Ibuku takut akan hujan besar, hujan badai, guntur, angin puting beliung, longsor, gempa bumi. Tapi aku selalu menjadi manusia paling tenang saat semua ketakutan itu hadir di lingkunganku. Aku hanya percaya bahwa mati adalah suatu takdir. Aku kadang menunggu-nunggu dan bertanyatanya akan seperti apa caraku mati, meninggalkan banyak hal, dan aku juga bertanya-tanya siapa yang akan hadir di pemakamanku saat mati nanti. Ibuku percaya bahwa umur tua lebih berpeluang pergi lebih dulu dibanding aku, anaknya yang masih muda. Tapi aku selalu berikir bahwa kemungkinan aku yang mati lebih dulu juga sama besar. Yang selama ini kutakutkan adalah bukan caraku mati, tapi bagaimana jika matiku sama sekali tak berarti. Jika matiku yang lebih cenderung menuju neraka dibanding surga adalah mati yang sama sekali sia-sia. Dan yang kutakutkan adalah matiku adalah kesendirian tak berujung setelah selama hidup aku sering merasa sendiri. Aku takut Tuhan mecampakkanku dan melemparku begitu saja ke dalam api. Aku takut kebaikanku yang selama ini kuanggap amalku adalah bumerangku akan dosa yang mendorongku lebih dalam ke dalam panas api balasan dosa.