Ramadhan #2: Pertanyaan-pertanyaan sebelum menikah
Tahu kalau harus menikah, dan paham mengapa perlu melakukannya, adalah dua hal yang berbeda. Masih kuat di ingatan kalau target usia 25 bukan bertemu jodoh, tetapi memutuskan untuk menikah dan memutuskan akan menikah dengan orang seperti apa (kriteria).
Kalau justifikasi melanjutkan S2 perlu dipetakan, menikah pun begitu. Proses berpikir hingga seseorang memutuskan siap menikah harus jelas. Kalau pun belum siap, pertanyaan āLalu apa yang membuatmu siap menikah?āāharus bisa kujawab.
Begitu sudah ada target yang jelas dan nggak muluk-muluk, prosesnya jadi lebih terarah. Aku merangkum keragu-raguanku tentang pernikahan menjadi tiga poin.
Sebagai perempuan, menikah membuatku harus taat sama orang yang baru saja kukenal, selama sisa hidupku. Serem abis.
Hidupku hari ini, saat ini, sudah sangat cukup dan memuaskan bagiku. Kenapa aku harus menukar segala kenyamanan ini demi hidup bersama orang lain yang aku belum tahu akan lebih baik atau justru sebaliknya?
Menurutku, pernikahan adalah taruhan yang sangat besar risikonya. Ketidaknyamanan masuk ke keluarga baru, anak, perceraian⦠Apakah ada laki-laki di luar sana yang sangat sangat perlu aku perjuangkan sampai harus mengambil risiko-risiko pernikahan demi hidup bersamanya?
Mengakui bahwa ada pertanyaan seperti ini di kepalaku bukan hal mudah. Bahkan orangtuaku geleng-geleng kepala mendengarnya. Aku jadi ragu apakah ilmu yang selama ini kupelajari bermanfaat, karena sebegitunya aku ragu akan syariat menikah. Di sisi lain, hampir pasti jawaban yang kucari nggak akan muncul kecuali aku jujur kepada diri sendiri tentang keraguan yang mengganggu.
Gelisah sekali rasanya memiliki pertanyaan tanpa jawaban. Ketiga poin tadi nggak bisa terjawab dengan asal-asalan mengikuti kelas pranikah. Apalagi mencontek jawaban pasutri lain berdasarkan kehidupan yang dibagikan di media sosial. Sehingga langkah setelah mengakui rasa ragu adalah memohon pentunjuk-Nya dan sabar mencari jawaban.
Kalaupun butuh satu tahun untuk menjawab satu pertanyaan, aku masih punya waktu. Di tengah kebingungan, ada terselip sedikit perasaan lega karena sudah punya alibi untuk pertanyaan ākapan menikahā.
Aku siap menikah ketika ketiga pertanyaan keraguan ini sudah menemukan jawabannya.