Aneh, mengapa aku bisa kembali mengagumimu sama seperti dulu. Atau mungkin aku memang selalu mengagumi kamu. Bahkan diam-diam aku akan cemburu ketika kamu membawa-bawa nama teman perempuanmu yang lain dalam sela-sela obrolan kita. Waktu yang telah lama bergulir ternyata belum juga mampu menghapus memori lamaku.
Dan sama seperti dulu, tetap ada keyakinan dan keraguan dalam satu hembusan napas ketika aku berpikir tentangmu. Bedanya sekarang rasa ragu lebih mendominasi.
Maafkan aku yang sudah lancang, berani-beraninya menyelipkan namamu dalam do’a-do’aku kepada Tuhan. Maafkan aku yang tidak bisa membendung perasaanku untuk turut terlibat dalam pertemanan kita sekarang.















