I (Be)leave You
(Awal mula)
–S
Hari ini langit terlalu cerah untuk bermurung hati. Lebih baik berkeliling taman sekadar menghirup udara segar. Belakangan ini aku merasa sangat lelah, pikiranku juga cukup penat. Bolehlah sesekali bersikap acuh akan tanggung jawabku, terbebas dari rutinitas yang cukup membosankan. Sepertinya asik juga jalan-jalan di taman tempatku merantau. Taman yang mempunyai daya tarik setiap kali wisatawan lokal jika ingin bersantai. Dan tentunya menjadi ikon dari kota ini. “Happy weekend.” batinku bersorak.
Rupanya ada sekumpulan remaja seusiaku yang sedang berpiknik di taman. Biasalah menikmati hari libur, bercengkrama dengan teman tentu sangat menghibur. Tapi hari ini aku memilih berjalan sendiri tanpa meminta Manda menemani. Lagi pula kemarin dia bilang akan pergi dengan kekasihnya. Maklum sajalah, pacarannya masih baru, masih hangat seperti kue putu. By the way Manda itu teman sekostku, kamar kami besebelahan satu kampus juga denganku hanya saja berbeda jurusan. Sepertinya sudah dua hari ini aku tak menghubungi Ibu,lebih baik ku telepon saja sembari rehat di bangku taman setelah berkeliling.
“Assalamu’alaikum Bu, bagaimana kabar Ibu? Kabar Ayah?” ucapku membuka percakapan setelah menunggu.
“Wa’alaikumsalam Nduk, kamu kemana saja tidak menelepon Ibu? Kamu sedang sibuk?” ahh suara ini kurindukan sekali.
“Iya maaf ya Bu, aku cukup sibuk dengan tugas kuliahku. Ibu belum manjawab pertanyaanku.”
“Iya iya kabar Ibu dan Ayah baik Nduk, kamu jangan terlalu lelah jangan lupa istirahat. Dan jaga diri baik-baik selalu. Satu lagi, jangan lupa sholat.” Aku tersenyum mendengar wejangannya.
“Hmm iya Bu, Ibu juga ya sehat terus jangan terlalu lelah. Sudah ya Bu kututup teleponnya. Salam untuk Ayah. Daaahh.”
Rasanya aku mulai terjangkit home sick, merantau memang bukan suatu perkara mudah. Memutuskan berhubungan jarak jauh antara Jogjakarta-Bogor. Terlebih Ibu yang selalu khawatir jika aku pergi terlalu jauh, belum lagi dengan wejangannya dari A sampai Z yang mengalir lancar. Aku jadi teringat saat SMA Ibu tetap saja melarangku bermain terlalu jauh dan pulang hingga larut, saat itu aku merasa sudah cukup dewasa jadi begitulah terkadang suka ngdumel sendiri. Tetapi lain halnya dengan sekarang, berpikir akan mudah menjalani hari-hari jauh dari Ibu dan Ayah, ternyata cukup menguras hati. Apalagi kalau bukan menahan rindu yang menggebu.
Dugg
“Aww.” Tiba-tiba saja sebuah bola mendarat mulus didahiku. Sial!
“Hei hei, mau lo apain bolanya?’ gerak tanganku terintrupsi suara seorang pemuda yang berlari ke arahku. Menghentikan pekerjaanku meremas bola plastik penyebab sakit didahiku.
“Oh jadi kamu, yang punya bola ini hah?! Hei bolamu mengenai dahiku, hati-hati kalau bermain!” semburku ketika dia sampai.
“Woaaahh lo emosi banget kayaknya, santai ajalah namanya juga mainan suka lost control ehehe.”
Bagaimana mungkin dia mengatakan itu tanpa rasa bersalah dan malah cengegesan. Sakit tahu. Semprul!
“Kembalikan bolanya.”
“Hmm ambil saja bolamu kalau bisa huh.”
‘dushhh’ tendanganku tak boleh diremehkan sepertinya, bola itu cukup jauh mendaratnya ke seberang bangku yang tadi kududuki. Selagi dia terbengong karena ulahku lebih baik aku kabur.
“Woiii resek lo! Kabur lagi.” Terdengar samar-samar suara teriakkannya.










