OKKFKM - Segitiga antara Indonesia, Kesehatan, dan Mahasiswa
Oleh Gita Kartika Ramadhani
Indonesia sekarang berada di peringkat terendah dari 15 negara Asia Pasifik yang berpartisipasi dalam survei AIA Group Healthy Living Index 2013. Melibatkan 10.000 lebih responden di kawasan Asia Pasifik, survei ini menyatakan Indonesia hanya mendapat skor 55 dari 100.
Menurut data WHO, usia harapan hidup penduduk Indonesia hanya berkisar rata-rata 66,4 tahun disaat negara-negara tetangga dapat mencapai kisaran 69,6 tahun-79,6 tahun. Data tersebut merupakan salah satu indikator yang menempatkan Indonesia dalam posisi terendah di ASEAN terkait sistem pelayanan kesehatan.
Dari data-data yang saya paparkan diatas, dapat ditarik kesimpulan masyarakat Indonesia belum mendapatkan haknya secara utuh untuk memperoleh tingkat kesehatan sebaik-baiknya. Padahal kesehatan rakyat—baik secara jasmani dan rohani—adalah poin penting dalam membangun SDM yang berkualitas dan dapat memajukan bangsa.
Tentunya pemerintah sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan rakyat Indonesia. Berbagai kebijakan dan program terkait kesehatan juga sudah diupayakan. Disamping itu, Indonesia juga dalam periode mencapai MDGs (Millenium Development Goals) yang ditargetkan pada tahun 2015.
Lalu, apa yang dapat mahasiswa lakukan untuk aktif berkontribusi dalam peningkatan mutu kesehatan masyarakat Indonesia? Dan mengapa harus ada peran mahasiswa di dalamnya?
Berdasarkan KBBI, mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Atau banyak juga yang memandang sebagai kaum terpelajar, intelektual, dan sebagainya. Di Indonesia sendiri hanya sekitar 5 % rakyatnya mampu mengeyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Dibalik segala predikat yang disandang, tentunya ada tanggung jawab yang harus dipikul: Indonesia butuh kita. Ada masyarakat Indonesia yang menggantungkan harapan pada segitiga kita—segitiga antara Indonesia, Kesehatan, dan Mahasiswa.
Dari segitiga antara Indonesia, kesehatan dan mahasiswa, ada dua garis yang tehubung ke mahasiswa. Garis pertama menghubungkan mahasiwa dan kesehatan, yang dapat diartikan dengan mahasiswa dalam bidang kesehatan. Mahasiswa dituntut untuk dapat menyehatkan diri dan lingkungannya. Dimulai dari hal-hal sederhana seperti menerapkan pola hidup sehat kepada diri sendiri dan keluarga, mengadakan pendidikan pola hidup sehat kepada lingkungan pergaulan sehari-hari maupun masyarakat luas, hingga mendirikan posko bantuan pengecekan status kesehatan. Upaya-upaya preventif yang dapat dilakukan mahasiswa tersebut diharapkan dapat menekan angka penyebaran penyakit menular dan gizi buruk maupun gizi lebih di Indonesia.
Perlu disadari bahwa tak hanya ekonomi rendah yang mempengaruhi status kesehatan seseorang. Sebagian masyarakat ekonomi menengah atas juga mengalami masalah kesehatan seperti gizi lebih dan mengidap penyakit menular. Hal tersebut dikarenakan tidak menerapkan pola hidup sehat. Karena itu, pendidikan kesehatan seharusnya dapat menjadi hal yang sangat sederhana yang dapat dibagi oleh mahasiswa kesehatan masyarakat. Perkembangan media yang tanpa batas pun seharusnya menjadi pacuan bagi mahasiswa untuk melakukan sosialisasi di bidang kesehatan.
Kemudian, garis kedua adalah antara mahasiswa dan Indonesia. Selain menjelaskan “mahasiswa Indonesia”, garis ini juga cerminan dari poin ketiga Tridharma Perguruan Tinggi; pengabdian masyarakat. Sebagai mahasiswa Indonesia yang telah mendapatkan hak pendidikannya, memberi kontribusi balik kepada kemajuan bangsa—dalam hal ini adalah kesehatan—merupakan salah satu tugas kita. Apalagi dengan menyandang status mahasiswa kesehatan masyarakat.
Diartikan lebih jauh, garis antara mahasiswa dan Indonesia dapat menegaskan bahwa adanya hubungan yang kuat antara mahasiswa dan pemerintah Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang kesehatan belum sepenuhnya optimal, salah satunya tercermin dari buruknya sistem pelayanan kesehatan yang ada. Sebenarnya, dalam aksi-aksi menyuarakan pendapat, mahasiswa juga berperan dalam mempengaruhi kebijakan yang dibuat. Sikap vokal menyuarakan pendapat di bidang kesehatan juga dibutuhkan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat.
Namun, terlepas dari tugas pengabdian masyarakat, tak boleh kita lupakan tugas utama dari mahasiswa: belajar. Karena tetap ada tujuan akhir dari proses pembelajaran di perguruan tinggi, yaitu menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi yang sesuai dan profesional dalam bidangnya—salah satunya dalam bidang kesehatan. Dibutuhkan tenaga ahli yang mampu berpikir kritis dan mempunyai rasa abdi untuk bersama-sama dengan pemerintah dan masyarakat mengantarkan kesehatan pada pion utama kekuatan bangsa.
Garis lainnya yang terdapat pada segitiga antara Indonesia, kesehatan, dan mahasiswa adalah garis yang menghubungkan Indonesia dengan kesehatan. Garis tersebut menyatakan dengan tegas bahwa tak hanya Indonesia yang membutuhkan kesehatan, tapi kesehatan juga membutuhkan seluruh Indonesia untuk mewujudkannya.
Bukan hanya Segitiga Bermuda yang kita kenal, tapi ada segitiga yang sama-sama nyata: segitiga pemuda; segitiga kita. Segitiga yang melibatkan mahasiswa sebagai salah satu komponennya—komponen penggerak perubahan. Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, sudah sepantasnya jika masyarakat Indonesia mengharapkan kita dapat membantu mereka mencapai setinggi-tingginya tingkat kesehatan. Karena di balik Indonesia yang sehat, ada peran mahasiswa yang kuat.
Daftar Pustaka
Ajeng Annastia Kinanti. 2013. Survei Status Kesehatan Penduduk Indonesia Tempati Peringkat Terendah. Sumber: http://m.detik.com/health/read/2013/12/18/144023/2445537/763/survei-status-kesehatan-penduduk-indonesia-tempati-peringkat-terendah. Diakses: 10 Agustus 2014.
Humas UGM. 2007. Sistem Pelayanan Kesehatan Indonesia Terburuk di ASEAN. Sumber: http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=689. Diakses: 10 Agustus 2014.
Esensi Tugas
Tugas esai yang bertemakan Peranan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat di Indonesia ini tidak hanya berdiri sebagai tugas yang harus dikerjakan, tetapi juga sebagai sarana sadar diri akan status mahasiswa yang jauh lebih bermakna dari sekedar melanjutkan pendidikan. Bahwa mahasiswa memiki 3 peran penting dalam membangun Indonesia, yaitu agent of change, agent of social control, dan iron stock. Dan juga membuat kami membuka mata bahwa masih banyak masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia. Mahasiswa kesehatan masyarakat pun akan sangat dibutuhkan peranannya dalam menyehatkan bangsa.














