Si Bijak vs Si Sinikal
B: Cobalah kau berkawan dengan banyak orang. Tak akan rugi.
S: Hah! (senyum sinis) Dusta! Lebih baik aku berkawan dg 1 orang yg tulus daripada berkawan dg banyak orang yang palsu.
B: Bagaimana kau bisa menilai orang itu tulus atau palsu kalau kau tak pernah mencoba berkawan dg mereka?
S: Hey, di dunia ini tidak ada orang yg benar2 tulus thd orang lain selain orang tua kita sendiri. Apa kau yakin kawan2mu yang segudang itu berkawan dg mu hanya karena ingin berkawan? (tersenyum sinis)
B: Kau terlalu sinikal kawan.
S: Kau belum minum pil pahit kehidupan. Kau baru mencicipinya. Telanlah pil itu. Kau akan tahu.
B: Bijak dan sinikal tetaplah sebuah pilihan, bahkan setelah kita minum pil pahit kehidupan. Pilihan kita, mau menilai pil itu sebagai obat atau hanya menilai dari rasanya.
S: Dan ini pilihanku. Pil pahit tetap saja pil pahit. Bahkan obat itu sendiri adalah racun.
B: Sepertinya memang susah memberi masukan untuk orang sinikal sepertimu.
S: Hah!(tersenyum sinis) Bahkan secara tak sadar kau sudah mulai menjadi orang sinikal itu.
H: (sedari tadi menyimak) Hey SAUDARA2KU. Sudahi saja lah diskusi kalian. Tidak akan ada ujungnya. Lebih baik KITA bercermin.


















