Menerima Kesalahan dan Meresponnya dengan Benar
Yang penting adalah kita bisa menerima kesalahan yang pernah kita lakukan dan benar-benar belajar dari hal itu. Agar kemudian tidak mengulanginya lagi.
Tapi kenyataannya, ternyata gak semudah itu. Kadang kita malah terus menerus merasa bersalah dan terlalu sering mengingat-ingat kesalahan yang pernah kita lakukan. Sampai hal itu kadang malah mengganggu kita untuk berbuat baik. Akibatnya, setiap kali berbuat baik, kita selalu merasa gak pernah cukup. Ya karena itu tadi, kita masih saja terus mengingat-ingat kalo kita pernah melakukan kesalahan. Ngerasa kalau kesalahan yang pernah kita lakukan itu gak sebanding dengan perbuatan benar kita. Bahwa sebanyak apapun kita berbuat baik, gak akan pernah bisa menghapus kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya. Mbulet ae kayak gitu.
Padahal, bukankah Allah Maha Memaafkan? Terlebih ketika kita memohon maaf kepadaNya.
Kesalahan apapun yang kita perbuat, Allah pasti selalu memaafkannya (kecuali syirik, ya). Sebenarnya yang jadi masalah bukan apakah kesalahan kita dimaafkan atau tidak. Tapi, apakah kita bisa menerima dan memaafkan kesalahan kita sendiri atau tidak. Seringnya malah kita sendiri yang kesusahan. Meskipun dari luar kelihatan baik-baik saja, tapi jauh di dalam hati kita selalu memaki-maki diri sendiri atas semua yang pernah kita perbuat. “ngapain sih dulu aku kayak gitu”, “kok dulu aku gak mikir, ya”, dan semacamnya. Respon kita cenderung negatif dan defensif. Seakan-akan semua langkah yang akan kita lakukan selalu dihantui dengan ketakutan akan kesalahan-kesalahan masa lalu. Keberanian untuk melakukan sesuatu jadi berubah menjadi kehati-hatian yang sebegitunya. Hingga akhirnya merenggut kebebasan diri kita sendiri untuk bergerak.
Iya, kita semua tahu setiap manusia punya kesalahan tersendiri. Bagaimana setiap manusia merespon kesalahan yang mereka perbuat juga berbeda-beda. Saya sendiri sedang berjuang dengan hal ini. Sedang berusaha menerka-nerka bagaimana memberikan respon yang tepat terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Apalagi ketika lagi-lagi mengalami kegagalan. Jika banyak orang yang bilang salah satu cara agar bisa menjalani hidup dengan tenang adalah berdamai dengan diri sendiri, mungkin tulisan ini salah satu cara yang bisa aku lakukan.
Setiap kesalahan yang terlah kita perbuat, itu tempatnya di masa lalu yang gak akan pernah bisa kita rubah. Kecuali kita ada di Winden dan menemukan gua di tengah hutan seperti yang ada di serial Dark (itu pun mereka masih kesusahan). Yang penting adalah kita sadar terlah melakukan kesalahan itu. Kemudian dengan besar hati bisa menerima kesalahan yang pernah kita lakukan dan benar-benar belajar dari hal itu. Agar kemudian tidak mengulanginya lagi. Di awal memang susah. Karena kita selalu sok merasa bisa gak mengulangi kesalahan yang sama. Sok merasa sudah belajar dari kesalahan. Tapi nyatanya, hehe, kita masih saja melakukan hal yang sama berulang kali. Kita hanya berusahan menutup-nutupinya dengan asumsi-asumsi positif yang membangun keyakinan di dalam diri kita sendiri bahwa kita bisa berubah. Tapi kemudian, keyakinan itu runtuh lagi. Kita susah untuk tersadar, sebenarnya.
Namun pada akhirnya. Sepertinya kita memang butuh patah dan hancur sebegitunya terlebih dahulu agar bisa tersadar sepenuhnya. Sembari kemudian juga tersadar bahwa apapun yang kita lakukan sekarang, pasti akan berpengaruh untuk kehidupan kita ke depannya.
Memang butuh keberanian untuk menerima dan mengakui bahwa kita melakukan kesalahan. Tapi gak ada ruginya, kok. Ketenangan jiwa dan kebebasan berkehidupan bisa kita dapatkan. Jangan sampai hanya karena kita melakukan kesalahan, kemudian menjadikan diri kita takut untuk melakukan hal-hal yang baik. Karena jika kita mau sedikit melihat secara lebih luas, porsi kesempatan untuk berbuat baik jauh lebih besar daripada kesempatan untuk berbuat salah. Kita mungkin hanya satu dua tiga kali saja melakukan kesalahan. Itupun kita gak pernah benar-benar sengaja melakukannya, kan? Kita gak pernah tiba-tiba muncul keinginan untuk berbuat salah, kan? Kita masih bisa menghindari dan menjauhi keinginan untuk melakukan hal yang salah, kan?
Jadi ya, mari kita saling memperbaiki bagaimana kita merespon kesalahan yang kita perbuat. Semoga kita semua selalu dijaga kehati-hatiannya dalam melakukan apapun. Yang paling penting, kesalahan masa lalu seseorang tidak selalu mendefinisikan bagaimana dirinya saat ini dan nanti. Stay positive!
Malang, 3006 @dimazfakhr









