jarak
“Kamu ngga risih?” “Aku berusaha biasa aja sih, takut karma wkwkwk” Mungkin itu percakapannya? Kurang tahu juga, hehe belum kutanya. Ada pembelajaran yang bisa diambil, bahwa berlebih-lebihan memang sungguh baiknya dihindari. Lagipula, Allaah tidak suka, ‘kan? Takar kadarnya, pastikan pada porsinya. Sukanya dan tidak sukanya, senangnya dan kesalnya. Allaah menguji dengan keduanya, apa-apa yang tidak kita suka dan kita suka. Keduanya tidak mudah, maka lebih baik bersiap dan berusaha berserah dengan sekuat tenaga.
Ada coretan-coretan yang dihapus. Bayangkan kalau sejak dulu berlebihan dan menggunakan yang permanen, sulit. Ada rangkaian yang dirapikan kembali. Hati-hati dengan yang robek, diperbaiki dulu saja karena bisa jadi masih bisa berguna kemudian. Lecek-lecek itu tidak perlu disetrika amat, dijepit dengan buku juga nanti rapi sendiri. Nanti waktu beritahu, mana yang harus diloak, didaur ulang, atau dilaminasi. Tidak perlulah gegabah saat ini. Perlahan. Allaah juga tidak suka yang tergesa-gesa. Sabar, tidak terburu-buru. Bersegera berbeda dengan gegabah. Lagipula untuk membaca kode-kode yang ada butuh skill. Alokasi waktu memang perlu diatur. Ahiya, alokasi jarak juga.
Terkadang jarak memang bukan untuk dirutuki, melainkan untuk disyukuri karena entah berapa banyak yang kesulitan mengambil jarak untuk berpikir jernih sendiri terlebih dahulu, sebelum akhirnya kembali ke medan juangnya. Kadang terjebak asumsi dan sugesti. Biasanya nanti tersadar ternyata ketika melangkah lagi. Kalau sudah banyak renungan dilalui namun ternyata belum banyak perubahan berarti? Tidak apa. Proses. Jarak yang dicipta sebelumnya, waktu yang dicukupkan untuk benar-benar merasa dan merenung dalam sunyi, sungguh benar-benar sungguh, dapat meringankan langkah yang dijejak kembali, dengan segala prasangka baik yang bisa jadi terjadi di kemudian hari. Penerimaan memang sesuatu yang berharga, dan waktu memang tahu kapan harus menggerakkan langkah ini. Pandai-pandai saja membaca sinyalnya.
Padahal dalam kata jarak bisa jadi sudah ada waktu. Ya begitulah wkwk dimengertikah? Untuk beberapa saat mungkin bicaranya perkara spasial temporal, namun konteks sendiri lebih luas dari itu. Hm. Dicocokkan saja.
Apa-apa yang dijadikan terjadi selalu tepat bagi hamba-Nya. Kalau kata seorang kawan, semua orang bisa merasa semesta bersekongkol. Kerennya, kehendak Allaah bisa partikular bisa universal. Mengesankan. Giliran manusianya bisa husnudzan atau tidak.
.
Kata seorang kawan lainnya, give (me) time, time. Atau (me) lebih tepat menjadi (us)? Rasanya memang kita semua akan selalu belajar.

















