Batas (10)
Apa yang paling sulit dihadapi? Yaitu batas.
Kita selalu diuji dengan batas-batas. Batas diantara ingin menetap atau segera meninggalkan.
Samudra laki-laki yang tiba-tiba datang itu. Kini menjadi pemeran yang menguji batas diri pada diri Rinai. Rinai tak percaya kalau emosi-emosi itu masih bisa mempermainkannya.
Tapi Rinai juga tak tega jika meninggalkan hanya karena pikiran-pikiran idealisnya. Terlalu angkuh rasanya. Padahal ia juga masih perlu banyak belajar tentang batas-batas.
Gelas kopi itu kini makin pekat karena lama dilupakan. Rinai rasanya seperti sedang sibuk bertarung pada pikiran, dan juga hatinya.
Akhirnya Rinai menyanggupi untuk bertemu dengan Samudra. Dengan satu alasan yaitu meluruskan semuanya, meluruskan hati dan pikirannya.
Rinai cuma takut kalau semua ketakutan ini cuma ada di kepalanya. Rinai cuma takut kalau cuma dia ternyata yang dipermainkan oleh emosi-emosi hati.
Ditemani teman yang mengerti segala isi pikiran dan hatinya, Rinai pun menemui Samudra.
"Bagaimana jika datang seseorang yang pernah berpacaran padamu Nai, padahal pasti kamu juga menginginkan seseorang yang sama-sama belum pernah berpacaran?" Tanya Samudra pada Rinai hati-hati.
Rinai cukup kaget mendengar pertanyaan itu. Jujur saja pertanyaan itu salah satu ketakutan terbesar Rinai. Dimana selama ini Rinai selalu hidup dalam pikiran idealisnya dimana hanya mengharapkan seseorang yang sama-sama menjaga sepertinya, pikiran idealis yang membuatnya selalu terjaga karena tau hal itu sulit untuk dicapai.
Tapi hari itu Rinai tiba-tiba mengesampingkan ego dan pikiran idealisnya.
"Dulu aku berpikir seperti itu, ingin juga mendapatkan seseorang yang sama-sama menjaga. Tapi selama seseorang yang datang itu mau berubah, aku tak masalah." Jawab Rinai jujur meski dengan pergulatan batin.
Pergulatan batin antara ketakutan bagaimana jika seseorang itu cuma mau berubah karena ingin mendapatkannya tetapi ketika sudah dapat seseorang itu bisa saja lupa dengan tujuan perubahannya.
Rinai takut sekali.
Entah mengapa rasanya ketakutan-ketakutan dalam dirinya semakin terlihat nyata, dan menjelma perlahan-lahan.
Rinai tidak boleh dengan mudah menghakimi seseorang. Apalah Rinai yang masih sering juga melakukan kesalahan. Tak berhak menduga-duga secara negatif hal yang terjadi.
Selalu ada alasan dibalik setiap kejadian. Selalu ada pelajaran yang Allah ingin ajarkan pada tiap kejadian.
Belajar untuk tetap menjadi pemaaf untuk diri sendiri dan juga orang lain. Belajar untuk tidak cepat menilai manusia. Belajar untuk memahami. Belajar untuk peka pada pelajaran yang Allah titipkan pada tiap kejadian.
Rinai memutuskan untuk tetap ingin membantu tak peduli pada emosi-emosi hatinya. Tapi tetap dengan cara yang baik dan benar. Dan juga batas.
@merinaikata | 10 Maret 2021















