'IBRATUNA
Suatu ketika, 3 ulama besar kita - Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani - tengah berada dalam satu forum (majelis ilmu). Syaikh Ibnu Baaz sebagi ketuanya. Rahimahumullah.
Tatkala ada pertanyaan dari hadirin, bila pertanyaan tersebut terkait dengan fiqih, beliau mengarahkannya kepada Syaikh Al-‘Utsaimin. Bila pertanyaan tersebut berkenaan dengan hadits, beliau mengalihkannya kepada Syaikh Al-Albani. Adapun beliau, hanya berkenan menjawab bila pertanyaan seputar aqidah dan tauhid.
Saat tiba waktu sholat, Syaikh Ibnu Baaz meminta Syaikh Al-Albani untuk menjadi imam sholat. Awalnya Syaikh Albani menolak, karena beliau merasa Syaikh Ibnu Baaz yang lebih layak, baik secara usia maupun keilmuan. Tapi Syaikh Ibnu Baaz tetap meminta beliau menjadi imam. Syaikh Ibnu Baaz berkata:
كلنا في القرآن سواء، و أنت أعلمنا في الحديث
“Kita semua sepadan dalam hal (keilmuan) Al-Qur'an, tapi diantara kita engkau paling berilmu dalam masalah hadits.”
Kemudian Syaikh Albani bertanya: “Sholat yang bagaimanakah yang harus aku lakukan? Apakah yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?” *
* Yakni, sholat yang lumayan panjang.
Syaikh Ibnu Baaz menjawab: “Bahkan yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ajarilah kami, wahai Abu Abdirrahman. Ajarilah kami tentang tuntunan sholat Rasulullah.”
——————–
Diantara pelajaran yang bisa diambil: 1. Ulama adalah sosok yang tidak sok tahu meskipun sebenarnya dia tahu.
2. Ulama bukanlah tipe orang yang gemar bicara dalam segala hal, meskipun dia sebenarnya layak bicara tentang itu.
3. Ulama lebih suka memberikan kesempatan kepada pihak lain yang dirasa lebih kompeten untuk menjawab pertanyaan, meskipun dia sebenarnya juga mampu menjawabnya.
4. Ulama hanya menjawab suatu hal yang memang dirasa itu adalah bidangnya dan tidak memaksakan diri untuk menjawab bidang lain yang lebih dimampui oleh orang lain menurut penilaiannya.
5. Diantara akhlaq ulama adalah menahan diri dalam forum. Tidak menampakkan diri sebagai orang yang paling hebat dan berilmu dengan berbicara apa saja dan menjawab apa saja.
6. Ulama adalah pribadi yang tidak gila kedudukan. Dia lebih senang menyerahkan kedudukan pada orang lain, meskipun dia sebenarnya pantas dengan kedudukan tersebut.
7. Ulama tidak segan untuk mengambil faedah (belajar) kepada orang lain dalam suatu perkara, meskipun dia sebenarnya sudah menguasai perkara tersebut.
8. Ulama selalu berusaha memilih petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selama hal itu memungkinkan. Tulisan Ammi Ahmad, yang sayang banget kalau gak diabadikan di tumblr. Barakallahu fiik ammi ahmad. Bahasa Arabnya ammi ketje sekali. Kapan-kapan saya minta video serial aslinya. Insya Allah… ~* Jadi teringat dengan buku yang berjudul “Kita dan Akhlak para Salaf” karya Abdul Aziz Nashir Al Jualail, Baha’udin Fatih Aqil. Kita dan akhlak para salaf bagaikan langit dan sumur.
13 Ramadhan 1438 H || 08.06.17 || -andromeda nisa’-













