Dulu, gerhananya bulan dan matahari, menjadi sebuah pertanda, bahwa langit sedang murka. Ada hal yang tidak disenanginya. Terjadinya, membuat orang-orang panik.
Hingga seorang "pendeta langit" muncul. Ia begitu sakti, bisa berkomunikasi dengan langit. Ia mendapatkan wahyu, bahwa langit menginginkan sesuatu, yang jika tidak dipenuhi, gerhana akan terjadi. Dan benar terjadi, lantas orang-orang berbondong-bondong memenuhi permintaan itu demi mengindar dari kesengsaraan yang lebih besar.
Tidak banyak yang tahu, sang pendeta langit itu memiliki "mata" atas ilmu perbintangan, sehingga ia bisa mengetahui kapan akan terjadinya gerhana. Dan kesempatan itu menjadikannya istimewa, mengambil keuntungan bagi pribadinya dengan dalih "amanat langit."
Rakyat tidak tahu, bahkan mereka tidak tahu apa yang tidak mereka ketahui.
Gerhana, masih sangat jauh dari ilmu yang mereka miliki. Ketika hal itu terjadi, mereka merasa langit sedang marah, dan seseorang harus disalahkan atas kejadian itu.
Sejauh gerhana yang muncul secara tiba-tiba pada saat itu. Bisa jadi, gempa bumi dan tsunami yang terjadi kini, adalah juga suatu kejadian yang akan bisa diketahui terlebih dahulu sebelum terjadinya nanti, bahwa suatu hari ilmunya akan sampai pada kita, atau anak cucu kita.
Introspeksi diri itu perlu. Muhasabah itu penting. Bersabar atas ujian sangat tepat. Hanya saja, pastikan tidak ada "pendeta langit" yang mencari keuntungan dalam musibah ini. Pastikan kita tidak tertipu, menjadi rakyat yang bodoh, diombang-ambingkan dalam kebingungan, menyalah-nyalahkan dan mencari tumbal.
ps. cerita tentang pendeta langit adalah cerita tentang Mishil, dalam The Great Queen Seondeok, 2009