Selalu Diam-diam. Terlalu Dalam.
Kutuliskan kembali kisah ini. Setelah berwaktu-waktu lamanya tidak kuceritakan pada siapapun. Kisah ini masih rahasia. Kecuali untuk Tuhan dan diriku sendiri. - Sejak dulu memendam rasa padamu, aku sungguh enggan berharap. Karena banyak hal menjadi pertimbangan. Bisa jadi, aku bukan tipe orang yang akan dengan mudah kausukai. Seperti cinta pada pandangan pertama. Bisa jadi, aku terlalu jauh dari elok dan rupawan. Kau tahu, sejak dulu aku tidak percaya diri. Bisa jadi, paling jauh kau hanya akan menganggapku sebagai teman. Seperti sekarang. Seperti nanti. Seperti... sampai entah kapan. Sebenarnya aku bisa saja bertahan. Berpura-pura bahwa kita memang selayaknya hanya sampai di sini. Berpura-pura berpuas hati, untuk bisa dekat denganmu hanya sebagai teman biasa saja. Namun nyeri itu ada, ketika kutahu kau memilih seseorang sebagai pasanganmu. Luka itu nyata, saat kusadari melihatmu dengan yang lain, aku tidak suka. Aku ingin, ia tidak ada. Sungguh, aku sanggup membenci diriku sendiri. Karena memutuskan berbohong padamu selama ini. Karena menjadi tokoh utama dalam cinta rahasia ini. Karena teoriku sejak dulu ternyata salah... : Mencintaimu secara diam-diam, justru akan membuatku menggilaimu semakin dalam. - © Tia Setiawati | Palembang, 6 Juni 2017













