La solitude subie c'est la base du dine.

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Germany

seen from Poland

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from Lebanon

seen from United States
seen from Uruguay
seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from China
La solitude subie c'est la base du dine.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Takdir dan Qadar: Antara Usaha dan Doa Menurut Kitab Kifayatul Awam
Surau.co. Setiap manusia, tanpa terkecuali, pernah menatap langit sembari bertanya dalam hati: “Apakah hidupku sudah ditentukan sepenuhnya oleh Allah?” Pertanyaan itu lahir dari keinginan untuk memahami makna takdir dan qadar—dua konsep mendalam dalam akidah Islam yang mengaitkan antara kuasa Ilahi dan usaha manusia. Dalam kitab Kifāyatul ‘Awām fī ‘Ilmi at-Tawhīd, Syaikh Muhammad al-Fudhali…
Does fate rule our lives? What does Islam and Christianity say on this?
The concept of fate and its role in human lives is a topic that has been explored in many religious and philosophical traditions, including Islam and Christianity. Both religions have nuanced views on the matter, emphasizing both divine will and human responsibility. Islam In Islam, the concept of fate is often referred to as “Qadar” (divine decree or predestination). Muslims believe that Allah…
Anthony Fineran (B 1981), 'Qadar Reigate', 2024
Di dunia ini,
tidak ada yang namanya kebetulan. Semua yang terjadi, atas kehendak Allah. -𝐳𝐡𝐫𝐫.𝐚𝐢𝐫𝐚
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).
https://rumaysho.com/28668-semua-takdir-itu-baik.html

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Why Me - Dr Omar Suleyman
Understanding Qadar https://www.youtube.com/watch?v=1mub-ru8BTo
Where was I before I was born https://www.youtube.com/watch?v=uzE5j2qkFA0
Why did Allah choose this time for me https://www.youtube.com/watch?v=5hDUB6yFwBQ
What happened on my birthday https://www.youtube.com/watch?v=L6caeSh2bd8
Full playlist https://www.youtube.com/playlist?list=PLQ02IYL5pmhFYDrmxNHAlwgcHOR4h1bPa
Qadar
Satu hal yang aku pelajari dari beberapa tahun terakhir, takdir itu bukan untuk dipertanyakan, tapi dijalani.
Tindakan atau terapi pengobatan sudah terbiasa untukku, terbiasa bed rest, terbaring lemah, rutin minum obat atau mengikuti terapi, sudah sering dialami sejak kecil. Namun entah mengapa, sakit 5 tahun terakhir ini, jadi hal yang terberat untuk Nahda.
Spekulasi ku karena sakit ini mengorbankan banyak hal, mengorbankan cita-cita, mengorbankan waktu lebih banyak, mengorbankan energi, tidak hanya diriku tapi orang lain juga.
Tapi sebenarnya, pengorbanan itu juga dialami pada sakit, operasi, tindakan, terapi sebelumnya. Tahun lalu, Nahda sadar, ternyata mempertanyakan takdir setiap harinya, yang membuat semua ini terasa berat dijalani
Kenapa rasanya nyeri banget ya Allah? Kenapa pendarahan lagi? Kenapa bisa diare lagi, kemarin aku jaga makan? kenapa harus operasi lagi? kenapa pemeriksaannya menyakitkan ya Allah? Kenapa aku harus menahan nafsu makan lagi ya Allah? Kenapa aku harus merasakan ini? kenapa aku tidak seperti orang lain? kenapa yang datang, sedih lagi? apa yang harus aku lakukan kali ini? Sakit ya Allah, Apa Allah benci dengan ku?
begitupula dengan lingkungan, baik keluarga dan teman, tidak berhenti bertanya dan membuat kesimpulan
kenapa ya da kamu gini terus? kamu kan sehat, makannya teratur. Kamu kan baik, kenapa mengalami ini? Kamu kan sempurna jadi istri dan ibu da, kok belum dapat pasangan juga? kamu banyak dosa deh kaenya? atau orang tua mu banyak dosa?
Nahda terlalu sibuk dengan titik hitam, padahal dunia ini luas dengan cahaya putih. Aku terlalu sibuk dengan pertanyaan, sampai aku lupa, hal itu cukup dijalani saja.
Perlahan - lahan, aku bisa mengenali kemampuan diri, aku mengenali karakter tubuh ku sendiri, aku mengenali kesanggupan diri, aku bisa tenang, jika ada hal buruk yang datang, bukan berarti seluruh dunia akan jadi buruk, jalani saja dulu, karena kesulitan datang bersama dengan kemudahan.
Aku belajar untuk bersyukur
Aku belajar untuk mengatakan i'ts okay, we can handle it.
Aku belajar, yaudah kalo capek istirahat, kalo selesai istirahat, kita beraktivitas lagi
Aku belajar untuk, gapapa diare, kita minum obat, lalu istirahat
Aku belajar untuk, tidak apa apa sakit, beberapa jam lagi bisa hilang sakitnya
Aku belajar untuk menunggu antrian, mengisi waktu menunggu dengan membaca buku atau review pekerjaan
Aku belajar mengisi waktu dengan mengamati orang lain, dan mendoakan hal baik untuk orang tersebut
Perlahan, aku belajar untuk menenangkan diriku sendiri, yang ternyata sangat berdampak untuk lingkungan ku
Ternyata, Allah sedang mengabukan doaku sejak dulu, Aku selalu berharap semoga kehadiranku, bisa menenangkan dan membahagiakan orang lain.
Terimakasih ya Allah, Semoga Allah mampukan Nahda untuk melewati ini semua
26 April 2024
jejak berpikir di suatu siang bersama Bapak (albeit via telpon)
Akhir-akhir ini, saya mudah sekali sendu. Karena saya tidak punya banyak orang untuk bercerita, maka orangtua saya terpaksa menanggung kewajiban untuk mendengarkan (I'm sorry, thank you, and I love you, Ma Pa). Banyak hal yang beliau-beliau harus dengarkan dari saya, tentang jatuh cinta, pernikahan, kematian, eksistensi, tujuan, prinsip. Siang tadi pun begitu. Saat perasaan saya terlalu membuncah, saya butuh Mama untuk menjadi hangat, dan butuh Bapak untuk menjadi tenang. Siang tadi, Bapak bertugas untuk menanggulangi luapan perasaan yang sempat beberapa waktu menguasai. Bapak itu seperti tanggul yang memecah ombak dan meredam alir.
Tulisan ini saya buat untuk 'mengabadikan' sebuah percakapan yang saya persepsikan sebagai suatu keindahan karena menjadi bahan renungan. Agak ironis menggunakan kata 'abadi' sebenarnya, karena percakapan kami berpusat pada kefanaan.
Membahas tentang kefanaan, saya beberapa hari terakhir ini bekerja keras untuk membuat ajal dan kematian masuk akal dan familiar. Sangat bodoh memang, harus bekerja keras me-masukakal-kan sesuatu yang sebenarnya paling masuk akal tentang kehidupan dan keberadaan manusia, tapi biarlah, diri ini memang bodoh, dan sekarang sedang berusaha belajar dan berpikir secara konstan dan konsisten agar kebodohan itu pelan-pelan terkikis.
Bapak siang tadi menyampaikan hal-hal yang saya transkripsikan dalam paragraf-paragraf di bawah ini, yang meskipun kehilangan nada lembut khas Bapak tapi semoga transkripsi ini bisa menjadi medium menyebarluaskan keindahan pikiran Bapak dan menjadi media belajar bagi saya dan siapapun yang membaca.
Bapak menyampaikan:
Di dunia ini tidak ada yang benar-benar punya kita Nak. Saat bernapas pun udara hanya beberapa detik ada dalam tubuh, langsung dihembuskan lagi. Hakikatnya kehidupan seperti itu. Semua hanya singgah. Semua yang ada di alam semesta ini bergerak pada jalurnya masing-masing, hanya bisa ada interaksi ketika atas izin Allah ditakdirkan berada pada dimensi ruang yang sama di satu periode waktu yang sama.
Anak-anaknya Bapak sama Mama bukan miliknya Bapak Mama. Bapak sama Mama hanya diamanahi Allah untuk menjaga kalian selagi masih bersama di bumi ini, dan kalau Bapak Mama ikhlas menjalani peran sebagai orangtua dan kalian ikhlas menjalani peran sebagai anak, maka semoga keikhlasan itu jadi catatan ibadah dan amal baik yang insya Allah bisa mengantarkan kita semua ke surganya Allah.
Mungkin Mama dulu yang dipanggil Allah, mungkin Bapak dulu, mungkin Mama Bapak yang lebih dulu ditinggalkan, tidak ada yang tahu, tapi sejak awal premisnya adalah dunia ini tempat persinggahan, sebelum kita berpindah ke akhirat yang kekal, jadi harus siap.
Mencintai Mama sama Bapak itu bukan dengan menggenggam, karena toh digenggam seerat bagaimanapun, yang bukan milik kita pasti akan lepas. Kalau memang cinta, maka hiduplah dengan baik dan bertanggungjawab, amalkan setiap kebaikan yang Bapak Mama ajarkan, jadi anak yang sholehah, yang bersandar dan berserah pada Allah, yang sayang pada keluaga, yang tidak pernah lisan dan hatinya berhenti mendoakan kebaikan untuk Bapak Mama dan keluarga. Kapasitas mencintai kamu terhadap Bapak Mama diizinkan hanya sebatas itu, bukan memaksa untuk memiliki selamanya. Kalau memang cinta, maka sering-seringlah mengungkapkan cinta, mumpung masih sama-sama di dunia.
Hubungan orang tua dan anak itu tidak ada give and take, tidak ada utang budi, karena semua hanya sedang melaksanakan tugas dari Pemilik kita, yang ada bagi kita hanya mencintai dengan tulus pada koridor dan dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh Allah.
Hidup itu bukan untuk meratapi ketidaktahuan, apalagi tidak mau menerima sesuatu yang niscaya. Hidup itu dijalani saja, melakukan yang terbaik di posisi kita, pada kapasitas kita, menjadi hamba yang tahu diri untuk bersyukur, memaknai takdir yang diizinkan Allah atas kita.
Jadi sudah nah, kalau pikirannya kalut karena memikirkan potensi kehilangan, cukup istighfar, terus doakan Bapak Mama sama saudara-saudaramu. Daripada khawatir pada yang sudah pasti terjadi, lebih baik mengumpulkan upeti untuk merayu Tuhan, supaya kita bisa hidup sama-sama lagi di surganya Allah.
Semua nasehat di atas disampaikan Bapak dengan nada khasnya, sesekali sambil tersenyum, dengan sorot mata penuh sayang yang sejak dulu menjadi kekuatan saya.
Saya mendengarkan sambil sesenggukan, sekujur tubuh merinding lalu menghangat, dialiri darah yang bersama alirnya terbawa kerinduan yang mendalam, cinta kasih yang tulus, rasa berterima kasih yang tak bisa diwakilkan kata-kata, serta kesyukuran yang memenuhi jiwa.
Ahhh, betapa rindunya.
Kalau Adek Popan sudah selesai semua urusannya, Kakak Bito juga sudah, maka mari kita pulang insya Allah. Bercakap via telepon pun sebenarnya meninggalkan jejak kehangatan yang melembutkan hati, tetapi percakapan saat duduk bersama ditemani segala jajanan enak dan gelak tawa riuh menawarkan keistimewaan yang tiada tara.
P.S. Bapak saya sepertinya khawatir karena dua hari ini saya sendu, dan saya sejak sore tadi gak ngabarin lagi karena bobok lalu sibuk dengan ini itu, jadinya tadi jam 10 nelpon, mesti ingin memastikan putrinya ini baik-baik saja, gak tau aja si Bapak kalo putrinya sebenarnya sedang menyibuk-nyibukkan diri menjadi tukang lalu sekarang sumringah berbangga diri pada hasil kerjanya haha.
Ahhh my heart is full, almost explodes with warmth.