17 Agustus : Kenangan tentang rumah dan bapak
17 Agustus tahun ini menjadi ke empat kalinya dirayakan tidak di rumah. Kalaupun di rumah terkadang hanya di depan TV menonton upacara di Istana Negara, selebihnya adalah sama, libur dan bermanja di kasur, tidak terdengar nasionalis memang, tapi suasana sekitar cukup mengingatkan diri terhadap lainnya.
17 Agustus di Jawa dan Sulawesi itu berbeda, setidaknya di Sulawesi Tenggara dan Jawa Barat. Beda bagi diri sendiri adalah karena orang-orangnya, juga aktivitasnya. Tidak ada gerak jalan indah di kota Bandung, tidak ada lomba antar kelurahan utk cabang bola, basket, karangtaruna, paduan suara, vokal grup, dan tari daerah. Tidak ada, atau setidaknya saya tidak tau, cukup buruk untuk sebuah opini sebenarnya.
Ada memori tentang 17 Agustus yang tidak bisa saya lupakan, setidaknya saya maafkan untuk apapun yang terjadi kala itu. Memori itu tentang bapak dan tentang rumah.
Bapak, adalah pribadi keras, lahir sebagai anak ke 7 dari 10 bersaudara, bapak punya watak keras dan kepala batu. Bapak kerap kali bertengkar dengan saudara-saudaranya, untuk hal sepele sebenarnya, hal sepele yang baru akhir-akhir ini mulai saya kontemplasikan. Bapak kerap bertengkar kalau orang yg disayangnya diapa-apakan.
Sekali pernah dia bertengkar dengan adiknya karena kakak keduaku ditegur akibat tidak membukakan pintu untuk adiknya (seingatku). Sepele. Tapi karena dia sayang, dengan anaknya, tampak naif memang, beliau memang pribadi naif, beruntung dia memperistri ibuku yang bisa jadi peredam.
Sekali lagi tulisan ini tentang memori 17 Agustusku dengan bapak dan rumah. 2006 atau 2007 tepatnya. Bapak ditunjuk jadi lurah, mengikuti perubahan bentuk desa menjadi kelurahan. Itupun ditunjuk langsung, seingatku bapak segan menerimanya, selain karena dia tahu diri bahwa dia bukan orang asli daerah tersebut, dia juga tahu diri bahwa dia orang yang tidak mudah disukai oleh setiap orang di kelurahan baru itu. Tapi mandat atasan, tetap dijalankan, jadilah bapak seorang lurah kala itu. Tanpa babibu panjang lebar.
Tak lama setelah dilantik, tibalah Agustusan. Agustusan di sana seperti yang kusebut di atas, mungkin kalau kamu baca pelan bisa ingat. Jadilah rumah penuh dengan orang-orang. Mempersiapkan diri terbaik untuk jadi wakil kelurahan. Bapak sibuk, urus ini itu, meski kadang masih ada yang protes-protes, takapa.
Hasilnya pun tidak mengecewakan, untuk kelurahan baru, bawa banyak juara, meski tidak juara umum, tidak apa, bapak setidaknya senang sampai lupa taruh kunci motor di mana, haha.
Memori lain tentang bapak di Agustusan, 2009. Aku ikut pramuka, tapi karena memang dasarnya cengeng dan cupu, tiap malam menangis minta pulang oleh guru-guru pembimbing–fucc, gua kadang malu ingat ini. Alhasil bapak ditelpon, minta jemput, hampir tiap malam, padahal jarak rumah ke tempat kemah lumayan jauh (5-8 km, lupa tepatnya), dan itu di daerah penuh hutan. Tapi bapak ada, dan menjemput.
Sampai lulus SMA, aku selalu menganggap bahwa bapak adalah sosok yang keras, kasar, dan keras kepala. Karena begitu lah yang beliau dikenal, yang aku kenal. Tapi bapak tetap seorang bapak, yang mengasihi, menyanyangi, dan seorang yang berbangga terhadap anak-anaknya.
Mungkin aku naif terhadap masa lalu, masa-masa di mana mengenal bapak lewat ajaran kerasnya, tapi bagaimana lagi? Beliau juga diajar serupa oleh kakek, lebih malah.
Bapak mungkin bukan seorang yang sempurna atau ideal (rumput tetangga kadang tampak lebih hijau) seperti bapak teman-teman yang lain, yang bergaji 8-9 dijit, berwawasan agama kuat, dan lainnya. Bapak hanya orang mediocre, dari penghasilan dan agama, tidak bertitel haji ataupun doktor.
Tidak masalah.
Tapi dia juga yang kadang tetiba menelpon, karena merasa cemburu kepada ibu yang sangat sering kehubungi, hanya utk tahu langsung kabarku, selanjutnya pasti bertanya, “mau bicara sama mama?”
Bapak mungkin pernah kasar, memukul dan lainnya, tapi biarlah itu jadi memori yang telah kita merdekakan sejak dahulu.
Bapak, mungkin hanya ibu yang lebih tahu bagaimana mencintai bapak dengan sabar saat dekat, dan dengan rindu kala jauh.
Tentang bapak mungkin tidak bisa selesai dalam ketikan smartphone, banyak utk diceritakan, susah untuk sekedar dirangkai-rangkai.
Jakarta, 17 Agustus 2017











