Waktu adalah dimensi ajaib yang selalu berhasil menghadirkan kesadaran. Tapi juga kadang menghilangkan kesadaran.
Pernahkan kamu merasa seperti terjun ke dalam kaledioskop waktu, melihat kembali spionmu dan mengecek masa lalumu, kemudian dibandingkan dengan kondisi saat ini? Saya sepertinya sedang di dalam kotak kaledioskop itu, dan saya merasa sangat beruntung.
Ini berawal dari silaturahim dengan teman satu divisi kepanitiaan yang sudah lama tidak berkomunikasi. Jadi, sembilan tahun yang lalu saya pernah berada pada sebuah kepanitiaan besar di kampus, kepanitiaan ospek kampus. Jumlah kami total sekitar 100 orang. Kami dibagi menjadi beberapa divisi, dan divisi saya berjumlah 9 orang ditambah 2 orang steering committee (SC). Persiapan acara adalah 3 bulan. Ketika semua mahasiswa lain pulang kampung, kami tetap bolak-balik ke kampus untuk kepanitiaan ini. Waktu yang sangat cukup panjang untuk bisa mengetahui karakter orang, dengan intensitas bertemu yang cukup sering.
Beberapa hari yang lalu kami silaturahim melalui aplikasi video call. Padahal sudah 9 tahun tidak pernah ketemu dan membicarakan tentang kepanitiaan ini lagi. Pada saat itu, kembalilah teringat masa-masa awal kuliah dulu. Masa-masa pertama kali saya mengenal aktivitas seperti kepanitiaan dan berorganisasi.
Berorganisasi adalah sesuatu yang sulit menurut saya, saat itu.
Sewaktu SMA saya adalah orang yang tidak punya banyak teman, minder, ikut ekskul hanya untuk mengugurkan kewajiban. Tidak mengerti dengan yang namanya berorganisasi, mengatur waktu dan prioritas, apalagi cara komunikasi. Dan baru diperlihatkan cara berorganisasi pertama kali ya di kepanitiaan ini.
Setelah video call berakhir, salah satu dari mereka membagikan kumpulan foto dan video selama kepanitiaan. Kebetulan tim kami adalah tim desain dan publikasi, jadi semua dokumentasi foto dan video lengkap ada di kami. Ketika membuka foto dan video lama itu, saya membatin, "wah, lihatlah wajahmu itu! Ternyata dulu senyummu bisa sebahagia itu, lho! Ternyata kamu bisa bercanda dengan temanmu setulus itu, lho!". Padahal saya tahu tekanan tim saat itu sangat banyak, baik dari kampus, dari mahasiswa baru, maupun dari divisi lain. Tapi saya tidak ingat tuh apakah saya pernah mengeluh. Walaupun pernah jatuh sakit saat itu, tapi sakitnya hanya sakit badan saja, tidak sampai ke pikiran.
Divisi saya ini memang luar biasa. Ada orang yang karakternya santai, ada yang karakternya malu-malu, ada yang sering jadi bahan bercandaan, ada yang sering membuat lelucon, ada juga yang serius bisa mengarahkan. Untungnya saya punya koor dan SC yang sangat memahami kondisi stafnya dan bisa membaur saat harus bercanda, bisa mengarahkan saat harus serius, intinya menangis dan tersenyum selalu dilakukan bersama. Merekalah leader yang sesungguhnya. Bisa membuat tim selalu merasa nyaman tapi berprogres. Dan stafnyapun bisa saling melengkapi. Sama sekali tidak ada konflik. Ada sih sebetulnya, yaitu konflik tentang seorang di antara kami yang ilang-ilangan. Tapi saya tidak ingat tuh apakah dia pernah diberi peringatan keras oleh koor dan SC, atau pernah disinggung oleh staf lainnya. Bahkan sampai akhirpun dia masih bertahan dan kembali ke tim, bercanda-canda lagi dengan yang lain. Justru karena banyak canda bersama, tim ini jadi nyaman. Saya kira itu kuncinya.
Tidak hanya melihat foto dan video saja, saya juga kembali melihat isi dari grup kami dulu. Btw, dulu masih belum ada HP android, belum ada WhatsApp atau aplikasi chat lain, dulu masih pakai SMS, dan untuk komunikasi secara grup masih pakai Facebook. Sangat nostalgic.
Saat saya baca kembali bagaimana kami berkomunikasi di Facebook, saya sangat bersyukur bahwa saya pernah ada di divisi ini, dan saya juga bersyukur karena cara komunikasi dan cara berfikir saya saat ini sangat meningkat jadi lebih dewasa, ya setidaknya menurut saya, gapapa kan ya ngaku-ngaku wkwk.
Dulu, saya tidak punya skill yang baik. Saya sering meninggalkan orang lain di tim mengerjakan pekerjaannya sendirian, padahal saya harusnya bisa membantu. Saya sering lebih memprioritaskan hal yang tidak penting daripada hal yang sedang urgent ingin dicapai dalam tim. Dan lebih parahnya lagi, cara komunikasi saya waktu itu sering sangat menyakitkan bagi orang yang membacanya.
Semua ini membuat saya benar-benar bersyukur. Saya menyadari tubuh ini sudah berkembang, tidak hanya di satu titik yang sama dengan sembilan tahun yang lalu. Saya menyadari pikiran saya kini lebih banyak memahami makna sosial dibandingkan dulu yang sering lupa prioritas. Saya sangat bersyukur.
Tapi jika membandingkan tim saya waktu itu dengan tim saya di tempat kerja sekarang, rasanya hanya bisa bergumam saja. Kalau dulu tekanan tidak terasa, sekarang tekanan sudah membuat mati rasa. Kalau dulu rasa nyaman bisa muncul tiap bertemu tim, sekarang rasa nyaman justru muncul ketika saya sudah tidak berada di antara tim.
Kalau boleh berandai, saya ingin satu tim bekerja dengan mereka lagi, dengan pekerjaan yang setipe dengan divisi kami saat itu, sepertinya akan menyenangkan.
Beruntungnya saat kepanitiaan itu tidak ada masa menye-menye yang memalukan, yang disesali dan dan ingin dilupakan. Beruntungnya di sana semua adalah sahabat, tidak ada lebih, tidak ada kurang. Kalau tidak, pasti beda jadinya :)