dingin meski hari itu masih musim kemarau, tapi embun yang hinggap di sela sela rumput cukup untuk membasahi sepatu ATT yang berlari mengasak dan memotong jalan batu di jalanan jalan setapak, melewati perkebunan jagung kacang, dan sawah padi, melewati rimbunnya pohon mahoni dan perkebunan kopi, itu adalah jalan alternatif yang cukup memotong setengah lebih jauhnya perjalanan di jalan utama. jalan jalan itu tampak hitam kalau di pagi hari tapi sangat hijau dan memukau setelah matahari terbit, aku terus berlari menapaki jalan itu sendirian, setelah sekitar 2 km jauhnya aku menuruni lembah rendah yang sempit dan berbatu, aku menyebrang sungai melalui jembatan bambu, kemudian aku sampai di pohon cengkih yang berdiri tunggal, pohon cengkih yang penuh kenangan hingga saat aku lulus SD pohon itu masih ada, 10 meter di depanku tampak SDN 2 Ngadisepi di penggir jalan dan tikungan yang tajam, sinar matahari sudah mulai memecah ufuk timur, sinar kuning dan merahnya telah memenuhi angkasa timur, menampakkan pemandangan sawah hijau yang menghampar di tepi bangunan yang luas, yang terbelah dengan garis garis melengkung dengan batu kali sebagai jalan, yang di ujung sawah itu tumbuh Pohon Bulu yang sangat rindang, di sisi satunya Kolam Ikan yang sangat luas yang memantulkan sinar pagi bagaikan lautan permata yang indah. Bangunan yang berdiri di antara pepohonan yang rindang yang memiliki halaman seluas lapangan sepak bola itu adalah pemandangan pertama pagi itu yang ku tinggali selama 6 tahun.
Aku terus beralri menuju kelas yang terletak di sebelah bangunan utama di tingkat yang tertinggi, sekolahanku itu berlantai 1 semua tetapi tanahnya tidak datar ada dua tingkat seperti tingkat tingkat di perkebunan kopi (sengkedan) ruang kelas satu aku buka, Aku terpesona di pagi hari itu, akulah orang pertama yang menginjakkan kaki di hari itu senin 21 juli 1996. aku menatap seluruh ruangan, bangku dan meja yang terbuat dari kayu mahoni tertata rapi, gambar gambar pahlawan terpajang di tembok yang berdinding hijau, aku mengenali salah satunya adalah gambar RA.Kartini, yang lainnya belum aku kenal. Aku mengenal gambar itu dari cerita cerita ibuku mengenainya, dan aku hafal lagunya. Aku aku juga memandang ke 3 profil yang sebulan sebelumnya telah ku lihat. Lantai ubin aku tapaki kotak demi kotak aku berkeliling melihat kesemua arah, melihat ke atas dan ke bawah, energi kuat memancar di hari itu, itulah untuk pertama kalinya aku merasakan bahwa ilmu pengetahuan dapat aku raih, itulah pertama kalinya aku hadir si sebuah ruang formal untuk belajar. Aku langsung menduduki bangku baris dua di lajur ke dua, aku memilih di sisi kanan dan aku letak kan tasku di bangku sebelah kiri, itu artinya untuk Nur Rochim. Aku tak beranjak kemanapun sampai siang. Aku menunggu yang lain, aku menanti sendirian, aku menanti bagai bunga yang kesepian namun bercahaya bermandikan mentari pagi. Detik demi detik berlalu menghampiri menit yang merindukan jam akhirnya setelah lama aku menunggu, orang yang pertama kali kulihat adalah Widodo, Anak laki laki yang bertubuh gempal yang terlihat sangat kuat dan sabgat baik. anak yang gagal naik kelas dua, yang kini terpaksa harus mengulangi kelasnya bersamaku. Dia langsung mengambil di baris ke dua lajur 4 paling kiri.
"Duduk dengan siapa?" Dodo bertanya setengah teriak dari ujung ruangan.
"Nurrochim, Kau sendiri?" Dengan setengah teriak pula aku menjawab dan balik bertanya.
"Wahyudi, aku akan duduk bersama wahyudi. Jawabnya sembari memperlihatkan senyumnya yang hangat.
"Dia sedang sarapan pas aku kerumahnya, dan aku harus duluan untuk tempat duduk ini". lanjut dia.
"Wahyudi?" pikirku dalam hati.
Wahyudi bernasib sama seperti Dodo, anak yang gagal naik ke kelas dua, ini adalah persahabatan yang unik, gagal satu gagal semua.
Sebentar kemudian aku melihat anak anak kelas dua masuk di ruangan itu, mereka menempati tempat duduk untuk teman teman barunya, termasuk Wawan kompatriotnya Puji dan Eko, ia datang menghampiriku.
"ini tempat duduk Ian, adikku", Wawan meneriaku dengan sangat keras. Wajahnya merah padam seperti baru saja terpanggang matahari.
"Aku sudah duluan, sudah tadi pagi aku duduk disini, dan aku memilih tempat ini, kau tidak bisa mengusirku, jawabku keras juga untuk menantang.
"Berarti kau akan duduk dengan Ian, artinya kau harus gabung dengan kelompok kami juga…."
"Tidak". Kataku memotong Wawan yang mulutnya belum juga berhenti sampai berbusa.
"Nur Rochim duduk di sini bersamaku. Aku akan duduk bersamanya". aku tersenyum menyeringai.
Saat itu Nur Rochim datang bersama Raffi, Raffi berlari lari menghampiriku, lantas berujar.
"Pedro, aku duduk disini bersamamu. Raffi berujar dengan mata yang berseri seri dan mengacuhkan Wawan yang sedang berdecak pinggang dengan muka yang merah padam.
Aku mengalihkan pandanganku ke Nur, sambil tersenyum Raffi langsung paham.
"Oh jadi aku terlambat, kau duduk bersama dia". Raffi kecewa
"Ya, maaf kawan, aku sudah ada perjanjian dengannya, kalau mau kau di belakangku. Jawabku dengan senyum yang paling indah pagi itu
Tanpa berbicara Raffi mengambil tempat duduk yang ku maksudkan. Tiba tiba..
"Minggir…!" Dengan mata yang mendelik dan gigi yang di tahan Nurrohim membentak Wawan.
Aku berdiri mendukungnya, menepuk punduk Nurrochim dan tersenyum.
"Minggir kau Wawan…! Enyahlah kau dari tempat ini..!" Kataku mengusirnya
"Kau bukan angkatan kelas 1, kau tidak disini, tapi disebelah sana, kalau kau lupa, aku tak berkeberatan mengantarmu kesana". Lanjutku dengan tawa mengejek.
Dengan muka yang merah padam, dan sangat kesal dan menunjukkan gestur perlawanan, dengan mengepalkan tinju dia meninggalkan kami,meninggalkan ruang kelas yang kini mulai ramai di penuhi anak anak baru, teman temanku yang datang. Wawan tak bisa berbuat banyak karena dia takut melihat kami berdua sangat solid. Di tambah Raffi yang berdiri yang mendukungku di samping kananku.
Dan mulai hari itu persahabatanku dengan Nurrochim menjadi sangat kuat, terlebih lagi ketika guru pertamaku, Bu Ngatinah menunjukku menjadi ketua kelas menggantikan Dodo yang sangat berwibawa dan sangat baik itu. Aku menaruh hormat padanya, dia memiliki kharisma sebagai ketua kelas juga, yang di kemudian hari menjadi temanku yang selalu hadir selayaknya ranger ke-6, yang selalu hadir di saat aku membutuhkannya, yang selalu hadir untuk mendukungku di saat sulit.
Kini aku menatap hari yang cerah bersama kompatriotku Nurrochim dan bersama Raffi kami berpetualang, kemanapun dan di manapun. Persahabatn kami adalah persahabatn terkuat ke-2 di kelas kami, kami kalah dengan Dodo dan Wahyudi yang sudah terlebih dulu solid…