Takjub
Kemarin, aku ingin belajar merasakan rasanya jadi bapak-bapak yang narik gerobak sampah atau penjual-penjual yang mendorong gerobaknya. Jadilah kemarin aku mendorong motorku yang mogok dan kempes banget bannya alhasil berat banget untuk didorong karena sudah lima bulan nggak aku pakai.
"Tadinya mau saya dorongin ke bengkel." kata pak kos yang saat itu lagi ngurusin renovasi kos. "Nggak usah, Pak. Saya aja." Kataku sambil cengar cengir sendiri di balik masker.
Selama mendorong motor tentu saja dilihati orang-orang. Ketika lewat angkringan, seorang mas-mas teriak, "walah bannya gembossss.." aku menepok jidat dalam hati saja karena nggak bisa melakukan itu, tanganku lagi mendorong motor. Kenapa masnya teriak-teriak sih, kan satu angkringan jadi ngeliatin aku.
Untungnya di tengah jalan, ada isi angin. Aku isi angin dulu, setelah itu motornya lebih ringan. Kali ini, aku bisa dorong motor sambil berlari, hahahaha. Semangat banget aku, padahal capek.
Begitu dekat burjo, ada abang gojek lagi nongkrong, "motornya kenapa, Mbak?" Tanyanya spontan. "Nggak apa-apa, Mas!" Jawabku tetap dengan sumringah dan semakin semangat berlari.
Ternyata melelahkan sekali karena jarak dari kos ke bengkel memang cukup jauh, aku bahkan empat kali berhenti untuk mengatur ulang tenaga. Peluh sudah membanjiri wajahku, ditambah pula aku menggunakan masker. Ngos-ngosan sudah. Aku cuma berdoa semoga bengkelnya nggak ngantri.
Sampai di bengkel, mas-masnya pada ngeliatin aku, maksudnya ya menyambut pelanggan gitu tapi antara dengan wajah heran dan kasihan,
"Mbak dorong motor dari kos?" Tanya salah satu masnya.
"Iya, Mas." Satu bengkel ngeliatin aku yang ngos-ngosan.
"Walah tadi lewat chat cuma nanya bengkel buka atau nggak, kok nggak bilang kalau suruh ambil motornya, kan motornya mogok."
Aku cuma HEHEHE aja, tapi dalam hati ngomong, 'Nggak usah Mas, saya sengaja mau ngerasain rasanya jadi bapak yang narik gerobak sampah atau penjual yang keliling dengan gerobaknya.'
Saat itu belum terlalu banyak pelanggan, motorku bisa langsung dilayani. Biasanya sambil nungguin motor, aku jalan-jalan dulu ke Indomaret dan Koperasi Mahasiswa tapi kali ini aku duduk dulu yang lama banget, antara mager dan capek jadi satu. Agak lamaan baru aku jalan-jalan untuk bayar check-out Shopee di Indomaret dan beli mie, sabun dan lain-lain di Koperasi.
Setelah balik aku tanya,
"Motorku kenapa ya, Mas? Ini tolong sekalian service sama ganti oli ya, Mas."
"Ini akinya ngedown, lagi saya cass."
"Oh, kayak HP aja ya Mas, haha."
"Iya, kayak HP. Olinya nggak saya ganti, masih bagus. Ini nanti kalau isi bensin pertama kali pertamax dulu ya, bensin yang kemaren ngendap soalnya."
"Emang kenapa harus pertamax?" Kepo aku.
"Karena unsur blablablanya blablabla nanti rebutan.." apa gitu aku lupa, hahahaha.
Kali ini aku berdoa, semoga aku masih ingat cara bawa motor. Aku deg-degan banget, lima bulan nggak bawa motor. Huft.
Setelah semua urusan beres aku bayar, yaiyalah. Dan selalu aku tanya ulang,
"Aman kan, Mas?"
"Aman!"
Waktu aku mau keluar, aku cek lagi klakson dan lain-lainnya.
Kata masnya,
"Eh lampunya mati. Maju lagi, belum diijinin pulang kamu, Mbak."
Dengan polosnya, majulah aku lagi.
Mas yang satunya lagi bilang,
"Yaiyalah, wong mbak e belum nyalain motornya kok."
Aku ketawa.
"Walahhh.." kata masnya yang itu.
Satu bengkel ketawa.
Ah, suatu saat aku akan merindukan Jogja dan seluruh keramahannya yang seperti ini.
Aku tuh kalau pergi ke tempat-tempat service dan bertemu orang-orang teknisi, sering takjub. Takjub sama para teknisi atau semacam montir ini karena bisa memperbaiki sesuatu yang aku sama sekali nggak paham atau menurutku ini rumit banget.
Kalau begitu, bukankah sudah semestinya juga kita setakjub itu pada Zat yang menciptakan para teknisi itu, iya nggak sih? Ya harusnya kita se-WOW itu sama Allah.
Segini aja dulu curhatanku, btw postinganku kali ini banyak mengandung promosi. Gapapa yaa, hehehe.
Ygykrt, 12 Agsts 2020 | 14.00

















