Beberapa bulan lalu, aku merasa jiwa ini telah mati. Mati di dalam keramaian semerawutnya dunia. Entah apa yang telah di perbuat, hingga pencampakanpun kian memuat. Apa ini yang di sebut dengan helatan cinta? Ku fikir begitu buruk, jika demikian adanya. Janji beribu janji yang telah di ucap, kini sirna bagai di terpa ombak pasang air laut. Aku tak tahu mengapa semuanya harus terjadi demikian. Sering ku renungkan, betapa kejamnya rasa tulus di balas dengan perlakuan demikian. Asa yang hampir punah, serasa di terjang ombak yang datang. Terombang-ambing di tengah gemerlapnya dunia yang penuh ke fanaan.
Namun, tak dapat ku sesali semua yang telah terjadi. Aku hanya dapat mengikhlaskan hal tersebut yang telah membuatku lupa akan segala hal yang seharusnya menjadi berharga dalam hidup ini. Terkadang untuk mengikhlaskan sesuatu pun tak semudah kita dapat berkata ikhlas ketika harus menutupi kepahitan dunia yang fana ini. Tuhan pun maha mengetahui apa yang kini terjadi di dalam hidup ini. Aku hanya dapat memasrahkan semua yang telah menjadi kehendakNya dan berjalan sesuai dengan skenarioNya. Aku tak dapat berkata-kata terlalu banyak, tentang fenomena yang kian memuncak. Yang ku bisa saat ini, hanya terus dan terus menjalani skenario yang Ia berikan untukku.
Kini, ada seseorang yang hadir dalam hidupku. Yang memberi warna di setiap helatan waktu dan hari-hariku. Saat ini pun aku merasa waktuku lebih berharga dengan kehadirannya yang setiap saat membimbingku. Dia bukanlah seorang kekasih ataupun pria yang dapat menggantikannya di dalam hidupku. Melainkan, dia seorang kakak yang baru saja ku kenal melalui sebuah organisasi yang dapat memperkenalkan aku dengan dirinya. Meskipun saat ini Tuhan belum mengizinkan untuk kami segera bertemu. Namun, ku yakin rencana indah Tuhan untuk mengizinkan kami bertemu tentulah di saat waktu dan momen yang tepat untuk kami berdua. Aku tak banyak berharap untuk segera bertemu dengan kakaku yang satu ini. Karena kesibukannya yang super luar biasa, sehingga kami pun lebih banyak menghabiskan waktu kami dengan diskusi ringan melalui sebuah telepon genggam kami.
Rencana apa lagi yang sedang di skenario kan Tuhan kepada kami? Namun, kami percaya apapun yang terjadi untuk ke depannya sudah pasti yang terbaik untuk kami. Tak banyak juga harapku kepada kakaku ini. Aku hanya ingin terus-menerus bisa berhubungan baik dengannya dan juga bersilaturahmi dengan baik. Sebab, darinya aku menemukan sosok laki-laki yang sangat ku rindukan dan juga sosok wonderfull di dalam hidup ini. Seorang kakak yang bisa menempatkan dirinya dan selalu ada di saat adiknya merasa gundah. Bagiku dialah pengganti pahlawan pelautku (Ayah) yang kini telah bersama Rabbnya. Karena darinya juga, aku dapat mengubah warna gelapku menjadi pelangi kembali.
Terima kasih untuk waktu dan segalanya yang telah kau korbankan untukku di tengah waktu kesibukanmu, wahai bapak komandan (Boss Besar).