ADK PACARAN?
Disclaimer : tulisan ini bukan hendak mewajarkan pacaran melainkan menawarkan cara pendekatan berdasar pengalaman dan best practice penanganan.
Alhamdulillah ketika organisasi dakwah mahasiswa Islam masih menganggap ikhtilat, pacaran, atau backstreet adalah hal yang salah dalam ajaran Islam.
Namun kalau ingin objektif, setiap orang yang masuk organisasi belum tentu memahamai akan hal itu. Maka tugas sistem adalah bagaimana cara memahamkan dan seminimalnya mengurangi dampak pacaran yang muaranya adalah zina.
Belajar dari Murabbi saya, mengatasi ADK yang pacaran harus berangkat dari proses pemahaman yang bertahap.
Seseorang yang terlanjur melakukanya pasti memiliki pertarungan batin yang kompleks. Maka titik awalnya adalah dengan cara menasihati tanpa menjudge —menjelaskan benar salah dan tidak mengasingkanya.
Untuk ukuran mahasiswa yang dianggap dewasa, kalau seorang laki-laki perlu ditekankan sebuah komitmen akan menjadi kepala keluarga, sedangkan perempuan perlu untuk menyibukan dengan ilmu agar tak larut dalam perasaanya. Hal ini bisa berlaku linear tak saklek satu sama lain.
Hemat saya, banyak laki-laki hanya mengejar kesenangan sesaat daripada bermuara pada komitmen serius. Kalau ADK backstreet sebetulnya tahu kalau apa yang mereka lakukan salah tapi mewajarkan karena mungkin merasa kadar dosanya lebih sedikit.
Setelah tahap pemahaman adalah rekayasa sosial. Kita buat orang yang pacaran sibuk dengan agenda dakwah yang seminimalnya membuat pergulatan batin dalam pikiranya. Buat kajian bahaya VMJ, FGD, dan persiapan pernikahan. Untuk proker seminimalnya kita batasi interaksinya dengan hijab yang jelas baik offline atau online.
Percayalah niat baik akan bermuara pada kebaikan juga. Cepat atau lambat.
Tapi yang perlu dipahami, kita tidak bisa mengubah satu orang dalam satu malam. Seminimalnya kita mengajak, mengikhtiarkan dengan sistem, dan tak kalah penting untuk mendoakan kita semua tetep istiqomah di zaman yang penuh fitnah ini.
Boyolali, 01 Juni 2026

















