Kabut dan Ekspektasi
Akhirnya setelah sekian lama, baru kali ini benar benar jauh dari ekspektasi, Ekspektasinya adalah tentang sabana terbuka luas dan lebar, tempat berulang berbaring berlarian menulis dan membagi kisah, nyaman, indah, tenang, hangat dengan cerita, tapi kali ini yang diberikan adalah helai putih tipis sepanjangnya, serta sedikit tetesan air jatuh mengalir melalui helai helai putihnya, kami terpaksa menari berlarian dibawahnya, mendinginkan panas tubuh, yang sepanjangnya telah berusaha mencapainya, sampai terlewat titik kesetimbangannya, hingga berubah menjadi jarum menyengat, menghentikan langkah menuju atapnya, bahkan dipaksa mundur ke balik pilar hijau, agak menyedihkan memang, tapi disisi lain aku ingat ada seseorang yang sangat mengharapkan ini terjadi, menari diantara hujan berkabut ditengah sabana, kemudian berubahlah pikiran dan sudut pandang, membuka jutaan pintu baru, dibawah syahdunya kabut dan rintik hujan, diantara pilar pilar hijau yang mengekang bakai ruang serbaguna, berlatar belakang yang tak pernah ku kira ada, bahkan yang mungkin mustahil untuk di lirik pun ditemukan, disajikan minuman serta makanan hangat dengan seadanya, sembari terus menari hingga batas waktu waktu, berharap cahaya akan tiba dan menambah kaya-nya hal yang didapat.
Bohong jika aku tidak kecewa, sebagai seorang pembicara, diantara semuanya, dua belum sempat melihat dan menikmati agungnya dataran luas itu, belum sempat memeluk pilar hitam yang mengukuhkan perjuangan para penggapai, bersyukur hari itu menjadi acuan mereka untuk bergabung kembali, bagiku dan yang lainnya, kami tau konsenkuensinya, Aku tetap bersyukur dan menikmati semuanya, juga untuk mereka yang tidak terhantarkan, karna memang berat dan berkonsekuensi untuk kali ini, tujuan ku pun hanya untuk berjalan keluar, tapi akankah? Jika niatnya berbeda akan diberikan semuanya?












