Jangan Mengemis Maafku.
Aku pernah hadir dalam sebuah kebisingan yang sepi. Di mana yang kulihat dengan kedua bola mataku adalah kebahagiaan yang menyakiti.
Kau menggenggam tangannya, tertawa dengan mimik yang begitu mesra. Aku ingin merasa marah, ingin ku menghampirimu dengan tangan yang terkepal kuat dan emosi yang meluap-luap.
Namun nyatanya tidak, dengan langkah yang pelan namun pasti, aku menghampirimu. Berkata 'Hai', yang kau sambut dengan kedua bola mata yang lebih membulat dari biasanya. Ya, kau sangat terkejut kala itu.
Aku belum bertanya, namun kau sudah sangat menggebu untuk menjelaskan. Ah, rasanya aku ingin tertawa. Untuk apa kau menjelaskannya kepadaku, jika yang kulihat sudah terlalu jelas untuk kuungkap?
Kau melepaskan genggaman tangannya, lalu beralih menggenggam kedua tanganku. Aku tersenyum, senyum terindah namun sungguh siapapun yang melihatnya akan merasa tertusuk. "Berhentilah berbicara, berhentilah menjelaskan. Aku tidak ingin mendengar apapun, telingaku mendadak tuli." Hanya itu yang aku ucapkan. Namun wajahmu tampak begitu menyesal. "Maaf, maafkan aku. Aku masih mencintaimu. Aku khilaf. Aku masih ingin bersamamu," katamu kala itu.
"Tak perlu menyesali, setiap yang kau lakukan akan mendapatkan resikonya. Dan lagi, jangan mengemis maafku. Aku tak ingin memaafkan tanpa rasa ikhlas di dalamnya. Aku ingin kau bahagia. Maka, kita akhiri semuanya. Dan mulailah lembaran baru dengannya. Aku tahu, kau tak pernah merasa bahagia denganku. Untuk urusan maaf, biarlah itu menjadi urusanku dengan sang waktu."
Dengan beribu uraian air mata, aku berbalik, melangkah menjauh dengan rangkaian kesakitan yang tak pernah kudamba akan mendapatkannya. Terisak oleh rasa sesak. Aku hanya mencoba kuat meski sebenarnya aku merasakan sakit yang teramat hebat. Ya, aku hanya mampu mengucap, "Semoga kau bahagia. Terima kasih untuk pengkhianatannya."


















