Danke, Schweini!
Selain selesainya masa jendela transfer musim panas untuk klub-klub Eropa, kemarin adalah hari bersejarah bagi satu sosok penting dalam persepakbolaan Jerman. Bastian Schweinsteiger telah resmi berhenti dari tim nasional Jerman setelah laga ujicoba Jerman kontra Finlandia malam tadi. Laga yang dimenangkan Jerman 2-0 tersebut menjadi laga terakhir Bastian di level internasional. Pemain yang sering disapa โBastiโ atau โSchweiniโ ini mengakhiri karir internasionalnya dengan status kapten tim nasional Jerman, selepas peninggalan Lahm pada 2014. Mengecap 121 penampilan dan mengemas 24 gol bersama Die Mannschaft merupakan catatan baktinya terhadap negaranya. Capaian terbaiknya adalah meraih Piala Dunia pada 2014, setelah sekian lama hanya mencicipi semifinal dan 1 final (Euro 2008) di berbagai ajang bersama timnas. Kini, Basti menyerahkan tongkat kepemimpinan dan mengestafetkannya ke generasi berikutnya.
Euro 2004, debut Bastian di turnamen besar bersama timnas Jerman
Lahir di Kolbemoor, Jerman Barat 32 tahun lalu, Schweini memulai karirnya di tim junior FV Oberaudorf. Kemudian ia bergabung dengan TSV 1860 Rosenhaim pada 1992 hingga 1998. Bastian dikontrak Munchen junior pada 1998. Ia kemudian memikat pelatih Munchen saat itu, setelah memenangkan kejuaraan remaja Jerman pada tahun 2002. Namun di sesi latihan, Ottmar Hitzfeld menempatkannya sebagai bek kiri. Debut seniornya bersama Munchen dilakoni ketika Munchen bertanding kontra RC Lens, November 2002 (Liga Champions). Gol pertamanya datang saat melawan Wolfsburg semusim berselang. Sejak saat itu ia membantu Munchen memenangkan 8 titel Bundesliga, 7 piala DFB Pokal, 1 trofi Liga Champions dan 1 titel Piala Super UEFA. Pada tahun 2013, Schweini dianugerahi pemain terbaik Jerman setelah mengantar Munchen meraih treble. Ia pun mengakhiri karirnya di Munchen pada akhir musim 2015 dengan 500 penampilan dan 68 gol di seluruh kompetisi.
Bastian Schweinsteiger menjadi pemain terbaik Jerman 2013 setelah mengantarkan Munchen meraih treble
Bastian mengakhiri perjalanannya di Munchen untuk terbang ke Inggris, bergabung dengan Manchester United. Debutnya bersama The Red Devils datang pada pertandingan pertama musim 2015/2016 kontra Tottenham Hotspurs. Selanjutnya ia berkontribusi dalam 18 penampilan dengan mencetak 1 gol. Satu-satunya gol yang ia cetak dalam 18 penampilan tersebut adalah gol penyeimbang kontra Leicester di King Power Stadium. Namun dipecatnya Van Gaal sebagai juru taktik Manchester United dan Mourinho, sang pengganti menegaskan Schweini tidak masuk skema permainannya adalah (mungkin) awal dari meredupnya karir sang maestro lini tengah Jerman ini di sepakbola Eropa.
Mulai rutinnya Bastian dengan cedera, membuatnya semakin sedikit mencicipi menit bermain
Schweinsteiger dapat bermain di segala posisi lini tengah. Ia mampu menjadi gelandang jangkar, gelandang sayap, gelandang serang maupun gelandang tengah. Di masa emasnya, ia merupakan cerminan gelandang box-to-box yang ideal. Mampu memenangkan bola, mengalirkan bola, dan membantu lini serang. Pemain yang akrab dengan nomor punggung 7 dan 31 ini adalah solusi dari tim jika membutuhkan opsi tendangan jarak jauh apabila skema serangan melalui kotak penalti sedang buntu. Mayoritas gol yang dicetaknya adalah tendangan keras dari luar kotak penalti. Ia dan Torsten Frings adalah duet lini kedua Jerman yang sangat menyeramkan dan menjanjikan tentunya. Salah satu gol terbaiknya adalah saat menusuk dari sisi kanan pertahanan Portugal dan melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti pada Piala Dunia 2006.
Tendangan jarak jauh, spesialisasi Bastian
Sosok Schweini juga identik dengan daya juang dan kepemimpinan. Ia dipercaya menjadi kapten selepas Lahm pergi dari timnas Jerman. Sebelum itu, ia pun didapuk menjadi wakil kapten, baik di Munchen maupun Jerman. Debutnya bersama tim nasional Jerman di turnamen besar terjadi di Euro 2004. Sayang Jerman kalah melawan Republik Ceko di perempat final. Setelah itu, berturut-turut ia membawa Jerman menjadi juara 3 di Piala Dunia 2006 dan 2010, runner-up Euro 2008 dan semifinal Euro 2012 dan 2016. Pencapaian terbaiknya adalah membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Brazil. Tidak tergantinya posisi Schweini di lini tengah Jerman juga berkat gaya bermainnya yang sangat disukai Joachim Loew. Selepas Klinsman pada 2006, Loew yang didapuk menjadi pelatih timnas Jerman selalu memasang Schweini di lini tengah Jerman. Ini dikarenakan daya juang serta daya jelajah Schweini yang sangat disukai Loew. Pada gelaran Euro 2016, Schweini pun tetap dipanggil Loew walaupun ia jarang bermain secara reguler bersama Manchester United di musim sebelumnya. Karirnya memang mulai meredup saat Pep datang ke Munchen. Gaya bermainnya yang kurang cocok dengan skema Pep perlahan membuatnya lebih sering menghangatkan bangku cadangan. Bukan hanya itu, cedera yang semakin sering ia alami juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya semakin sedikit menikmati menit bermain.
Piala Dunia 2014 menjadi bukti terbaik sosok Schweini sebagai petarung lini tengah
Kini, Bastian telah resmi meninggalkan Der Panser. Usianya yang menginjak 32 tahun juga rasanya memperkuat keputusannya. Keputusan yang baik mengingat talenta muda Jerman yang melimpah harus diberikan kesempatan untuk berkembang. Kini, ia sedang memperjuangkan tempatnya di United. Kualitasnya masih sangat cukup untuk bersaing dengan setidaknya Carrick, Fellaini dan Herrera. Asalkan Schweini mampu untuk menjauhkan cedera dari tubuhnya, saya yakin ia masih mampu memberi sesuatu yang berarti di United ataupun tim barunya nanti. Tugasnya di timnas memang sudah habis, namun Basti belum habis!
Danke, Bastian!
ย Referensi: wikipedia, dw.com, espnfc.com ๏ฟฝ๏ฟฝ
gambar: zimbio.com, mirror.co.uk, manutd.com, alchetron.com, nydailynews.com, bavarianfootballworks.com, getty-images













