Gudang XCVI
Di pertengahan Desember tanpa cerita,
kutemukan kau tanpa gairah.
Matamu sigap mencari bau alkohol.
Hidungku, setia memindai
bau-bau dari anggur yang keburu
disesap tikus.
"Rasanya ...," Kemudian kau bingung:
telah dilipatkah kain pemberian ibu?
atau: sudah tertata rapikah
uang pemberian ayah dalam dompet?
Ketika hujan datang seperti muntah,
pikiran kita
tiba-tiba ditabrak mobil—tak melayang.
Rasanya kita semacam sepasang kekasih
atau sepadu musuh yang saling incar darah
namun sendal belum digoreng,
kota ini masih suntuk mengutuk para petarung
organ tunggal, sementara langit terlalu padam
bagi orang-orang yang menunggu pohon mangga
fasih bertutur-tutur dengan koruptor.
Bingung kita mungkin, pada hari tua
yang akan tiba nanti, apakah surat pertanggungjawaban
atas indah kuntum bunga yang dicabut di tepi rumah itu
akan ada. Sebab semua yang sengaja ditanggalkan,
segala yang dipaksa lepas,
harus jelas dan tetap tegas tergurat.
Mungkin kalender akan habis jadi kenangan.
Tapi, Desember, bukan sekedar seorang anak kecil
yang iseng melihat sepasang manusia
saling bertanya, "Kapan bahagia selesai?"
Lalu, hanya ada aku yang kenyang,
memakan waktu, menantang kau-kau semua
memaksa lambung menyerap
semua yang wajar.

















