Chained Angel
@theendlessempty
seen from China
seen from Austria
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from Argentina

seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from China
Chained Angel
@theendlessempty

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
My entry for the Vgen/FA challenge this month, the prompt was “Paws.” Threshold of parallel worlds
The Starr
@theendlessempty
Evening Starr
@theendlessempty

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
The Starr
@theendlessempty
introducing her.
full name Sarah Kaelina Ardene
place of birth Jakarta
date of birth 27 Mei 2005
age 21
status Final-year Visual Communication Design student
location Bandung
chapter one ; too 'alive' for 8AM
Pagi di kampus selalu memiliki dua tipe manusia: yang masih setengah hidup… dan yang terlalu hidup.
Sarah tentu yang kedua.
"Sar, gue fix gak ngerti brief dosen deh sumpah."
"Tenang," Sarah jalan mundur sambil memperhatikan temennya, dengan segelas kopi dingin di tangan. "Gue juga enggak."
"Anjir, terus lo santai banget?"
Sarah nyengir. "Panikan gak bikin pinter, Kal."
Kala, sahabat terdekatnya, tertawa mendengar jawaban asal Sarah.
Mereka menyebrangi pelataran FSRD yang mulai ramai. Beberapa orang otomatis menyapa:
"Sar!" "Sarah!" "Eh nanti rapat jadi kan?"
Dan Sarah membalas semuanya tanpa menghentikan jalannya.
"Jadi!" "Nanti gue kabarin!" "Eh file lo udah gue cek ya, aman!"
Natural. Gak mikir. Seolah semua itu memang sudah menjadi ritme hariannya.
"Kok lo bisa sih kenal semua orang?" tanya Kala.
Sarah berpikir sebentar—gaya doang.
"Gak kenal juga sih."
"Lah?"
"Tau muka doang."
Kala tertawa. "Kurang ajar."
Sarah ikut tertawa bersama sahabatnya.
Mereka berhenti di depan papan pengumuman, kemudian Sarah langsung berdiri agak dekat, pura-pura membaca apapun yang ditempelkan di sana.
"Lo baca apa sih?" "Gak tau," jawabnya santai. "Cuma biar keliatan sibuk aja."
"Padahal lo emang sibuk."
"Ada image yang harus dijaga, Kal."
Kala geleng-geleng lagi.
Sarah tersenyum, namun kedua netranya hanya terfokus sebentar ke papan itu—gak benar-benar nyerap apa-apa.
Teringat sesuatu, ia melihat jam di layar ponselnya.
"Gue ke studio dulu ya."
"Eh nanti makan siang!"
"Gas. Chat gue aja."
Sarah jalan sendiri sekarang. Langkahnya tetap cepat, tapi ringan—seolah tidak pernah ragu hendak ke mana.
Memasuki gedung, kemudian menaiki dua anak tangga sekaligus.
"Pagi!" "Eh masih hidup lo!"
"Masih, tipis-tipis."
Pintu studio terbuka.
"Sar!"
"Lo bawa referensi gak?"
Sarah meletakkan tasnya di meja yang biasa ia tempati kemudian segera mengambil tempat duduknya.
"Bawa lah. Masa gue cuma bawa diri doang."
"Padahal itu juga cukup sih."
"Oh, jelas."
Tawa lagi.
Laptop terbuka, file mulai jalan. Obrolan tetap mengalir tanpa pernah dipaksakan. Sarah pindah-pindah fokus dengan amat mudah—kerja, ngomong, ketawa—semuanya jalan bareng tanpa kelihatan ribet.
"Sar, ini menurut lo gimana?" "Sini," dia geser kursinya mendekat. "Lo kebanyakan di sini. Kurangin dikit, baru balance."
"OHH iya ya."
"Makanya dengerin gue."
"Narsis banget lo."
Tawa lagi.
Beberapa waktu kemudian, suasana mulai agak turun dan orang-orang mulai fokus dengan pekerjaannya.
Sementara Sarah masih di depan laptopnya. Tangannya berhenti sebentar untuk meraih botol minumnya dan bersandar pada kursinya sedikit.
Kedua netra cokelatnya kosong satu detik lebih lama dari biasanya.
Gak lama.
Tapi cukup buat… napas.
Sampai ketika notifikasi pada ponselnya berbunyi.
Sarah melirik sekilas.
Nama itu muncul.
Senyumnya tidak serta-merta langsung hilang begitu saja.
Cuma… berhenti.
Satu detik. Dua detik.
Tangannya perlahan mengubah posisi ponselnya menjadi menghadap bawah.
"Sar, yang ini bagus gak?"
Seolah kembali ditarik ke dunia nyata, Sarah segera menyadarkan dirinya dan menggeser kursinya lagi.
"Yang mana? Sini gue liat."
Nada suaranya kembali ringan. Obrolan lanjut. Sarah tertawa lagi.
Seolah tidak ada apa-apa.
Dan hari itu ia lanjutkan seperti biasa—
dengan Sarah yang tetap menjadi pusat kecil dari semuanya.
Hanya bedanya sekarang, Sarah paham
bahwa gak semua hal harus dia bawa ikut.