Teman Duduk
Aku senang duduk di sini, berada di antara mereka. Walau mungkin, aku hanya menjadi secuil dari bagian di hidup mereka.
Tersenyum, sesekali tertawa. Beberapa kali juga kami saling mengernyitkan kening. Tak jarang, suara mereka yang biasanya terdengar lirih jadi meninggi ½ oktaf. Adakalanya juga di tengah perbincangan kami. Tiba-tiba suasana menjadi hening, itu bukan berarti kami canggung. Namun, kami sama-sama tenggelam dalam pikiran kita masing-masing. Akankah waktu seperti ini akan terulang kembali?
Ketika berbicara tentang hal yang sama-sama kami sukai, memang kami jadi tidak bisa mengontrol diri. Banyak ekspresi konyol yang terluapkan tanpa kami sadari. Ternyata semenyenangkan ini ya, tinggal atau berada di antara orang-orang yang menerima keterbatasan kita.
Ketika salah satu di antara kami ada yang memberi kabar duka, mereka tak lantas mengatakan, "Sabar, ya."
Karena mereka tahu, ujian dan kondisi setiap diri manusia itu beda-beda. Mereka paham betul, jika mereka tidak bisa menjamin kesabarannya sendiri saat merekalah yang berada di posisi 'orang yang berduka'
Lantas kalimat apa yang mereka ucapkan untuk menghilangkan duka, orang yang berduka di antara kami? Apakah mereka hanya diam?
Mereka berkata, "Nggakpapa, pasti ada ganti yang lebih baik."
Karena mereka yakin. Kalau apa yang mereka ucapankan akan benar terjadi.
Huh, senang dan lega rasanya. Duduk di antara mereka. Semoga Allah menuntun kita, untuk tetap berada di dalam orang-orang yang meneduhkan.
Kts, 11 Desember 2022

















