ujian kompre (bag. berikutnya/fin)
kali ini dituturkan sebagai lanjutan dari cerita sebelumnya dan sebelum sebelumnya ;)
bahasan berikutnya adalah mengenai status nutrisi pasien. turun 10kg dalam 1 bulan? wow, itu mah idaman para wanita! #eh
ini kacau banget sih, dengan tinggi 165 cm, berat badan cuma 32 kg. otomatis indeks massa tubuhnya bahkan jauh dari underweight. saya belum pernah tahu bagaimana harusnya istilah severely underweight disebut untuk dewasa. menurut prof, istilahnya sama dengan di pasien anak dan otomatis saya tahu jawabannya kwasiorkor!
lepas berbincang mengenai istilah-istilah, topik bergeser sedikit ke anabolisme dan katabolisme. pertanyaan merembet ke arah cairan untuk rehidrasi, lengkap dengan komposisi dan struktur kimiawinya! apa rumus kimia glukosa, bentuk rantainya, gugusnya, ini mah SMA banget.. untung bukan tahapan glikogenesis-lipogenesis lagi yang ditanya. ampun, prof, dok, bagian beratnya ditambah perintilan biomolekuler ya :””)
selebihnya, aman lancar bahagia sentosa sih. ditanya regimen pengobatan, efek samping, edukasi-edukasi yang bisa diberikan untuk pasien dan keluarga, dan sebagainya dan sebagainya sesuai teori dan implementasi yang biasa kita lakukan. hanya di akhir, prof kembali memberi pertanyaan ultimate yang lagi-lagi tidak bisa saya jawab: dokter apa yang paling baik? psikiater? bukan. lebih baik dibanding dokter penyakit dalam dan gizi, dokter muda mungkin? (karena mesti telaten sama pasien dan biasa jadi kacung :p) eh ternyata bukan juga. menyerah, prof pun memberi tahu: jawabannya dokter mata! itu dokter yang paling baik, pasien tidak bisa melihat dituntun ke sana kemari untuk periksa. #ea
lepas ujian, ada barang 5-10 menit saya diminta menunggu di luar sementara kedua penguji mendiskusikan penilaian dan memberi umpan balik tertulis. di luar, saya yang sempat-sempatnya bawa ponsel langsung kabar-kabar ke teman-teman. betapa ‘mau matek’nya ujian dengan kasus yang jauh dari ekspektasi (berharapnya dapat bangsa hipertensi atau diabetes aja haha).
pasrah, saya pun masuk ketika sudah dipanggil kembali. masyaAllah, dari hasil ujian komprehensif barusan, saya tidak berekspektasi akan diganjar nilai sebagus itu :”) hanya 1 aspek yang tidak dicentang di kolom nilai maksimal. komentar bebasnya apalagi, serasa mau terbang dibilang menunjukkan “performance” sangat baik, ahahaa :’D
lantas saya pun diminta persetujuan akan nilai yang diberi dan membubuhkan tanda tangan. saya coba minta masukan mengenai centang yang belum penuh dan menurut penguji hanya aspek itu yang saat ujian sudah ‘tersentil’ tetapi belum terlalu tergali. intinya beliau berpesan untuk selalu melihat pasien dengan holistik, bukan hanya pribadi yang sakit melainkan juga lingkungan di sekitarnya.
***
demikianlah urusan per-kompre-an selesai. saya sudah tanda tangan dan tidak lupa minta foto bersama dulu. eh, tidak disangka prof mengusulkan selfie. haha. saya pulang dengan hati senang, apalagi dibekali snack box jatah prof menguji :”)
alhamdulillah, ujian lancar. dan menurut saya, saya memang kelewat beruntung :”) padahal hal-hal kecil perintilan tahu apalah daku. bahkan prof dan dok yang sudah lama lewat masa sekolah masih lebih mantap jaya pemahamannya. sebagaimana yang dipesankan prof juga saat ujian, yang penting tetap mawas diri, ketahui mana yang sudah dikuasai; mana yang belum dan perlu dipelajari kembali.
saran saya, ujian komprehensif ternyata memang bisa demikian komprehensif. banyak pertanyaan mengenai hal-hal tidak terduga yang bisa saja diajukan. memang, sebagai dokter yang baik, akan sangat membantu kalau kita tahu sangat banyak hal; bekal menggali informasi, edukasi, dan melakukan sintesis untuk pengelolaan pasien dan lingkungannya. maka, banyak-banyaklah berdoa dan perajin ibadah! lho kok ganyambung? nyambung banget malah, berhubung hal yang mau ditanya mungkin hanya Allah dan penguji yang tahu, kalau gagal dapat bocoran dari penguji, kita dekati Yang Mahatahunya :)
tidak lupa, support system kita juga perlu dimintai restu. sejauh yang saya yakini, doa keluarga memegang peran yang cukup vital dalam pencapaian saya. thats why, segeralah ‘berkeluarga’ supaya tim yang mendoakan semakin banyak #ehhhh hehehe
belakangan, saya tahu kalau ternyata prof yang menguji saya adalah mantan rektor dua periode. wadaw, pantaslah wawasannya dari timur ke barat selatan ke utara sekali! dokter yang menguji pun tak kalah pintar. keesokan harinya kami dibuat bungkam terpesona saat beliau menjadi narasumber diskusi dan memberi kami gambaran baru mengenai gizi, “beda antara ahli gizi (yang mengurus dan menghitung nutrisi untuk pasien) dengan dokter gizi. dokter gizi justru perlu mengetahui keseluruhan anatomi-fisiologi-patofisiologi-patogenesis-hingga biomolekular pasien supaya bisa memberi tata laksana yang komprehensif. bukan sepotong-sepotong pengetahuan mengenai organ atau kondisi.” yah, kurang lebih demikian.
tampaknya teman-teman cukup takjub saya bisa melalui ujian dengan nilai gemilang, padahal kedua penguji demikian pintar alaihim. kalau menurut saya sih, berdasarkan topik yang pernah saya bahas juga dengan seorang teman, memang kalau sudah kelewat pintar justru ia tidak akan merendahkan. yang suka protes dan mengkritik tanpa solusi biasanya orang-orang yang lebih majunya baru selangkah. hehehe.
alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah memberi kesempatan mengalami satu momen yang luar biasa. mudah-mudahan ditulis begini ada manfaatnya, untuk yang belum ujian, tidak akan ujian, dan tentu terlebih untuk diri saya sendiri. akhir kata, kisah-kasih mengenai ujian komprehensif saya tutup di sini :)











