Tak mudah untuk menundukkan ego dan membentangkan sabar dalam hati. Walau begitu, setidaknya ada harapan. Karena tak mudah bukan berarti tak bisa. Semua memerlukan proses dan pengorbanan. Lagi-lagi perlu penegasan, bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Heeey, namun, Dia berikan derajat yang mulia diantara makhluk lainnya. Diberikan potensi untuk bisa menjalani hidup dan memertanggungjawabkan semuanya di kehidupan setelah ini.
Ketika aku yang masih resah dengan masalah yang “tak seberapa”. Masalah kecil yang ku anggap itu penting (awalnya). Sehingga begitu merenggut hati dan pikiran untuk membenarkan pembenaran yang merasa paling benar. Butuh pengakuan dan pemakluman.
“Nggak bisa begitu, harusnya begini.”
*Diem, gak bisa jawab. Terlalu egois untuk menjawab “Kata Aku” hmmm*
Pernah dalam kondisi seperti ini?
Renungan untuk diri. Ketika beberapa kali dihadapkan pada kondisi seperti ini. Khususnya Aku. Apalagi di bulan Ramadhan. Bulannya pelatihan dan pembinaan diri terhadap hati, nafsu diri.
Seperti pesan yang sedang disampaikan dengan lembut oleh-Nya. Lewat beberapa kali kisah seperti ini.
Jika sedari awal kita tak pernah menentukan tujuan, maka akan bingung melangkah, bingung memulai. Bahkan yang telah menentukan tujuan pun terkadang tak sejalan dengan proses yang lurus. Menundukkan ego dan membentangkan sabar, sebagai pelurus untuk kita bisa tetap dalam jalan yang mendekat pada tujuan.
Bukankah masih banyak sesuatu yang besar di sana? Seperti memerjuangkan kebenaran. Mengapa hal kecil begitu menguras tenaga dan pikiran? Jangan biarkan hatimu rapuh, melemah, sebelum berjuang.
Bandung, 15 Juni 2017 | Tebar Manfaat Lewat Aksara | Jurnal Ramadhan