Log 1, Selatan
Apparently, I am fluent in a language of the oppressed.
Not because it is my mother tongue, or a spoken truth that my mom used to call as a fate, but because I've been living too long as one, the oppressed. You're technically immortal, aren't you? You might think. Well, thousands of years has passed behind me but the reality remains ironically the same: people speak in two distinctive dispositions; either oppressing, or being oppressed. There is no in between. Like damned twins.
You can not be bilingual on these languages. Unless you can live long enough to understand and speak in both worlds, which I don't recommend. You're going to hate one of those languages even when you just learn about their "grammar". The structures and semiotics, the irregulars and auxiliary, the one who holds too much power and the one who doesn't even get a fucking chance.
Lalu aku kembali berpikir tentang Ibu, tentang merangkul semua tanpa sisa biar tidak ada yang sia-sia, tentang menjadi orang terakhir dalam barisan dan menutup jejak buruk dengan sepetak tanah yang ditanami bunga, tentang hidup yang tidak melulu soal mati, tentang mati yang tidak melulu soal surga atau neraka. Itu bahasa asing.
Ibu hanya mengajarkanku satu bahasa yang absolut: kasih. Dia tidak peduli dengan apa yang orang akan berikan untuknya, tapi akan sibuk setengah mati untuk memberi apa yang orang butuhkan. Dia tidak takut dengan senjata tajam atau api, teror gaib atau nyata, tapi dia akan bertekuk lutut jika tidak bisa menolong orang yang kesakitan. Ibu tidak pandai menerjemahkan apa yang pembencinya utarakan, maka dia membalas mereka dengan satu-satunya bahasa yang dia ketahui. Manusia di beberapa abad terakhir menyebutnya naif, tapi Ibu sebut itu dengan "energi baik".
Well, unfortunately, that little "good energy" burnt you at the stake, Bu.
















