Hi.. Ngg.. hallo sobat sepuluhriburupiah. Selamat sore, kesayanganku. Apa kabar kamu sore ini di syurga sana? Pasti lebih menyenangkan, aku harap sih begitu. Dunia akhir-akhir ini semakin panas beb, maklum pemanasan global. Delapan belas agustus dua ribu empat belas; dua puluh tiga purnama sejak kepergianmu ke dunia lain yang lebih baik. Beb, maaf ya.. aku sedikit melupakan satu hal tentangmu di tujuh hari kemarin. Kamu kan sobatku paling baik, pasti mau memafkan. Kan kan kan? Ehehe... Ok jadi sebelum benar-benar terlambat aku akan mengucapkan selamat satu satu untuk dua tiga kesayangan. Tahun ini aku belum sempat membuatkan dan meniupkan lilin untukmu seperti tahun lalu. Aku kirim doa tulus saja ya untukmu. Nggg.. jadi begini, agar kamu tidak salah paham aku akan menjelaskan mengapa aku sedikit melewatkan hari istimewamu itu. Aku tengah jatuh cinta, beb. Aku tidak yakin sih benar-benar jatuh cinta. Tapi, bersamanya aku bisa tertawa lepas dan menjadi diri sendiri. Semenjak kepergianmu aku bingung hendak bercerita pada siapa. Ada beberapa sahabat memang tapi tetap saja tak selayaknya kamu. Beberapa jadi orang terdekat setelah kepergianmu, tapi aku tidak pernah menggeser posisimu. Kamu tetep ada pada tempatnya, begitupun mereka. Sobatku, kita dulu pernah punya mimpi untuk tumbuh menua bersama, hingga kini kita tetap tumbuh menua bersama walaupun telah berbeda dunia. Beberapa waktu kadang tak sadar aku menitikkan air mata ketika mengingat kisah kita. Di lain waktu ketika aku menemukan hal konyol, aku ingin segera berbagi denganmu selayaknya dahulu. Sayang, ini entah surat keberapa yang aku kirim untukmu di syurga melalui Tuhan. Tak berharap balasmu, bacalah jika kau ada waktu senggang, jangan terlalu asyik bermain bersama peri syurga; sesekali ingatlah aku sahabatmu di dunia yang lain. Sekian dulu surat dariku, sobat. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi lain waktu saja ya ya yah.. Sayang kamu, sobat sepuluhriburupiah. With prayer; your sobsob π Cirebon, 18th august '15