akhirnya gw kesampaian nonton EKSIL. ini bakal cerita semuanya, kalo ga demen bocoran kisahnya mending skip. tapi ya ini film dokumenter, plot & susunan dan cara penuturan si tokoh adalah hal yang ga bisa gw deskripsikan di sini.
film yang disutradarai Lola Amaria itu dapat jadwal bioskop yang sangat terbatas. dari awal film ini rilis udah tahu gw harus nonton, entah gimana dan kapan. wawancara mba Lola terkait film ini hampir semua gw lahap. dan hampir semua adegan udah gw tahu dari sebelum masuk studio. tapi gw tetep nangis, baik di adegan yang sudah gw duga atau adegan-adegan yang ga disebutkan orang-orang (yang mana berarti tidak terlalu berkesan bagi mereka) air mata tak terbendung tetepan.
semua orang akan mudah jatuh cinta dengan pak Sarmadji. anggota PKI yang kemudian dikirim sekolah tapi ga pernah bisa mengabdikan ilmunya ke tanah air. terus mengisi kehidupannya dengan mengumpulkan banyak sekali arsip yang bahkan terlarang di negeri sendiri. dedikasinya untuk merawat rekaman-rekaman tertulis emang ga main-main. gagahnya beliau bertutur akan menggerakkan semua hati yang mendengarnya.
ada pak Chalik Hamid, yang keluar negeri untuk menuntut ilmu dengan meninggalkan istri yang tengah mengandung. dan ketika pergolakan 1965 paspornya dicabut, tak bisa menyaksikan tumbuh kembang sang putri. lalu merelakan istrinya menikah lagi dengan sahabatnya. dan bagaimana dia sangat terbuka mengenai ketiadaan emosi yang dia miliki dengan putrinya. baginya ya manusia asing aja.
pak Hartoni Ubes yang muncul dengan anjing cokelatnya, tinggal di sebuah rumah sederhana tanpa anggota keluarga lain. selain menceritakan kisahnya sebagai seorang yang kelayaban (eksil), beliau terlihat mencintai aktivitas berkebun. gw suka dengan aktivitas pruningnya.
pak Mintardjo yang kisahnya dituturkan oleh sang putri. menjadi eksil, beliau menikahi perempuan Eropa dan membentuk keluarga di pengasingan. tapi hatinya tetap Indonesia, dari cara beliau menampung mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tengah mencari ilmu di Leiden hingga alunan Indonesia Pusaka yang mengiringinya disemayamkan.
kemudian pak Kartaprawira, asli Solo yang kemudian menetap di Belanda. meninggalkan istri dan putrinya di Rusia untuk kemudian mencari perlindungan, dan seumur hidupnya tidak lagi membentuk keluarga baru.
atau kisah pak Tom Iljas yang keluarganya dieksekusi tanpa pernah diadili karena dituduh komunis. ketika pulang dan ingin mengetahui tempat pemakaman massal (kira-kira keluarganya dimakamkan), beliau menerima intimidasi. diminta pergi oleh keluarganya sendiri, demi keselamatan keluarga yang lain.
selanjutnya pak Waruno Mahdi. beliau memilih sendiri hingga akhir hidupnya. beberapa kali mendapati bahwa pacarnya adalah seseorang yang sengaja dikirim untuk memata-matainya menjadikan kepercayaannya pada cinta yang tulus memudar. teror yang ga pernah gw bayangkan sebelumnya selain di film aksi.
ada juga pak Asahan Aidit, adik bungsu dari D.N Aidit, tokoh PKI yang paling terkemuka. beliau menuturkan gimana jadi adik bungsu tokoh populer itu. meskipun adik pimpinan partai dia menuturkan saat itu perlu 2 tahun mengalami masa probation sebelum akhirnya beneran jadi anggota PKI. beliau juga menuturkan betapa sedikit sekali wajah Indonesia yang sempat dia lihat secara langsung.
kemudian pak Kuslan Budiman, sebelum keluar negeri beliau adalah mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia. tak pernah menyangka bahwa rezim orde baru akan berlangsung selama 32 tahun. keinginannya untuk pulang tetap kuat hingga memilih tak berkeluarga hingga akhir hayat. selama di pengasingan beliau aktif menulis.
dan pak I Gede Arka yang menjelaskan lebih banyak hal-hal yang menyebabkan hingga menjadi manusia kelayaban di luar negeri.
kalo generasi mba Lola adalah yang kena cuci otak kekejaman PKI dari film yang beliau tonton tiap tahun di 30 September, gw ga bisa relate. pengalaman gw nonton film orba itu ya udah tahun-tahun pasca pandemi yang gw di rumah ini.
ini juga semacam tamparan bagi manusia yang dikasih duit beasiswa kuliah di luar negeri untuk mengaplikasikan ilmunya di bumi pertiwi, malah ga balik-balik. hal yang sangat diidamkan para eksil ketika meninggalkan negeri ini pertama kali.
mereka juga menohok gw tentang kembali pulang. dibuang negara, keluarga juga tak jarang ga mau ngaku demi keselamatan mereka, pas ada momen pulang rasanya udah ga seperti dulu lagi. apakah mereka benar-benar bisa merasa pulang? bahkan hingga akhirnya bisa kembali ke tanah air, ada perasaan asing. kota yang dia tapaki kota yang sangat jauh berbeda dengan kota yang dulu dia tinggali.
oh, dan tentang menjalani hidup sebisanya. mereka tetap milih untuk melanjutkan hidup meski bayangan gelap telah menyelimutinya. ada perumpamaan yang redaksinya: menjadi eksil itu seperti hidup yang dipaksa bersembunyi di kegelapan saat hari cerah terang benderang.
apakah dengan gw di rumah, artinya gw udah pulang?
2024-03-14 05:07am
tsm, kra.