Sebenarnya ini tulisan mau dishare awal libur kemarin, tapi banyak hal tak terduga terjadi. Iya, besok Senin sudah mulai semester baru, musim semi yeay spring is coming. Waktu itu ada yang request cerita bagaimana kehidupan selama disini, akan saya cobaa
17 September 2021 aku bersama 4 teman berangkat ke Korea, kabarnya kami gelombang terakhir dari Indonesia yg berangkat (penerima GKS). Waktu itu memang kasus covid di Indonesia sedang tinggi-tingginya sehingga akses masuk ke negera lain sempat ditutup termasuk Korea. Setelah karantina 14 hari di sebuah resort di daerah Yangpyeong, Gyeonggi. Mulai bulan Oktober kami tinggal di Asan. Sebuah kota kecil di Provinsi Chungcheongnam tidak jauh dari ibukota Korea Selatan, Seoul. Di Asan inilah lokasi Sun Moon University, tempat kami belajar Bahasa.
Berdasarkan aturan beasiswa yang kami terima, kami diwajibkan menjalani program Bahasa Korea selama maksimal 1 tahun dengan hasil final tes TOPIK (semacam toefl tapi Bahasa korea) minimal level 3 sebelum bisa melanjutkan ke graduate study. Walaupun kami tinggal di Asan, namun tempat kuliah kami berada di Cheonan (semacam kampus wilayah).
Beberapa bulan di awal, perkuliahan kami masih full online, mulai bulan November ada kebijakan kuliah tatap muka seminggu dua kali. Karena kampus kami ada di Cheonan, jadi kami perlu naik bus kampus dari kampus Asan, butuh sekitar 20 menit untuk sampai dan hanya ada 1 jadwal di pagi hari.
Kehidupan kuliah Bahasa korea yang saya alami di awal sangat sulit karena benar-benar belajar dari nol. Dari speaking, reading, listening dan writing, speaking adalah yg tersulit. Tapi Alhamdulillah, sistem di Sun Moon ini memudahkan orang yang belajar dari nol, kurikulumnya meningkat berdasar level. Bulan Januari lalu kami menjalani tes TOPIK yang pertama. Karena ini kali pertama, jadi saya belum ada gambaran sesulit apa tes ini, akhirnya saya ikut tambahan kelas khusus TOPIK yg diadakan setiap dua kali seminggu selama satu bulan. Alhamdulillah kelas itu sangat membantu untuk menyelesaikan TOPIK kami yg pertama itu..
Selain cerita mengenai kelas Bahasa, yang menantang adalah kehidupan sosialnya. Selama hampir lima bulan tinggal di asrama dan berteman dengan orang berbagai negara membuat komunikasi multibahasa yang begitu menarik. Sometimes I forgot kosakata Bahasa Indonesia karena terlalu sering dengar dan baca Bahasa Korea terus komunikasi sama teman pake Bahasa Inggris LOL. Positifnya bisa ningkatin kemampuan Bahasa inggris juga, kaya yang direncanakan di study plan.
Kehidupan sehari-hariku sangat menyenangkan hahaha (TT), berada ditempat yang baru membuat ingin mengeksplor semua hal-hal baru. Karena saya suka travelling, jadi sering pergi ke tempat-tempat yang dekat. Dengan pikiran bahwa di Asan ini hanya satu tahun dan selanjutnya bakal jauh dari kota (Seoul), membuat kami ingin mengeksplor kota ini dan sekitarnya.
Saya juga suka mengeksplor pasar tradisional XD. Disana bisa langsung komunikasi sama orang korea, ya walaupun bisa ngomongnya itu itu aja haha tapi asik aja lihat interaksi orang korea secara langsung. Dulu sebelum datang ke Korea ada perasaan takut tidak diterima karena cara berpakaian. Entah karena disini masih dekat kota jadi penduduknya sudah terbiasa dengan muslim atau memang mereka acuh, saya belum pernah mengalami hal buruk terkait rasisme atau pandangan buruk mengenai kami. Biasanya kalau sedang jalan sendiri, ada beberapa orang yang liatin gitu (yak arena beda aja), terus sapa ajaa nunduk gitu. Selain memberi kesan positif juga bisa membuka jalur komunikasi aja.
Oh ya, karena suka jalan-jalan, kami harus pintar-pintar luangin waktu dan cari tempat untuk sholat. Di awal sampai di Korea kami masih bingung, dimana mau sholat gimana caranya kalo lagi pergi sama temen2 yang gak sholat, tapi lama2 bisa terbiasa juga kokk. Misal lagi di luar atau tempat terbuka, bisa sholat di pendopo atau halaman yang luas terpencil gitu tapi pastikan gak najis soalnya biasanya banyak orang jalan2 bawa anjing gitu. Kalau di dalam ruang bisa sholat di ruang ganti (mall), di tangga darurat maupun pojok2 yang gak ada orang. Tantangannya banyak tapi asikk!
Awal-awal tinggal disini masih sulit untuk mencari makanan halal, secara harfiah. Apalagi daging yang bisa saya makan itu cuma ayam XD. Jadi waktu awal-awal disini hanya bisa makan sayur dan roti-rotian, kalua mau daging ayam harus pesan online atau beli di Seoul. Tapi beberapa saat lalu Alhamdulillah kantin asrama mulai jual ayam halal jadi menu yang ada tinggal ganti aja dagingnya sama yang halal certified. Dan kalau mau fast food, burger misalnya, bisa makan burger udang aja ^^. Kemudian setelah makin mengeksplor, restoran halal lumayan banyak di kota, jadi kalau pengen yang beda tinggal kesana aja sekali-kali. Oh ya asrama juga ada dapur tapi terkhusus untuk muslim dan vegan, jadi tidak campur sama yang lain. Kami bisa memasak lauk sekali seminggu dan disimpan di kulkas yang ada di setiap lantai asrama. Kebijakan asrama bisa berbeda tiap kampus..
Setelah hampir lima bulan tinggal di asrama, awal bulan kemarin saya pindah keluar. Semacam kos an tapi lengkap sama dapur dan alat cuci-cuci. Alhamdulillah karena tinggal berdua jadi biaya sewa lebih murah dibanding di asrama dengan berbagai aturan yang ada hehe. Dan disini saya merasa bisa lebih mengembangkan diri, seperti mencoba masak sesuatu baru, melakukan hal baru.. Walaupun bukan di asrama tapi lokasi tempat tinggal kami masih di dalam kampus, bahkan belum keluar gerbang kampus haha. Jadi kalau keluar gedung buat ke 7eleven atau kafe sekitar situ masih banyak mahasiswa.
Ya, kalau dilihat-lihat liburan ini hampir gak keluar kota. Selain karena kasus covid yang naik (lebih dari 400k/hari), uang beasiswa pun belum turun TT. Namun sebelum liburan berakhir, kemarin saya sempatkan ke Seoul (kurang lebih 2jam dari sini). Iya, ada konser BTS. Cuma pengen tau segimana sih fanatiknya fans2 domestik sini dan gimana konser offline pertama di Seoul semenjak pandemi. Seperti yang terlihat di story-story sebelumnya, kami cuma memantau dari luar XD dan mengambil pelajaran… (ini butuh platform lain haha)