Masa itu dimulai pada sebuah September, ketika kampus MIT merona merah dalam semangat awal semester musim gugur. Suatu hari dalam susunan awal rumah Lego milik Will yang tinggi.
Ia pasti sudah kenal betul setiap sudut jalan itu, kata Nicolas. Will mudah mengingat, dan ia pengingat yang baik. Ia akan turun dari asrama Baker, dan mengambil Amherst yang lurus membentang ramping di tepi sungai Charles. Musim panas telah usai dan matahari turun lebih cepat, tetapi para mahasiswa masih senang berlama-lama di sepanjang setapak di tepinya. Pepohonan yang berbaris di antara jalan dan tepi sungai telah mengering, daun-daunnya jatuh berserakan di jalan. Poplar, siprus, sycamore--dengan akar yang menjalar hingga ke dalam sungai dan tertutup kabut tipis yang dingin. Harvard akan kembali mengirim tim dayung ke sebuah turnamen internasional di akhir tahun, perahu-perahu mereka melewati barisan pepohonan itu setiap hari. Menyusuri sungai, statis dalam ritme kecepatan sapuan lengan-lengan dayung yang pasti dan suara riak air yang khas setiap menitnya, kian ke hilir.
Will telah hadir di asrama Baker MIT sekian lama sebelum hari itu, jauh sebelum orang-orang mengenalnya.
Ia akan berbelok, melintasi halaman auditorium Kresge dengan atapnya yang melengkung dan berkilau memantulkan langit. Hari itu ia rapi dalam kemeja lengan panjang berwarna abu-abu. Sehelai jas hitam yang terlipat menggantung di tangan kanan, ransel hitam dan pipa Rotring manggantung di bahu kiri. Daun-daun repih di bawah langkahnya, hampir terdengar berirama. Koor latihan rutin mingguan paduan suara mahasiswi jurusan bergema pelan di sepanjang halaman itu, hari itu mereka membawakan sebuah gubahan milik Bob Dylan. Gemanya bergulir halus dan perlahan-lahan menghilang begitu ia mencapai tepi ruas abu-abu Mass. Ave. Will menyeberang, lalu berhenti sejenak dan mengantre di bawah kanopi hijau konter penjual kopi.Â
Laki-laki di belakang konter itu seorang Meksiko, selalu menyapanya dalam bahasa Spanyol yang nyaring, bueños dias, qué té gustaria? Jawab Will, dos Americanos, por favor. Muchas gracias. Setelah itu ia menyampirkan jas hitamnya di lengan, menenteng nampan holder berisi dua cangkir kopi di tangan yang sama, kemudian kembali masuk ke dalam gang-gang kecil yang dingin menuju Great Dome.
Nicolas menantinya di tangga gedung.
Ia membungkuk dengan wajah tersembunyi di balik surat kabar The MIT Tech yang terbuka penuh satu halaman. Enggan mendongak, meski Will tahu bahwa ia tahu bahwa Will sudah di sana. Nicolas sendiri. Tanpa Chiara, tanpa timnya. Will hadir terlalu awal. Namun biar hujan badai sekalipun, Nicolas akan selalu lebih dulu. Demikian, sejak mereka lahir.
âSelalu sampai duluan. Itu koran hari ini?â sapa Will. Ia menjatuhkan ransel di anak tangga, menurunkan pipa dari bahu, mengulurkan satu cangkir kopi sebagai barter dengan surat kabar. Nicolas mengulurkan surat kabar, menggantinya dengan kopi, tetapi yang pertama kali ia buka dengan penuh semangat adalah klep penutup pipa. Ada sekilas rasa bangga yang mengikuti gerak-gerik itu. Will tahu, tak terlalu sulit dibaca.
âItâs not a competition. Udah gue bilang naik shuttle aja. Jangan jalan kaki,â ujar Nicolas, sambil menunjuki kancing kemeja abu-abu Will yang terbuka di bagian dada. âButton up, please.â
Will dengan patuh mengancingi kemejanya. âGue lewat Kresge. Chester mau taruhan lima puluh dolar, paduan suara mahasiswa bakal nyanyi apa buat acara fakultas bulan depan. Dia bilang Nirvana. Gue bilang Radiohead.â
âQueen,â sahut Nicolas.
âNo way,â Will tertawa, memasukkan lengannya satu per satu ke dalam jas hitam yang ia bawa. âMereka sudah bawain Queen tahun lalu, kata Chester. Satu album.â
âIâm game, then. And welcome to the Great Dome, brother.â
Ia berdiri sambil memikul kembali pipa milik Will, dan mereka mendaki sisa anak tangga menuju lobi gedung. âSimbol dan kebanggaan MIT, dibangun mengikuti versi adaptasi Thomas Jefferson dari kuil Pantheon. Arsitek dan insinyurnya juga alumnus kampus ini, tim dipimpin--â
âBosworth,â tukas Will.
Sunyi yang hadir berikutnya hanya sesaat, tetapi menganga cukup lebar dan hanya terisi oleh suara napas mereka ketika keduanya mencapai tepi selasar gedung. Dua pasang kaki itu menyeberang, dan Will masih merasakan tatapan kakaknya sebelum ia berbicara lagi.
âWilliam Welles Bosworth,â lanjutnya, mendengarkan tekanan suaranya sendiri yang sedikit terlalu keras pada nama depan yang akrab itu. âMembangun Great Dome, 1916. Been here before, Nick. Itâs a library.â
Nicolas memalingkan wajah, mengangguk mengerti. âGreat.â
Ia menunggu saat-saat ini selama bertahun-tahun. Untuk berada di dekat Nicolas lagi, merasakan kekuatan yang datang begitu saja dari keberadaannya. Will masih mengingat tahun-tahun terdahulu ketika pengakuan dari Nicolas masih berarti segalanya--tahun-tahun itu terasa belum bergitu jauh. Hari-hari seperti pertama kali ia di sekolah dasar, hari-hari pertama setiap ia memasuki sekolah yang sama dengan Nicolas. Anak-anak lain tak seperti mereka, tak ada yang begitu. Anak-anak lain tak menunggu di muka pintu kelas agar kakak mereka hadir dan mengajak bermain di jeda istirahat. Anak-anak lain tak bermain dengan saudara mereka di sekolah, mereka sudah cukup saling membenci selama di rumah. Nick tak sama. Nick bergegas mencari Will setelah bel pertama usai kelas, memastikan dirinyalah yang pertama ditemui Will begitu pelajaran berakhir.
William aman selama Nicolas ada.
Sisa-sisa kenyamanan masa kecil itu seolah memantul di tiang-tiang tiruan kuil Pantheon yang berjajar di sisi mereka sepanjang selasar gedung. Masih terasa sama, meski belasan tahun telah lewat dan kini tubuhnya bahkan telah tumbuh melewati tinggi tubuh Nicolas. Will menoleh untuk mendapatkan gambaran dirinya, merasakan kemiripan mereka yang membuatnya bangga. Ia membiarkan dirinya sejenak menikmati ketenteraman itu lagi, sebelum sepasang mahasiswi memapasi mereka dan menatap keduanya bergantian.
Will pun menurunkan pandangan, mengangkat surat kabar dan memindai tajuk berita di halaman depan. âAre we not supposed to be seen together?â bisiknya. âTerutama di sini.â
Nicolas menyesap kopi dalam diam. Uap hangat mengaburkan lensa kacamatanya segera. âHanya hari ini. Nggak apa-apa.â
âAh, iya. Kartu akses,â William merogoh saku, dan mengulurkan sekeping persegi plastik mika berwarna biru. Foto Nicolas tercetak di sana, diambil ketika ia seusia Will sekarang. âGue mungkin pulang malam banget.â
âKeep it,â tukas Nick. âGue mungkin nggak pulang.â
Sejumlah mahasiswa mendorong pintu gedung dari dalam, keluar dan memenuhi selasar dalam celotehan ringan sehingga keduanya menyingkir ke tepi. Beberapa di antara mereka mengenal Nicolas. Will mendapati tatapan-tatapan bingung terangkat ke arahnya, yang mengira bahwa dirinyalah yang mereka kenal. Tatapan seperti itu mulai terasa familier. Ia membalikkan punggung, sementara Nicolas telah turun lagi sejauh satu anak tangga.
âNamanya Serkin,â ujar Nick pelan, memandang ke seberang bahu Will dan membalas sapa para mahasiswa dengan anggukan singkat. âBenjamin Serkin. Gue udah cerita tentang lo, heâs probably texting you right now.â
âWait, youâre not coming in?â
Ini akan menjadi yang pertama, setelah begitu lama. Sekilas Will teringat pada tahun terakhirnya di sekolah dasar, ketika ia harus kembali ke tempat yang sama setiap hari tetapi tanpa Nicolas lagi. Bayang-bayang Nick masih akan ada sampai beberapa waktu. Pada dirinya, pada apa-apa di sekitarnya, dan saat itu ia masih sangat kecil.
Selama waktu itu, akan selalu ada saat-saat atau sesuatu yang terjadi yang membuatnya berharap Nick masih bersamanya. Seperti sekarang.
William belum pernah menghadap seorang pun profesor di MIT sebagai dirinya sendiri.
âMasuk aja, Will,â tukas Nick, dan itu kalimatnya yang terakhir.
Ia masih tak tahu untuk apa ia dipanggil menghadap. Nick sudah berbalik, sudah terlihat jauh bahkan sebelum ia menutup pintu kembali, dan kini Will sendiri. Brenda Miller di balik meja pustakawan mengangat alis mata, kacamata turun hingga ke ujung hidungnya. Menunjuki cangkir kopi di tangan Will, ia menegur, you canât take that in. Will mengangguk, memohon maaf. Cangkir kopi kemudian ia tinggalkan di meja Brenda yang kemudian berkata, Nicolas, right?
Meskipun, lorong-lorong itu mulai terasa bersahabat. Will menyukai dominasi warna abu-abu yang melapisi kursi-kursi, dinding, dan rak-rak buku. Aroma kertas tua akan ikut dalam udara tipis yang terhirup olehnya setiap beberapa langkah. Warna-warni punggung buku, tebal-tipis cetakan judul, dan gelombang yang tercipta oleh susunannya tak pernah tak membuat ia menoleh. Di satu ruas, cahaya lebih terang dan sekumpulan mahasiswa sedang berdiskusi mengerumuni satu meja. Uranium dan plutonium hanya berselisih dua elektron tiap satu atom, Wayne. Ya, sahut Will dalam hati, tapi keduanya ada di grup atom yang berbeda, itu sebabnya efeknya terhadap panas juga berbeda. Apa ini tentang reaktor? Ia nyaris ingin menarik satu kursi dan duduk di salah satu sudut, tapi Ben Serkin sudah menunggu. Â
Will ingat Profesor Serkin. Laki-laki itu berada di akhir dekade keempat hidupnya, dengan mata abu-abu kecil dan rambut berwarna keperakan. Kelas Kalkulus, Departemen Matematika, ruang 3-120. Suatu hari di awal Februari lalu, badai salju hebat turun di atas Cambridge sehingga hanya segelintir mahasiswa hadir. Kuliah tetap diadakan. Will hadir, menggantikan Nicolas, dan diam di kursi barisan belakang. Namun dengan kelas yang nyaris kosong, kiranya saat itulah Serkin menyadari ada yang tak sama.
âSaya tidak tahu pasti jumlah volume buku di perpustakaan ini,â ujar Serkin, nyaris mengejutkannya. Ia memergoki kepala Will yang sedang tak henti menoleh menatap barisan judul di punggung buku. âSetidaknya, per awal semester ini. Kau tahu?â
Ia tak sendiri. Tak seperti yang didengar Will dari Nicolas, Ben Serkin bukan satu-satunya yang duduk menunggunya di sana. Will tiba di sebuah meja dalam ruang yang tersekat oleh tiga rak buku. Duduk sejajar di satu sisi meja, tiga orang profesor kampus menunggunya.
Ini menjadi seperti sebuah sidang ujian tugas akhir.
Kecuali, Will hadir tanpa membawa kesiapan apapun. Â
âOh, tidak, Sir,â sahut Will. âTapi dengan sampel satu rak, misalnya yang itu, dan empat tingkat setiap rak dan rata-rata jumlah buku di setiap rak, dikalikan jumlah rak buku, dikalikan lagi jumlah rak di setiap perpustakaan jurusan, dikurangi persentase peluang buku yang hilang atau rusak, sudah bisa jadi algoritma estimasi volume buku di perpustakaan seluruh kampus MIT per semester atau per tahun.â
Usia Will sembilan belas tahun saat itu. Ia masih terlihat sehat dan penuh semangat--kombinasi yang cenderung membuatnya terlihat sedikit berantakan. Rambut ikalnya tak pernah lebih pendek dari ujung bawah telinga, tetapi matanya bersinar. Ia masih memiliki kebiasaan enggan berlama-lama menatap orang lain, tapi ia mengenali siapa yang ada di sisi kiri Serkin. Richard Hammond, salah satu profesor di Teknik Kimia. Will berada di kelasnya beberapa kali. Namun tatapan laki-laki itu asing. Ia tak mengenali Will, mungkin sekali lupa. Sedangkan yang ada di sebelah kiri Serkin, ia tak tahu. Will tak pernah melihatnya sebelum ini.
âStatistika dasar, Matematika kelas sepuluh.â
Will berkata begitu karena tak ada gunanya lagi berbohong. Ia hanya tak tahu apa yang sudah diceritakan Nicolas tentangnya, dan sebanyak apa yang diketahui para profesor ini.
âWilliam, kan?â tanya Serkin.
âHakim. William Hakim.â
âDuduklah, Mr. Hakim,â ujar Hammond.
Will menghadapi setumpuk buku, sehelai surat kabar, dan lembar-lembar kertas yang ditumpuk dan berserakan di antara dirinya dan para profesor itu ketika menarik kursi. Kertas-kertas itu lembar jawaban kuis dan tes mahasiswa. Dari sebuah tumpukan, Ben Serkin menarik satu lembar yang kemudian didorongnya kepada Will. Kertas meluncur menyeberangi meja, Will menahan lajunya dengan ujung jari.
Lembar jawaban kuis itu milik Nicolas, angka sembilan puluh tiga yang ditulis dan dilingkar dengan tinta merah terpampang di sudut kanan atas. Kuis ini diambil bulan Maret, salah satu yang bobotnya sepuluh persen dari nilai akhir. Nilai akhir semester lalu diumumkan pada bulan Juni. Nick seharusnya sudah aman.
Kecuali ketika Will menyadari dan ingat betul, meskipun dipenuhi angka dan bukan huruf-huruf, tulisan tangan di atas kertas itu adalah miliknya. Sepertinya Ben Serkin tahu.
Beberapa tahun sebelum kehadiran Will di kampus itu, pernah ada cerita tentang sindikat mahasiswa yang membocorkan soal ujian. Organisasi yang sistematis, begitu terencana. Nicolas menceritakannya, dan Will mendengarkan cerita itu lagi dari para mahasiswa yang ia kenal di asrama Baker. Ia juga pernah mendengar kisah tentang kumpulan mahasiswa yang menggunakan teori peluang Matematika untuk memenangkan permainan-permainan judi terbesar di Las Vegas, bahkan melibatkan beberapa orang profesor. Ada banyak sudut gelap lain yang sembunyi di balik tembok kampus Ivy League ini. Siapapun yang di sana cukup lama pasti akan menemukan setidaknya satu. Â
Saat ini Will bertanya-tanya untuk perkara inikah dirinya di sini. Perkara seremeh ini. Yang benar saja.
âKuis itu diambil bulan Maret,â ujar Serkin, mengulang kata-kata di dalam kepalanya dan membuat Will semakin yakin akan apa yang terjadi setelah ini. âHari itu Selasa. Saya selalu memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memilih hari lain lain, atau mengambil di kelas yang lain, bila mereka benar-benar tak bisa hadir atau melewatkan hari kuis. Nicolas Hakim tak berkata apa-apa tentang tak bisa hadir di hari itu.â
âAnda ragu Nicolas bisa berhasil dengan nilai ini?â tanya Will lugas, sambil menunjuki muka kertas.
âSaya ragu Nicolas bisa berada di dua tempat di waktu yang sama, William.â
Will melepas kancing jas dan menarik tubuhnya ke punggung kursi, sementara Ben Serkin bergeming menunggu jawaban. Kesunyian yang sejenak di antara mereka terasa mengintimidasi--Will terdorong untuk mulai berbicara di setiap detiknya. Namun ia bisa saja memulai dari arah yang salah. Maka Will memilih menggunakan detik-detik itu untuk memperhatikan Serkin. Rambut keperakan, kulit yang berwarna lebih gelap sisa liburan musim panas. Cincin yang erat melingkar di jemari kiri membuat buku jarinya sedikit menggembung. Cincin itu sudah lama; pernikahannya setia.
âNicolas magang di lab meteorologi Cambridge sejak libur musim dingin.â
Suara Serkin terdengar lebih rendah ketika ia bicara lagi. Tubuhnya tegak, terdorong ke arah meja, seakan hendak mendekati Will. Dua yang lain di kedua sisinya masih diam.
âHari itu hari kerja, Nicolas tak mungkin ada di dua tempat di saat yang sama. Saya senang memperhatikan mahasiswa, Will, dan saya sudah memperhatikanmu. Saya memanggilmu ke sini karena ingin mendengarkan kau menjelaskannya sendiri.â
âApa nilai akhir semester Nicolas akan tetap aman?â
âKau punya penjelasannya, kalau begitu.â
âSaya tidak bilang demikian, Sir.â
âIni bukan tentang nilai akhir Nicolas.â
âKalau begitu ini tentang apa, Profesor Serkin?â
Mereka masih saling tatap dengan keras kepala selama dua-tiga detik, memikirkan jawaban, sebelum akhirnya menarik punggung ke sandaran kursi. Ia berpaling kepada Richard Hammond di sisinya. Bisiknya, go ahead.
Hammond meraih surat kabar di sisi tumpukan kertas. The Tech, pers resmi kampus. Seperti satu edisi yang dibawa Will saat ini. Namun halaman depannya tak sama, itu edisi yang berbeda.
Surat kabar pun menyeberangi meja menyusul hasil kuis Nicolas.
âWilliam, saya sudah mengajar di MIT selama delapan tahun,â ujar Hammond.
Ia masih mengatakan sesuatu selama Will merentangkan halaman, menatap foto-foto, dan tak terlalu menyimak lagi. Will sudah pernah membaca edisi itu, rasanya ia masih menyimpan satu eksemplar di suatu tempat di asrama Baker.
Di halaman itu, ada foto kekacauan di sebuah laboratorium yang membuatnya merasa familier. Foto itu diambil tahun lalu.
âSaya tak dekat dengan Profesor McClusky, tapi kami tak pernah punya masalah,â ujar Hammond ketika Will kembali memperhatikannya. âSaya juga mengajar Chester Winston. Dia pandai, walaupun agak... defensif. Tahun lalu, ada kekacauan di lab kimia profesor McClusky. Ada ledakan di sana. Entahlah itu tungku Bunsen, tabung yang terlalu panas, atau apa. Winston mahasiswa yang sedang bermasalah dengan McClusky. Dia sering bermasalah dengan McClusky, in fact. Jadi dia tersangka utama. Tapi Winston tak ada dimana pun di dekat lab hari itu. Dia terlihat di kelas saya, di kelas profesor Hayes, di ruang makan asrama Baker, di gelanggang olahraga. Tapi tidak di lab. Belum ada yang tahu penyebab ledakan, jadi McClusky, penanggungjawab lab dipanggil dekan dan administrative board kampus.â
âSeolah-olah Winston, seperti Nicolas, berada di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama, kan?â ujar profesor ketiga di ruangan itu.
Ia tak memperkenalkan diri, maka Will mengingat-ingat struktur wajahnya. Tajam, kurus, alisnya tinggi dan rambut yang berminyak. Ia akan mencari tahu tentang orang ini nanti.
âKecuali,â lanjutnya. âMereka punya accomplice. Satu orang lain yang ikut bekerja sama, yang jejak keberadaannya tidak terekam oleh kampus.â
Tuduhan itu hampir tak terasa, meski Will melihatnya datang bersamaan dari tiga pasang mata di seberang meja. Bukan karena tak sepenuhnya benar. Ia juga yakin ketiga profesor ini tak berpikir begitu dangkal. Melainkan, karena Will sungguh-sungguh tak tahu sebanyak yang mereka kira.
Ia tak tahu tentang McClusky. Tidak tentang ia dipanggil dekan, tidak tentang sidang administrative board. Will hanya tahu tentang ledakan lab Kimia, sebab ia kenal Chester.
Will sangat kenal Chester.
Tahun itu, bagiku adalah bagian masa silam dengan keping-keping yang berserakan. Hingga saat ini aku tak berusaha untuk menyusunnya. Tak akan membawa Will kembali, maka kuputuskan untuk memulai dari awal saja. Keping-keping waktu itu kubiarkan porak-poranda seperti sebuah kota usai bencana.
Namun, bagi Will segalanya baru saja dimulai.
Aku menelusuri jejaknya kembali dimulai dari hari ini.