Aku sendiri di sini, duduk di sebuah bangku yang katanya meja nomer satu. Seorang diri. Di sini ada dua belas meja 4x3 jajar yang dinaungi sebuah tenda yang bisa dibilang lebih dari sederhana, didirikan dengan sponsor sebuah produk rokok. Terdapat sembilan tiang sebagai penyangga, enam lampu yang kapnya klasik, tapi dua lampu sudah mati, tidak ada yang mengganti, lalu ada dua buah kipas angin. Di samping kiri dan kanannya ada kedai-kedai kecil. Di pojok sebelah kiri dari tempatku duduk ada sebuah kedai kopi sederhana, namanya Kedai Kopi Widita, lalu di pojok sebelah kanan agak ke dalam, ada sebuah kedai buku yang juga sederhana. Di meja empat tepat di hadapanku, ada beberapa orang sedang berkumpul, bertukar cerita, tadi jumlah agak banyak tapi sebagian sudah beranjak. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya sayup-sayup. Lalu di meja nomer enam, ada sepasang cucu adam duduk berhadapan, sang perempuan memakai t-shirt putih dengan kerudung biru, sementara lelaki di hadapannya memakai kameja kotak-kotak. Mereka asyik sekali bertukar cerita, sangat riuh yang katang-katang volume suaranya meninggi. Dan yang paling menarik adalah dua cangkir kopi di hadapan mereka, tentu saja kopi yang dipesan dari Kedai Kopi Widita, menariknya karena mereka menikmati kopinya dengan cara menuangkannya ke tatakan cangkir, ke duanya melakukan hal yang sama. Aku bahkan tidak pernah berpikir ingin menikmati kopi dengan cara seperti itu. Walaupun aku tahu, memang ada beberapa orang yang melakukannya. Di meja nomer sembilan yang terlihat sangat sibuk, meja penuh dengan entah apa, diduduki oleh kerabat atau mungkin teman dari pemilik kedai yang tepat di sampingnya, kedainya sedang direnovasi, namanya Kedai Flash Corner, tepat di samping kirinya adalah warung bakso, namanya Bakso Marem. Lalu di samping kiri Flash Corner ada Warung Knat Knit yang baru buka beberapa hari karena ditinggal oleh pemilik sebelumnya. Dan di samping Knat Knit ada Kedai Jawa Timur yang persis menempel dengan Kedai Kopi Widita. Terakhir, di pojok tepat depan Kedai Kopi Widita di meja dua belas ada tiga orang pemuda sedang kongkow-kongkow menikmati kopi. Yang aku lihat mereka tidak banyak bertukar cerita, hanya sesekali. Bahkan yang memakai kacamata asyik dengan gadgetnya. Di Kedai Kopi Widita ramai, ada beberapa orang, tapi aku tidak bisa menghitungnya. Jarak pandangku terbatas. Yang terlihat hanya penjaganya karena memakai topi dan paling menonjol di antara yang lain. Dan baru saja mengantar kopi ke kursi yang tepat berada di depan Warung Knat Knit yang sudah tutup sejak sore. Di samping kananku juga ada jajaran kedai, dari yang paling depan ada Caffè Ze, tapi tutup. Mungkin karena hari minggu. Pemiliknya adalah seorang keturunan Arab, menjual Sheesa, rokok yang terbakaunya di import langsung dari Arab. Di sebelahnya ada kedai bernama Pondok Raos yang pemiliknya adalah kakak dari temanku yang orang tuanya pemilik Saung Mojang, keduanya menjual masakan khas sunda. Konsep Saung Mojang unik, dindingnya memakai bambu, berbeda dari yang lain. Lalu di sebelah ada Warung Gandrung dan Kedai Empek-empek, Kedai Empek-empek ini baru buka, sebelum adalah penjual buah-buahan. Di antara Kedai Empek-empek dan Warung Gandrung ada kedai yang masih kosong. Dan bila kita ke ujung lagi, tepat di samping penjual rokok, ada kedai buku, namanya Book Marks Affair, aku sudah beberapa kali meminjam buku di sana, dan sempat mengobrol sedikit dengan pemiliknya, yang ternyata adalah teman sekolah dosenku dulu. Sepertinya aku lelah berceloteh, dan menyadari ternyata aku tetap sendiri, tidak ada kopi, musik, maupun buku. Hanya ditemani gemericik hujan yang jatuh ke bumi, bunyinya nyaring membangkitkan aroma petrichor. Ah.. syudahlah.. lain kali aku sambung lagi.