“Halo cermin, sahabat terbaikku, senang bisa bertemu kembali denganmu setelah sekian waktu”, celoteh seorang lelaki paruh baya di hadapan sebongkah cermin yang terpasang di lemari pakaian. Secercah cahaya menyelimuti wajahnya yang sebelumnya murung, sepotong senyum mengalun lembut pada bibirnya sembari menarik pipinya yang mulai keriput mengikuti bentuk senyum yang terbentuk. Si cermin mengikuti dengan sempurna gerakan lelaki itu. Kini si lelaki mulai tertawa keras. Bibirnya yang hanya terbuka sedikit kini telah terbuka dengan lebar. Terlihat jelas gigi-giginya yang tersusun tak beraturan berderet di sepanjang atap dan dasar gusi yang kemerahan. Suara tawanya kini memenuhi ruangan tempatnya tinggal selama 4 tahun itu. Si cermin kembali mengikuti dengan sempurna gerakan lelaki itu.
Rasa puas dan bangga kini menyelimuti tawa yang awalnya kurang lepas itu. Tiba-tiba kini ia murung, tawanya yang lepas lenyap seiring dengan munculnya kesedihan yang membalut wajahnya. Matanya bergetar berkaca-kaca. Bagian bawah matanya yang tua telah penuh oleh air yang tinggal menunggu giliran akan jatuh mengalir membasahi segala yang terterjang. Mulutnya tertutup sembari berkomat-kamit mengucapkan berbagai keluhan akan kehidupan yang menurutnya tak pernah memberinya keadilan. Air matanya telah jatuh, sebagian membasahi wajahnya yang layu dan sebagian yang lain membasahi lantai kamarnya setetes demi setetes. Kalimat keluh dan kesah tak henti-henti keluar dari mulut lelaki itu, bahkan keluh-kesah itu berubah menjadi hujatan dan kutukan pada hidup yang menurutnya adalah pembohongan besar-besaran.
Ia menengok gambar dirinya pada cermin yang sedari tadi berdiri tegak di depannya. Ia memandang dirinya sangat menyedihkan. Namun, gambar di cermin itu belumlah cukup untuk menggambarkan kesedihan yang sesungguhnya ia rasakan. Kutukan-kutukan itu kini dibarengi dengan suara tangis kebencian yang sedu-sedan dan suara seruputan ingus yang tiba-tiba keluar dari dalam hidungnya yang sebelumnya bersih tak berlendir. Srrrtt…ssrrtttt…srrtttt. Ia pandangi cermin itu dan ia temukan si cermin mengikuti dengan sempurna setiap gerakannya.
“Memang, kau adalah sahabat terbaiku, cermin. Aku bahagia kau pun bahagia, aku tersenyum dan kau ikut tersenyum, aku menangis kau juga menangis”. “Tapi, apakah ketika aku mati, kau juga akan mati?”, si lelaki bertanya-tanya dalam hati.
Bayangan di cermin itu kini bergerak tak mengikuti si lelaki dan tiba-tiba bayangan lelaki di cermin itu berbicara.
“Dasar keparat! Beruntung aku telah berdoa kepada Tuhan dan Dia mengabulkan doaku untuk dapat berbicara kepadamu wahai pecundang yang selalu kalah oleh pikiranmu sendiri. Sepanjang hidupku bertemu denganmu, tak ada hal lain yang kau lakukan selain berkeluh-kesah dan menyalahkan orang lain atas kesengsaraan yang kau alami sementara kau tak melakukan sesuatu. Kau pikir aku sudi menjadi temanmu? Aku muak menjadi bayanganmu. Aku muak dipaksa berkeluh-kesah sepanjang hidupku dengan tingkah lakumu di depanku yang penuh dengan kutukan. Aku bukan sahabatmu, aku tak ingin hanya sekadar tertawa saat kau tertawa dan aku tak ingin sekadar menangis karena kau menangis di hadapanku. Aku ingin kau merawatku dengan merawat segala tindak-tanduk yang kau lakukan terhadap dirimu sendiri. Aku tak ingin menjadi sahabatmu jika kau hanya memperbudakku dengan memperbudak dirimu sendiri.”
Lelaki itu tidur semakin nyenyak dan kata-kata si cermin sayup-sayup menghilang dengan perlahan. Tatkala ia bangun, kata-kata si cermin meninggalkan tanda tanya di kepalanya. Ia segera menegakkan punggungnya dan memandang cermin yang ada di dekatnya dan mencoba mengingat-ingat ingatannya tatkala tidur. Tak dapat memperoleh sesuatu, ia kembali melanjutkan kehidupan dengan senyum dan harapan yang tertananam kuat dalam pikiran. “Apakah yang sebenarnya terjadi, kenapa aku jadi sebahagia ini?”