Bau embun basah mengiringi kayuhan sepeda merahku. Bunyi reot akibat tak pernah diberi oli ikut meramaikan suasana pagi sejuk ini. Burung-burung kecil berkejaran seraya menyanyikan lagu selamat pagi kepada alam semesta. Pagi memang menjanjikan harapan bagi setiap makhluk yang sudah terbangun dari istirahatnya. Kayuhan sepeda ku kuatkan untuk menambah daya lari si darson sepeda merah satu-satunya milikku. Sebenernya punya kakak tingkatku, namun dihibahkan kepadaku, jadilah ia teman sekaligus sahabat perjalananku selama menempuh ilmu di bangku perguruan tinggi. Suasana pagi yang sejuk menambah semangatku untuk beryukur. Bersyukur atas karunia yang indah juga syukur atas nikmat yang tak pernah sebelumnya ku syukuri. Ternyata kita memang selalu angkuh atas diri sendiri yang tak pernah mau mengucap syukur pada pemberian-Nya. Masih ku kayuh si darson tua, seraya melihat kondisi jalan sisi seberang. Tak lupa sambil menghirup nikmatnya bonus udara pagi nikmat. Bonus hanya bagi mereka yang membiasakan bangun pagi. Kala itu, aku tersentak. Ku pikir status sosial sebagai mahasiswa membuat kehidupanku patut bahkan harus dikasihani. Kadang pula, aku merasa hidupku terlalu banyak beban sehingga mengeluh menjadi alasan selagi tuntutan kepada-Nya tak kunjung datang balasannya. Ah, manusia. Bisanya hanya mengeluh tanpa pernah berpikir sebenarnya untuk apa ia hidup. Eh, bukan manusia deh, tapi aku Si mahasiswa pengayuh sepeda merah yang jarang bersyukur. Aku terpana dengan pemandangan singkat nan menawan hati. Pemandangan tentang sebuah keluarga yang nampaknya harmonis bahkan jangan tanyakan kemesraan mereka meskipun hanya sekelebat mata aku dapat merasakannya. Kejadian itu terlihat dari seberang jalan. Saat Darson tua masih ku kayuh dengan suara reot yang mengirinya. Ternyata di seberang sana ada sepasang suami-istri di atas bahtera becaknya. Sang istri sedang duduk di depan bahtera becaknya sementara sang suami dari belakangnya mengayuh becak tiga rodanya. Pagi memang baru datang, namun kemesraan mereka membuat semesta merasa iri atas arti hidup yang mereka tunjukkan. Kalau kamu berpikir, mesra adalah saat kamu berduaan di atas dipan indah dibarengi suasana pantai ala raja ampat atau makan pizza di atas riuh rendah sungai di pinggiran venisia. Nampaknya pagi ini kamu harus berpikir dua kali bahkan beribu kali dari mereka. Sang istri yang sedang asyik memamah makanan yang ada di tangan kanannya tak lupa menawarinya kepada sang nakhoda bahtera becak. Bagai Sang Kapten yang tegas, pada awalnya sang suami menolak tawaran suapan kue spesial dari sang istri. Sayang, saya tidak mendengar apa yang mereka bincangkan. Tapi pada tawaran yang kedua tangan lembut sang istri mamasukan kue sisa yang ada di tangan kanannya menuju mulut sang nakhoda bahtera becak. Ah, pagi indah memang selalu memiliki arti bagi mereka yang sudah bangun dari tidurnya. Pagi sejuk ini adalah saksi, bahwa kemesraan tidak harus berlangsung di atas dipan yang mahal harganya. Atau mungkin jet pribadi yang miliaran uangnya. Tapi dari bahtera tiga roda, nilai kemesraan itu ditampakan oleh sepasang suami-istri yang telah terbiasa hidup di atas bahtera hidupnya. ©ais-krub