CUKUPKAH KREATIVITAS? . Jika menengok berbagai telaah tentang pendidikan anak yang ditulis oleh ulama terdahulu semisal Imam Al-Ghazali, kita akan mendapati betapa eratnya kaitan antara ketajaman pikiran anak kelak setelah dewasa dengan pemenuhan kasih sayang, kehalusan perasaan, dan kuatnya getaran keagamaan. Al-Ghazali banyak menulis seputar menajamkan pikiran, menghaluskan perasaan dengan menguatkan getaran keagamaan. . Jika mencermati pikiran ulama salaf, kita akan mendapati pentingnya menjaga keseimbangan di antara unsur-unsur kekuatan jiwa manusia. Kepribadian manusia terbentuk dari dinamika unsur-unsurnya yang meliputi nafs (jiwa), jism (konstruksi fisik-biologis), fitrah, qalb, dan ruh. . Yang terakhir ini adalah amru Rabbani (perkara yang menjadi wewenang Tuhan semata). Meskipun disebutkan illa qalila (kecuali sedikit), saya tidak berani mengklaim terhadap apa yang dimaksud dengan ruh. Sedangkan di dalam qalb, terdapat empat daya, yaitu: quwwatul 'aqliyah (daya akal), quwwatul ghadhabiyyah (daya marah), quwwatusy-syahwiyyah (daya syahwat/kemauan), dan quwwatul wahmiyyah (daya imajinasi). Kesemua daya ini diperlukan manusia. Kekurangan maupun kelimpahan pada salah satu quwwah (daya) akan mengakibatkan penyimpangan berupa gangguan mental pada manusia, mulai dari taraf amradh-al-qalb (penyakit hati) sampai dengan asqam an-nafs (penyakit jiwa). Masing-masing memiliki tingkatan dari ringan sampai berat. . Kreativitas itu penting. Tapi, kreativitas harus berdiri di atas akhlak yang mulia. Kreativitas tidak berdiri sejajar dengan akhlaqul karimah. Kreativitas harus lahir sebagai konsekuensi dari pendidikan tauhid dan akhlak. . Kreativitas hanyalah salah satu aspek kemampuan manusia. Tidak ada keharusan untuk mendidik anak menjadi kreatif menurut ukuran Anda (lagi pula, siapa yang mengharuskan?). . Repost dari @prouchannel dengan perbaikan. . #terbitkan #gagasandancitacita #proumedia #proyouchannel #qotd #segenggamimananakkita #Repost @mohammadfauziladhim with @insta.save.repost • • •