Lagi lagi tentang mendewasa
Dulu, aku sempat menjadi public enemy di kampus s1, karna aku terlalu vokal dan strict urusan Titip Absen atau pengerjaan tugas. Aku juga bisa dengan mudah mem-blow-up apa yang kurasakan saat itu -marah misalnya- ke Facebook. Ya, itu dulu, 12 tahun lalu.
Dulu, aku sangat introvert, nunggu ditanya baru jawab saat kenalan, nunggu diajak baru mau ikut. Yang kenal aku, akan menemukan zona nyamannya sendiri, bahwa dini tidak se-introvert-freak-garis keras itu. Ya, itu dulu, 12 tahun lalu.
Waktu berjalan, aku sekolah lagi, aku bekerja, aku bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang, aku punya mentor yang mengajariku banyak hal. Aku rasa, aku tumbuh mendewasa dengan persona ku yang sekarang. Persona lugas, dasdes, bodo amat, realistis, you named it. Teman-teman yang pernah bertemu dan mengobrol denganku, yang gak cuma sekali dua kali, pasti tau aku seperti apa, cara melawak ataupun memulai obrolan. I would say that aku anaknya “menyenangkan”. Ini bukan self-claim ya, beberapa orang bilang gini, jangan suudzon wkwkwk.
Aku menyadari bahwa semua orang tidak harus suka denganku. Kalo mau temenan, ayo, kalo gak, ya gak masalah. Aku minim baper karna aku juga suka guyon ke orang-orang, dan mereka biasa aja. Aku belajar banyak dari situ.
Aku juga menyadari bahwa enggak semua orang bisa menerima ke-dasdes-an ku. Ya, makanya, jangan mendekat kalo gak mau dikata-katain. Canda hahha. Sekali lagi, yang kenal aku, yang gak cuma ketemu sekali dua kali, pasti tau aku akan ngomong apa kalo denger kamu bawa koper untuk trip 2d1n only.
Kalo kata teman ku yang dari lahir sampai besar di jogja, “kamu itu ngomongnya kasar, tapi kasar karna lama di jabodetabek”. Kasar dalam artian das-des nya itu, ya mungkin, karna 10 tahun merantau di jabodetabek.
8 Mei 2023












